Mahasiswa UNY Angkat Falsafah Jawa Tutur, Uwur, Sembur

PENDIDIKAN karakter berbasis kearifan lokal dinilai sangat penting bagi Generasi Alpha yang tumbuh dan berkembang di era digital.

Hal ini menjadi alasan sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melakukan penelitian yang diharapkan akan memberikan penguatan tata krama berbahasa khususnya Bahasa Jawa bagi generasi yang lahir periode 2010-2024.

Para mahasiswa melakukan penelitian berjudul ‘Eksplorasi Internalisasi Falsafah Tutur, Uwur, Sembur dalam Budaya Sekolah Muhammadiyah untuk Penguatan Tata Krama Berbahasa Generasi Alpha’.

Ketua tim, Nujumul Laily Zahra, menjelaskan riset ini lahir dari keprihatinan terhadap pergeseran tata krama berbahasa pada anak-anak usia sekolah dasar yang kini akrab dengan teknologi.

Kehilangan keteladanan

“Generasi Alpha sangat kreatif, tetapi mereka rentan kehilangan keteladanan dalam berbahasa. Kami ingin menawarkan falsafah Jawa, yaitu Tutur, Uwur, Sembur, sebagai solusi pembentukan karakter melalui budaya sekolah,” ujarnya, Rabu (8/10/25).

Falsafah Tutur, Uwur, Sembur selama ini dikenal dalam budaya Jawa sebagai nasihat orang tua kepada anak. Tutur, katanya berarti bimbingan dan nasihat, Uwur dimaknai sebagai kebijakan yang bermanfaat dan teladan nyata, sedangkan Sembur adalah doa atau harapan baik.

BACA JUGA  Mengolah Kulit Salak Jadi Wedang Herbal Bernilai Ekonomi

Ketiga nilai ini, menurut tim peneliti, dapat diintegrasikan ke dalam budaya sekolah Muhammadiyah yang memang menekankan pendidikan karakter dan sopan santun.

SD Muhammadiyah

Riset dilakukan di tiga Sekolah Dasar Muhammadiyah di Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu SD Muhammadiyah Sapen, SD Muhammadiyah Prambanan, dan SD Muhammadiyah Bodon Kotagede.

“Ketiga sekolah tersebut kami pilih karena memiliki keunggulan masing-masing dalam pendidikan karakter dan pelestarian budaya,” imbuhnya.

Tidak hanya mengkaji fenomena sosial, penelitian ini juga diharapkan menghasilkan strategi praktis untuk guru dan kepala sekolah dalam membangun budaya sekolah yang santun, toleran, dan berakar pada nilai-nilai lokal.

“Peran guru dan kepala sekolah sangat penting. Mereka tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga teladan yang digugu lan ditiru,” jelas Nurani Dwi Astuti, salah satu anggota tim.

Pendekatan etnografi

Riset katana ini menggunakan pendekatan etnografi sehingga tim akan terjun langsung untuk melakukan observasi, wawancara, hingga dokumentasi.

BACA JUGA  Mahasiswa KKN UNY Ajarkan Dasar-dasar Sport Massage

“Kami ingin menangkap praktik nyata penerapan nilai-nilai itu dalam interaksi sehari-hari di sekolah,” jelasnya.

Selain itu, Taqiya Ahsanu Wibowo berperan dalam publikasi konten riset di media sosial agar temuan ini dapat disebarkan secara luas kepada masyarakat.

“Kami ingin anak muda juga tahu bahwa falsafah Jawa masih relevan, bahkan untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini,” katanya.

Safiratul Janah menekankan bahwa riset ini juga memperkuat literasi budaya Jawa di sekolah dasar.

“Bahasa dan budaya Jawa sarat dengan nilai kesantunan yang perlu diwariskan, terutama pada generasi yang lahir di era serba digital,” ungkapnya.

Tata krama

Seorang guru SD Muhammadiyah Prambanan, Taufik, turut memberikan komentar positif terkait riset ini.

“Penelitian ini memang perlu karena saat ini anak-anak itu sering kurang tahu tentang tata krama dan dengan perkembangan internet itu, perlu banget ada dampingan dari orang tua di rumah dan guru di sekolah. Nah, falsafah Tutur, Uwur, Sembur ini perlu dikaji lagi untuk saat ini karena belum banyak yang tahu, padahal maknanya sangat berguna buat sekarang,” ujarnya.

BACA JUGA  Mahasiswa UNY Hadirkan Terobosan Kuliner di Leafestiva 2026

Dengan dukungan dosen pendamping dari UNY, tim ini optimistis dapat berkontribus dalam bidang pendidikan karakter. Hasil penelitian ditargetkan melahirkan laporan ilmiah, artikel, serta publikasi yang bermanfaat bagi dunia pendidikan dasar.

Jadi inspirasi

Para mahasiswa UNY tersebut berharap riset ini bisa menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Indonesia untuk menginternalisasikan kearifan lokal dalam pendidikan karakter. Dengan begitu, Generasi Alpha bisa tumbuh menjadi generasi yang santun, cerdas, dan tetap berakar pada budaya.

Hasil penelitian yang kemudian membawa mereka lolos dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi. (AGT/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Fakultas Peternakan UGM Terima Hibah 5 Unit Traktor Cultivator

FAKULTAS Peternakan (Fapet) UGM, menerima hibah 5 unit traktor cultivator dari CV Karya Hidup Sentosa (Quick Tractor), Kamis. Kelima unit traktor tersebut diserahkan oleh Asisten Kepala Unit Spesial Marketing CV…

Sleman Gelar Puncak Peringatan Hari Anak Nasional di Kompleks Candi Prambanan

RATUSAN siswa dan guru SMP dan MTs di sekitar Candi Prambanan bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) dan InJourney Holding dan Injourney Destination Management…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Forkopimca Adian Koting Selidiki Laporan Temuan Jejak Harimau di Desa Pancurbatu

  • July 23, 2026
Forkopimca Adian Koting Selidiki Laporan Temuan Jejak Harimau di Desa Pancurbatu

Fakultas Peternakan UGM Terima Hibah 5 Unit Traktor Cultivator

  • July 23, 2026
Fakultas Peternakan UGM Terima Hibah 5 Unit Traktor Cultivator

Alasan Kesehatan, Hotman Paris Mundur Jadi Pengacara Febrie

  • July 23, 2026
Alasan Kesehatan, Hotman Paris Mundur Jadi Pengacara Febrie

Tim Peneliti UGM Kembangkan Lulur Mandi dari Garam Pantai Selatan

  • July 23, 2026
Tim Peneliti UGM Kembangkan Lulur Mandi dari Garam Pantai Selatan

Benahi Transportasi Jabar, Gubernur  Evaluasi Angkot Tua

  • July 23, 2026
Benahi Transportasi Jabar, Gubernur  Evaluasi Angkot Tua

Sleman Gelar Puncak Peringatan Hari Anak Nasional di Kompleks Candi Prambanan

  • July 23, 2026
Sleman Gelar Puncak Peringatan Hari Anak Nasional di Kompleks Candi Prambanan