360 PNS DIY Menerima Satyalancana

SRI Sultan Hamengku Buwono X, menyematkan tanda kehormatan Satyalancana Karya Saya Presiden Republik Indonesia kepada 360 PNS atas pengabdian selama 10, 20 dan 30 tahun.

Dalam kesempatan itu Gubernur mengingatkan kesetiaan dalam pengabdian tidak ditentukan oleh lamanya masa kerja. Pengabdian justru diuji dari keteguhan menjaga amanah di tengah perubahan jabatan, zaman, dan tantangan pelayanan.

Atas nama Pemprov DIY, Sri Sultan menyampaikan selamat kepada seluruh penerima Satyalancana Karya Satya. Menurutnya, penghargaan tersebut bukan sekadar tanda atas lamanya masa kerja, tetapi juga pengingat akan kehormatan yang melekat dalam setiap pengabdian.

“Sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun adalah hitungan masa kerja. Tetapi satya tidak dihitung oleh kalender. Satya diuji oleh keteguhan menjaga amanah, ketika jabatan berubah, zaman berganti, dan tantangan pelayanan datang silih berganti,” ujar Sri Sultan.

BACA JUGA  2817 Atlet Ikuti Turnamen Bulu Tangkis Piala Raja Hamengku Buwono X ke-2

Hubungan antara waktu, kesetiaan, dan keteladanan

Sri Sultan mengatakan perjalanan panjang dalam pemerintahan seharusnya menghasilkan pengalaman yang dapat memberi manfaat lebih luas. Dalam konteks tersebut, Satyalancana Karya Satya berbicara tentang hubungan antara waktu, kesetiaan, dan keteladanan.

“Waktu memberikan pengalaman. Kesetiaan memberikan makna. Keteladanan menjadikan keduanya berguna bagi generasi yang melanjutkan pengabdian,” katanya.

Sri Sultan juga mengaitkan pengabdian tersebut dengan nilai laku sepi ing pamrih, rame ing gawe, yakni bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa menjadikan penghargaan sebagai tujuan.

Karena itu, Satyalancana hendaknya menjadi cermin untuk melihat kembali apakah pengalaman panjang telah semakin mematangkan kebijaksanaan, memperhalus rasa pelayanan, dan memperteguh integritas.

AI ubah cara kerja

Di tengah perjalanan pengabdian tersebut, aparatur juga menghadapi perubahan yang berlangsung cepat. Teknologi digital dan kecerdasan artifisial mengubah cara pemerintahan bekerja, sementara tuntutan masyarakat terhadap pelayanan publik semakin tinggi.

BACA JUGA  Sri Sultan Dukung Program Retreat untuk Kepala Daerah

Menurut Sri Sultan, kondisi tersebut menuntut aparatur untuk terus belajar dan beradaptasi. Kesetiaan kepada negara bukan berarti mempertahankan cara-cara lama, tetapi berani berubah demi memperbaiki pelayanan.

“Setia kepada pengabdian tidak berarti setia kepada cara-cara lama. Kesetiaan kepada negara justru menuntut kesediaan untuk terus belajar, keberanian untuk berubah, dan kerendahan hati untuk memperbaiki pelayanan,” tegasnya.

Pengalaman para penerima Satyalancana, lanjut Sri Sultan, tidak cukup berhenti sebagai pengalaman pribadi. ASN senior memiliki tanggung jawab moral untuk mewariskan etos kerja, integritas, dan kebijaksanaan kepada generasi penerus.

“Sebab institusi yang kuat bukan hanya memiliki pegawai yang cakap, tetapi juga memiliki mata rantai keteladanan yang tidak terputus,” ujar Sri Sultan.

BACA JUGA  Pemprov DIY Berkomitmen Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Jiwa

Simbol dari perjalanan pengabdian

Tanda kehormatan yang disematkan di dada merupakan simbol dari perjalanan pengabdian. Kehormatan yang sesungguhnya tumbuh dari kepercayaan masyarakat yang dibangun melalui kerja dan sikap dalam menjalankan tugas.

Sultan berharap penghargaan tersebut menjadi peneguh bagi para penerima untuk meneruskan pengabdian sekaligus mewariskan keteladanan kepada generasi berikutnya.

“Pada akhirnya, tanda kehormatan dapat disematkan di dada, tetapi kehormatan yang sesungguhnya hanya dapat disematkan oleh masyarakat, melalui kepercayaan,” kata Sri Sultan. (AGT/M-01)

Related Posts

Wisatawan Candi Borobudur Bisa Netralkan Jejak Karbon Lewat Tiket

MULAI hari ini, pengunjung Candi Borobudur bisa memilih untuk menetralkan emisi karbon dari perjalanannya, cukup dengan satu pilihan tambahan saat membeli tiket masuk. Pilihan itu dihadirkan melalui Inisiatif Strategis Dekarbonisasi…

Bawa Suara Petani, Film Dokumenter Karya Mahasiswa UGM Tembus Semifinal Inspiring Asia

FILM dokumenter pendek berjudul “The Candles From The Edge” yang disutradarai oleh Aru Dewangga, mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Juarai FIFA ASEAN Cup 2026, Timnas Indonesia Akhiri Penantian Panjang

  • October 6, 2026
Juarai FIFA ASEAN Cup 2026, Timnas Indonesia Akhiri Penantian Panjang

Mahasiswa RPL Unisa Raih Predikat Terbaik Uji Kompetensi Keperawatan

  • October 5, 2026
Mahasiswa RPL Unisa Raih Predikat Terbaik Uji Kompetensi Keperawatan

Wisatawan Candi Borobudur Bisa Netralkan Jejak Karbon Lewat Tiket

  • October 5, 2026
Wisatawan Candi Borobudur Bisa Netralkan Jejak Karbon Lewat Tiket

PSI Cianjur Bidik Enam Kursi DPRD pada Pileg 2029

  • October 5, 2026
PSI Cianjur Bidik Enam Kursi DPRD pada Pileg 2029

Bawa Suara Petani, Film Dokumenter Karya Mahasiswa UGM Tembus Semifinal Inspiring Asia

  • October 5, 2026
Bawa Suara Petani, Film Dokumenter Karya Mahasiswa UGM Tembus Semifinal Inspiring Asia

Bantu Mahasiswa UTS, Fapet UGM Bagikan 2.577 Butir Telur Rebus Gratis

  • October 5, 2026
Bantu Mahasiswa UTS,  Fapet UGM Bagikan 2.577 Butir Telur Rebus Gratis