Perlu Perhatian Serius dalam Konservasi Komodo

KEHIDUPAN komodo di Nusa Tenggara Timur kini berstatus endangered menurut IUCN sejak 2021 dan masuk pada Appendix I CITES. Artinya hewan yang dilindungi populasinya itu kini terancam punah.

Diperkirakan jumlahnya hanya sekitar 3.300 ekor di dunia. Dengan kondisi itu keberadaan komodo perlu perhatian serius, baik dari peneliti, pemerintah, masyarakat, juga generasi muda.

Adalah drh. Aji Winarso, M.Si., mahasiswa jenjang doktoral Fakultas Kedokteran Hewan UGM, yang tengah meneliti hewan ini mengatakan ancaman terhadap komodo datang dari berbagai faktor.

Beragam faktor

Selain aktivitas manusia yang mengancam, beberapa faktor ancaman lain juga meliputi kerusakan habitat, fragmentasi, inbreeding atau kawin sedarah, kompetisi pakan dengan manusia, perubahan iklim, perdagangan ilegal, hingga penyakit zoonotik menjadi masalah yang saling berkaitan.

“Konservasi yang baik justru sebisa mungkin meminimalkan kontak antara satwa liar dengan manusia. Kenapa disebut satwa liar? Karena harus dilepasliarkan,” ujarnya, Sabtu (20/9) di kampus UGM.

BACA JUGA  UGM Temu Bisnis 40 Perusahaan untuk Hilirisasi Produk Inovasi

Parasit

Guru Besar Parasitologi sekaligus pengamat satwa liar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, yang pernah meneliti soal penyakit parasit pada komodo menambahkan penyakit parasit, cacingan, hingga infeksi dari manusia bisa mempengaruhi populasi komodo.

“Publikasi tentang satwa langka sangat diminati di jurnal internasional, tetapi di Indonesia riset seperti ini masih sedikit mendapat perhatian, terutama karena minimnya pendanaan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof. Wisnu menyinggung konsep ‘one health one welfare’ yang seharusnya menjadi kunci dalam upaya menjaga pelestarian komodo. Menurutnya memperkuat kesehatan manusia, satwa, dan lingkungan menjadi kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Keseimbangan ekosistem

Namun eksploitasi alam untuk pariwisata berlebihan, jejak sampah plastik, hingga potensi penularan penyakit dari manusia ke hewan bisa mengganggu keseimbangan ekosistem.

BACA JUGA  Korupsi Kepala Daerah Marak, UGM Soroti Mahalnya Biaya Politik

Sebab, jika lingkungan tercemar, mangsa komodo seperti rusa atau kerbau pun terancam, dan berdampak pada rantai hidup komodo yang terganggu.

“Kalau manusia mau sehat, komodo juga harus sehat, lingkungannya pun harus sehat,” tegas Prof. Wisnu.

Kearifan lokal

Dokter Aji menyampaikan bahwa konservasi tidak bisa dipisahkan dari masyarakat lokal. Ia menyebutkan tentang etno-konservasi di Pulau Komodo, yang memandang komodo sebagai “saudara sepupu” manusia, sehingga tidak ada pilihan selain ikut menjaganya meski seringkali komodo memburu ternak masyarakat.

Etno-konservasi bisa menjadi prinsip untuk mencegah perilaku ekstraktif manusia yang memanfaatkan alam sebagai mata pencaharian.

“Selain itu, edukasi dan pemberdayaan pun menjadi strategi penting agar konservasi bisa selaras dengan kesejahteraan manusia,” ujarnya.

Generasi muda

Meski demikian, tantangan terbesar juga ada pada perhatian generasi muda. Wisnu mengingatkan bahwa komodo adalah simbol kebanggaan Indonesia yang otentik, seperti harimau, gajah, orang utan, serta berbagai satwa endemik lainnya.

BACA JUGA  UGM Klarifikasi Pernyataan Sofian Effendi Soal Ijazah Jokowi

Apabila populasinya dibiarkan terus berkurang, tidak menutup kemungkinan komodo berakhir sama seperti dinosaurus, sebatas terekam pada buku sejarah yang tidak terurus.

Oleh karena itu, perlu riset, kebijakan, hingga kampanye yang lebih intensif untuk menyorot eksistensi komodo sebagai satwa endemik Indonesia, terlepas dari keuntungan yang bisa didapatkan.

“Konservasi komodo bukan sekedar penyelamatan satu spesies langka, tetapi juga upaya menjaga keseimbangan ekosistem, kesehatan manusia, dan identitas bangsa. Di tangan generasi sekarang dan yang akan datang, masa depan “naga purba” Indonesia ini dipertaruhkan,” jelasnya. (AGT/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Awal Musim Penghujan di DIY Diprediksi pada Dasarian III November

KEPALA Stsiun Klimatologi Yogyakarta Mamenun, mengungkapkan awal musim hujan 2026/2027 diprediksi terjadi pada dasarian III November 2026 sebanyak 2 ZOM (25%), dasarian Desember I 2026 sebanyak 3 ZOM (37.5%), dan…

SD Antawirya Sidoarjo Pecahkan Rekor MURI Penulisan Aksara Jawa

SEKOLAH Dasar Antawirya Islamic Javanese School yang berlokasi di Desa Junwangi, Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo menggelar aksi penulisan aksara Jawa massal di atas kain sepanjang 600 meter pada Minggu (11/10).…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Bezzecchi Pimpin Dominasi Aprilia di Sirkuit Mandalika

  • October 12, 2026
Bezzecchi  Pimpin Dominasi Aprilia di Sirkuit Mandalika

Gunduli Singapura, Indonesia Segel Tket ke Piala Asia Putri U-17

  • October 12, 2026
Gunduli Singapura, Indonesia Segel Tket ke Piala Asia Putri U-17

Borneo Terjungkal di Tangan Java United, PSS Gasak PSM

  • October 12, 2026
Borneo Terjungkal di Tangan Java United, PSS Gasak PSM

Bantu Kembangkan Sepak Bola Indonesia, Sergio Van Dijk dkk dirikan Neo Gen Academy

  • October 11, 2026
Bantu Kembangkan Sepak Bola Indonesia, Sergio Van Dijk dkk dirikan Neo Gen Academy

Persib Bangkit, Paksa Dewa United Berbagi Poin

  • October 11, 2026
Persib Bangkit, Paksa Dewa United Berbagi Poin

Awal Musim Penghujan di DIY Diprediksi pada Dasarian III November

  • October 11, 2026
Awal Musim Penghujan di DIY Diprediksi pada Dasarian III November