Bermain Bebas, Resep Rahasia Anak Sehat dan Bahagia

PANDUAN parenting biasanya berfokus pada tahapan tumbuh kembang, cara mengelola emosi besar anak, hingga tips keselamatan. Namun, ada satu aspek penting yang kerap terabaikan: bermain bebas tanpa struktur (unstructured play).

Psikolog menilai ini kesalahan besar. Sejumlah riset menunjukkan bermain bebas—aktivitas bermain yang tidak diatur atau diarahkan orang dewasa, tidak memiliki tujuan khusus, serta tanpa hasil yang sudah ditentukan—sangat penting bagi tumbuh kembang anak, baik secara fisik, emosional, mental, maupun sosial.

Aktivitas fisik seperti bermain ayunan atau kejar-kejaran membantu tubuh anak lebih sehat, meningkatkan energi, sekaligus menurunkan stres dan kecemasan. Permainan penuh tantangan, seperti melompat dari ketinggian tertentu, melatih kemampuan mengambil keputusan, mengukur risiko, dan mengelola emosi.

Bermain interaktif bersama saudara atau orang tua mengajarkan empati, berbagi, kerja sama, dan keterampilan sosial lain, sekaligus memperkuat rasa keterhubungan. Sementara permainan kreatif, seperti menggambar, membangun benteng dari bantal, hingga bermain peran, membantu anak memahami dunia di sekitarnya.

BACA JUGA  Tiga Permasalahan Psikologis yang Dihadapi Korban Bencana

“Bermain adalah katalis penting untuk meredakan stres,” ujar Lauren McNamara, PhD, psikolog pendidikan sekaligus pendiri Recess Project Canada. “Terlibat dalam permainan bebas bersama anak dapat menjadi momen penting keluarga untuk tetap terhubung dan merasa aman secara emosional.”

Tips Psikolog: Mendukung Bermain Bebas Anak

Beberapa rekomendasi pakar bagi orang tua antara lain:

1. Luangkan waktu bermain bersama anak
Meski sibuk, orang tua sebaiknya menyisihkan waktu. “Interaksi bermain orang tua–anak sangat penting untuk memperkuat ikatan, yang pada gilirannya membangun resiliensi anak,” jelas Timothy Davis, PhD, psikolog sekaligus pengajar di Harvard Medical School.

2. Biarkan anak memimpin permainan
Orang tua tidak perlu mengontrol aktivitas bermain. “Kalau anak menjadikan mainan kompor sebagai drum, biarkan saja. Itu bentuk kreativitas,” kata Natasha Cabrera, PhD, profesor di University of Maryland. Orang tua cukup memberi dukungan atau ide tambahan, tanpa merampas otonomi anak.

BACA JUGA  Mengapa Media Sosial Bikin Kita Tidak Percaya Diri

3. Dorong permainan imajinatif
Tidak seperti board game yang punya aturan baku, pretend play memungkinkan anak menciptakan cerita dan aturan sendiri. Menurut Sandra Russ, PhD, profesor psikologi di Case Western Reserve University, permainan ini penting untuk mengasah kreativitas dan imajinasi. “Tidak perlu mainan mahal. Bantal bisa jadi benteng, panci bisa jadi drum, ranting bisa jadi pedang,” ujarnya.

4. Fasilitasi interaksi dengan teman sebaya
Di era digital, anak memang sering dialihkan dengan gawai. Namun Davis menyarankan orang tua tetap menghadirkan interaksi sosial, baik lewat playdate virtual maupun tatap muka. Anak bisa saling menunjukkan karya Lego, menggambar bersama, atau menceritakan cerita kepada kakek-nenek via video call.

5. Ajak anak bermain di luar rumah
Waktu di luar ruangan harus jadi prioritas. Dari permainan sederhana seperti petak umpet, lompat tali, hingga bersepeda, aktivitas ini tak hanya menyehatkan tetapi juga memberi ruang kreativitas. Kapur warna, cat yang mudah dibersihkan, atau tali bisa diubah jadi lintasan rintangan dan karya seni jalanan.

BACA JUGA  Apa Itu Daddy Issues? Kenali Tanda dan Penyebabnya

6. Selipkan unsur bermain dalam aktivitas sehari-hari
Orang tua bisa membuat kegiatan rumah tangga jadi lebih menyenangkan. Misalnya, memasak sambil berkreasi dengan bentuk pancake, memberi warna pada makanan, atau menjadikan kebun rumah sebagai “farm” imajinatif. “Anak merasa berkontribusi sekaligus belajar keterampilan baru seperti matematika dan kerja sama,” jelas Robyn Holmes, PhD, profesor psikologi di Monmouth University.

Bermain Bebas, Bukan Sekadar Hiburan

Psikolog sepakat: bermain bebas adalah kebutuhan dasar, bukan pelengkap. Dari kesehatan fisik hingga keterampilan sosial, bermain menjadi ruang belajar alami bagi anak untuk tumbuh tangguh, kreatif, dan percaya diri. (apa.org /S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Mengenal Lalat Capung, Serangga Bersayap Tertua di Bumi

Bentunya mirip capung, tapi jenis serangga ini memiliki karakteristk berbeda terutama dalam hal cara terbang. Lalat capung, demikian serangga ini sering disebut, dapat bergerak vertikal, berbalik, dan melayang kembali ke…

Sejumlah Pohon di Sleman Bertumbangan akibat Hujan Deras

KEPALA Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Haris Martapa membenarkan hujan deras yang disertai angin kencang pada Rabu sore menyebabkan sejumlah pohon tumbang. Dikatakan Haris, di Niten, Nogotirto, Gamping, Sleman akibat hujan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Marc Klok Bertekad Bawa Persib Menangi Laga Kontra Bhayangkara FC

  • April 30, 2026
Marc Klok Bertekad Bawa Persib Menangi Laga Kontra Bhayangkara FC

Mengenal Lalat Capung, Serangga Bersayap Tertua di Bumi

  • April 30, 2026
Mengenal Lalat Capung, Serangga Bersayap Tertua di Bumi

Imbangi Atletico di Madrid, Arsenal di Atas Angin

  • April 30, 2026
Imbangi Atletico di Madrid, Arsenal di Atas Angin

Bekuk Persik Kediri, Borneo Rebut Posisi Puncak

  • April 29, 2026
Bekuk Persik Kediri, Borneo Rebut Posisi Puncak

Sejumlah Pohon di Sleman Bertumbangan akibat Hujan Deras

  • April 29, 2026
Sejumlah Pohon di Sleman Bertumbangan akibat Hujan Deras

Gubernur Jabar Bakal Tindak Ormas Penguasa Perlintasan Kereta

  • April 29, 2026
Gubernur Jabar Bakal Tindak Ormas Penguasa Perlintasan Kereta