Pakar UGM: Tidak Semua Kelelahan Itu Burnout

MENJELANG akhir tahun, isu kelelahan mental, fisik, dan emosional atau yang kerap disebut burnout kembali mencuat di kalangan pekerja dan mahasiswa. Tekanan target kerja, penutupan buku, hingga evaluasi akademik kerap memicu kelelahan psikologis.

Namun, pakar Psikologi Industri dan Organisasi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Sumaryono, M.Si., mengingatkan bahwa tidak semua kelelahan psikologis dapat langsung disebut burnout. Menurutnya, penting untuk memahami perbedaan antara stres, burnout, dan depresi agar penanganannya tepat.

“Yang sering terjadi sebenarnya adalah stres, bukan burnout. Burnout itu kondisinya lebih berat karena mencakup kelelahan fisik, emosional, dan mental secara bersamaan,” ujar Sumaryono, Rabu (24/12) dikutip dari laman UGM.

Pria yang akrab disapa Maryono ini menjelaskan, menjelang akhir tahun pekerja memang menghadapi tekanan tinggi akibat tenggat waktu dan target kinerja. Sementara mahasiswa, menurutnya, umumnya masih berada dalam beban akademik yang relatif normal sehingga lebih tepat dikategorikan mengalami stres.

BACA JUGA  Kasus Flu Naik 55 Persen, Ahli UGM Ingatkan Potensi Varian Baru

Ia juga menyoroti penggunaan istilah burnout yang kerap tidak tepat, terutama di kalangan anak muda. Sedikit tekanan sering kali langsung dilabeli burnout, padahal secara psikologis burnout ditandai oleh rasa tidak berdaya yang mendalam.

“Kalau hanya sakit kepala atau pusing, itu masih stres. Burnout itu benar-benar merasa tidak mampu dan mengalami kelelahan berat untuk menjalani aktivitas,” jelasnya.

Gen Z rentan stres

Adapun depresi, lanjut Sumaryono, sudah masuk ranah klinis dan memerlukan penanganan profesional yang lebih serius. Terkait anggapan bahwa Generasi Milenial dan Generasi Z lebih rentan mengalami burnout, ia menilai perbedaannya terletak pada tingkat resiliensi.

“Perbedaan generasi lebih pada pengalaman menghadapi tekanan dan bagaimana mereka belajar coping atau mengelola stres. Bukan berarti generasi sebelumnya tidak mengalami tekanan,” ujarnya.

BACA JUGA  Fakultas Farmasi UGM Terima Bantuan HPLC dari Nacalai Tesque Jepang

Dalam dunia kerja dan akademik, persepsi terhadap tuntutan karier dan produktivitas sangat memengaruhi tingkat stres seseorang.

Menurut Sumaryono, stres dapat menjadi adaptif ketika individu menemukan makna dalam pekerjaannya. Karena itu, peran mentor, baik dosen pembimbing akademik maupun atasan, sangat penting dalam mendampingi anak muda melalui pendekatan coaching dan komunikasi terbuka.

“Pendampingan ini penting agar tekanan tidak berkembang menjadi stres berkepanjangan dan berpotensi menjadi burnout,” katanya.

Sebagai langkah pencegahan, Sumaryono membagikan strategi realistis melalui metode CHANGE. Metode ini mencakup Challenge (melihat hidup sebagai tantangan), Hope (menjaga harapan), Adaptation (mengelola stres dan menetapkan prioritas), Network (membangun jejaring dan meminta masukan dari mentor), hingga Growth dan Excellence sebagai tujuan pengembangan diri.

BACA JUGA  Pakar UGM: Perubahan Iklim Picu Banjir dan Longsor

Ia menegaskan, stres tidak boleh diremehkan, namun juga tidak perlu dibesar-besarkan. Dengan pemahaman yang tepat, stres justru dapat menjadi energi pendorong untuk tetap produktif dan berkembang. (*/S-01)

 

 

Siswantini Suryandari

Related Posts

Mengenal Lalat Capung, Serangga Bersayap Tertua di Bumi

Bentunya mirip capung, tapi jenis serangga ini memiliki karakteristk berbeda terutama dalam hal cara terbang. Lalat capung, demikian serangga ini sering disebut, dapat bergerak vertikal, berbalik, dan melayang kembali ke…

UGM Gandeng Biofarma dan Sinovac Buat Vaksin

UNIVERSITAS Gadjah Mada menandatangani dua piagam Nota Kesepahaman Bersama dengan PT Bio Farma (Persero) dan Sinovac Holding Group Co. Ltd. di Ruang Tamu Rektor UGM, Selasa (21/4). Kesepakatan ketiga lembaga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Marc Klok Bertekad Bawa Persib Menangi Laga Kontra Bhayangkara FC

  • April 30, 2026
Marc Klok Bertekad Bawa Persib Menangi Laga Kontra Bhayangkara FC

Mengenal Lalat Capung, Serangga Bersayap Tertua di Bumi

  • April 30, 2026
Mengenal Lalat Capung, Serangga Bersayap Tertua di Bumi

Imbangi Atletico di Madrid, Arsenal di Atas Angin

  • April 30, 2026
Imbangi Atletico di Madrid, Arsenal di Atas Angin

Bekuk Persik Kediri, Borneo Rebut Posisi Puncak

  • April 29, 2026
Bekuk Persik Kediri, Borneo Rebut Posisi Puncak

Sejumlah Pohon di Sleman Bertumbangan akibat Hujan Deras

  • April 29, 2026
Sejumlah Pohon di Sleman Bertumbangan akibat Hujan Deras

Gubernur Jabar Bakal Tindak Ormas Penguasa Perlintasan Kereta

  • April 29, 2026
Gubernur Jabar Bakal Tindak Ormas Penguasa Perlintasan Kereta