PDA di Media Sosial dan Dampaknya bagi Keluarga

MEDIA sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan keluarga. Di dalamnya, berbagai bentuk interaksi terjadi, termasuk Public Display of Affection (PDA) atau ekspresi kasih sayang yang ditampilkan secara terbuka. Jika dahulu PDA identik dengan perilaku di ruang publik, kini media sosial menjadi ruang baru untuk menampilkan kedekatan emosional, khususnya antar pasangan.

Bagi keluarga, fenomena PDA di media sosial tidak hanya soal ekspresi cinta, tetapi juga berkaitan dengan pendidikan nilai, keteladanan, dan kesehatan psikologis anggota keluarga, terutama anak-anak.

Apa Itu PDA di Media Sosial?

PDA di media sosial merujuk pada unggahan foto, video, atau tulisan yang menunjukkan kemesraan pasangan secara terbuka. Bentuknya beragam, mulai dari foto bersama, ucapan sayang, hingga konten yang sangat personal. Konten semacam ini dapat dengan mudah diakses oleh berbagai kalangan usia, termasuk anak-anak.

Dampaknya bagi Anak dan Keluarga

Dalam konteks keluarga, PDA di media sosial dapat memberikan dampak yang berbeda-beda. Di satu sisi, ekspresi kasih sayang yang wajar dapat menjadi contoh positif tentang hubungan yang hangat, saling menghormati, dan penuh perhatian. Anak dapat belajar bahwa cinta diekspresikan melalui sikap lembut, saling mendukung, dan komunikasi yang baik.

BACA JUGA  Mengapa Media Sosial Bikin Kita Tidak Percaya Diri

Namun, jika PDA ditampilkan secara berlebihan, anak berpotensi mengalami kebingungan nilai. Anak yang belum memiliki pemahaman emosional yang matang bisa meniru apa yang dilihat tanpa memahami konteks. Selain itu, paparan konten romantis yang tidak sesuai usia dapat memengaruhi perkembangan emosi dan persepsi mereka tentang hubungan.

Tantangan bagi Orang Tua

Bagi orang tua, PDA di media sosial menghadirkan tantangan baru dalam pengasuhan digital. Anak-anak kini tidak hanya belajar dari lingkungan rumah, tetapi juga dari layar gawai. Tanpa pendampingan, mereka dapat menyerap standar hubungan yang tidak realistis atau terlalu menekankan aspek penampilan dibandingkan makna kebersamaan dan tanggung jawab.

Media sosial juga sering menampilkan hubungan yang tampak sempurna. Hal ini dapat memicu perbandingan sosial, baik pada anak maupun orang dewasa, yang berujung pada rasa tidak puas atau tekanan emosional dalam keluarga.

BACA JUGA  Poshbloc CMS Platform Media Hadir Untuk Literasi Berkualtas

Menanamkan Literasi Digital dalam Keluarga

Keluarga memiliki peran penting dalam membangun literasi digital. Orang tua perlu menjelaskan kepada anak bahwa tidak semua yang ditampilkan di media sosial mencerminkan kenyataan. Unggahan mesra bukan ukuran kebahagiaan sebuah keluarga.

Diskusi terbuka tentang apa yang pantas dibagikan dan dikonsumsi menjadi langkah penting. Anak perlu diajarkan batasan antara ruang pribadi dan ruang publik, serta pentingnya menjaga privasi dan rasa hormat terhadap orang lain.

Menjadi Teladan di Ruang Digital

Orang tua juga perlu menjadi teladan dalam bermedia sosial. Cara orang tua mengekspresikan diri, termasuk dalam menunjukkan kasih sayang, akan menjadi contoh nyata bagi anak. Menunjukkan kehangatan secara sederhana dan santun jauh lebih bermakna dibandingkan pamer kemesraan yang berlebihan.

BACA JUGA  Tri Dorong Kreativitas Siswa Lewat Program Generasi Happy

Ekspresi cinta yang sehat dalam keluarga sejatinya lebih banyak tercermin dalam kehidupan sehari-hari: perhatian, komunikasi, dan kehadiran emosional, bukan sekadar unggahan di media sosial.

Kesimpulan

Public Display of Affection di media sosial adalah fenomena yang tidak dapat dihindari di era digital. Bagi keluarga, yang terpenting bukan melarang atau membebaskan sepenuhnya, melainkan menempatkan ekspresi kasih sayang secara bijak. Dengan pendampingan orang tua, literasi digital yang baik, dan keteladanan yang positif, media sosial dapat menjadi ruang yang aman dan mendukung tumbuh kembang keluarga yang sehat. (S-01)

 

Penulis : Siswantini Suryandari

 

 

Siswantini Suryandari

Related Posts

Perlu Reorientasi Pendidikan agar Dunia Kerja Bisa Serap para Lulusan

GURU Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Dr. R. Agus Sartono, M.B.A., menyampaikan melalui momentum putusan Mahkamah Konstitusi terkait anggaran fungsi pendidikan perlu dimanfaatkan untuk…

Prof. Amin Abdullah: Pancasila Harus Hadir Sebagai Etika Keilmuan

GURU Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Dr. M. Amin Abdullah menegaskan pendidikan Pancasila dituntut bertransformasi dan tidak lagi cukup diajarkan sebagai mata kuliah yang berorientasi hafalan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Lewat Sidik Jari

  • August 15, 2026
Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Lewat Sidik Jari

Pemerintah Kirim 50 ribu Paket Sembako untuk Korban Gempa NTT

  • August 15, 2026
Pemerintah Kirim 50 ribu Paket Sembako untuk Korban Gempa NTT

Korban Meninggal Dunia akibat Gempa M 7,7 di NTT Terus Bertambah

  • August 15, 2026
Korban Meninggal Dunia akibat Gempa M 7,7 di NTT Terus Bertambah

Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Gangguan Kegiatan Keagamaan di GMS Bantul

  • August 15, 2026
Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Gangguan Kegiatan Keagamaan di GMS Bantul

Gunung Merapi Alami 1.205 Gempa dan 98 Awan Panas Guguran

  • August 15, 2026
Gunung Merapi Alami 1.205 Gempa dan 98 Awan Panas Guguran

Bupati Ponorogo Nonaktif Sugiri Sancoko Divonis 6,5 Tahun Penjara

  • August 15, 2026
Bupati Ponorogo Nonaktif Sugiri Sancoko Divonis 6,5 Tahun Penjara