KAI Logistik Catat Pertumbuhan Angkutan Reefer Berbasis KA Lebih dari 30%

PT KAI Logistik (Kalog) terus memperkuat perannya dalam mendukung rantai pasok berpendingin (cold chain) nasional melalui layanan angkutan reefer berbasis kereta api (KA).

Hingga Mei 2026, BUMN logistik itu berhasil mengangkut sekitar 9.352 teus komoditas berpendingin, meningkat 39% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pencapaian tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan industri terhadap sistem logistik yang mampu menjaga kualitas, keamanan, dan kesegaran produk selama proses distribusi.

Melalui layanan reefer container, perseroan mendukung distribusi berbagai komoditas yang memerlukan pengendalian suhu, mulai dari produk pangan segar dan olahan, hasil perikanan, hingga produk farmasi yang sensitif terhadap perubahan temperatur.

Solusi logistik

VP of Commercial KAI Logistik, Ferdian Pardosi menjelaskan, bahwa pertumbuhan volume angkutan reefer menunjukkan semakin tingginya kepercayaan pelanggan terhadap moda kereta api sebagai solusi logistik cold chain yang andal, efisien, dan berkelanjutan.

“Cold chain merupakan salah satu elemen penting dalam menjaga kualitas produk hingga sampai ke tangan konsumen. Pertumbuhan angkutan reefer yang kami catat hingga Mei 2026 menjadi indikator bahwa kebutuhan akan layanan logistik berpendingin terus meningkat seiring berkembangnya industri pangan, perikanan, hingga farmasi di Indonesia,” ungkapnya.

BACA JUGA  KAI Logistik Ikut Garap Pengeceran Balas untuk Jaga Keandalan Jalur Rel 

Menurut Ferdian, sejalan dengan pertumbuhan kinerja angkutan reefer Kalog, prospek industri cold chain nasional juga menunjukkan potensi yang menjanjikan. Indonesia Cold Chain Logistics Market diperkirakan tumbuh dari USD 7,19 miliar pada 2025 menjadi USD 7,51 miliar pada 2026, dan mencapai USD 9,24 miliar pada 2031, dengan CAGR 4,23% sepanjang periode 2026–2031.

Buka peluang

Proyeksi tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan rantai pasok berpendingin di berbagai sektor strategis, mulai dari pangan, perikanan, agribisnis, hingga farmasi.

Kondisi ini membuka peluang bagi pengembangan layanan logistik berbasis kereta api yang mampu menghadirkan distribusi berpendingin yang lebih andal, efisien, dan berkelanjutan.

“Di sisi lain, pengembangan cold chain masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur cold storage di berbagai wilayah, biaya operasional yang relatif tinggi, kebutuhan pasokan energi yang stabil, hingga kompleksitas pengelolaan suhu selama proses distribusi.”

BACA JUGA  Terminal Ronggowarsito Jadi Pusat Logistik Terintegrasi

“Sebagai negara tropis dan kepulauan, menjaga integritas suhu produk dari titik produksi hingga konsumen menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak dalam rantai pasok,” tandasnya.

Tawarkan keunggulan

Dalam konteks tersebut, sebut Ferdian, moda KA menawarkan keunggulan berupa kapasitas angkut yang besar, jadwal operasional yang terukur, serta efisiensi distribusi jarak menengah hingga jauh.

Pemanfaatan reefer container pada jaringan kereta api juga membantu menjaga stabilitas suhu produk selama perjalanan sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi dibandingkan distribusi berbasis jalan raya.

Perseroan tidak hanya menghadirkan layanan transportasi berpendingin, tetapi juga membangun ekosistem pendukung yang memastikan keberlangsungan rantai dingin secara menyeluruh.

“Melalui penyediaan fasilitas plug in reefer container di terminal-terminal operasional, kami memastikan unit kontainer berpendingin tetap memperoleh suplai daya listrik selama berada di area terminal.”

BACA JUGA  Difablepreneur KAI Logistik Menangi Indonesia CSR Awards 2025.

“Dukungan infrastruktur tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas, kesegaran, dan keamanan komoditas yang diangkut, sekaligus memberikan keandalan layanan bagi pelanggan yang bergerak di sektor pangan, perikanan, maupun produk sensitif suhu lainnya,” imbuhnya.

Layanan terintegrasi

Ke depan tambah Ferdian, pihaknya akan terus mengembangkan layanan cold chain terintegrasi, guna menjawab kebutuhan industri yang semakin berkembang.

Perseroan optimistis bahwa penguatan ekosistem logistik berpendingin tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar domestik maupun global. (zahra/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

GIIAS Semarang Beri Insentif BBNKB 10 Persen untuk Pembelian Mobil Baru

PEMPROV Jawa Tengah memberikan insentif pengurangan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) sebesar 10 persen bagi masyarakat yang membeli atau memesan kendaraan baru di GIIAS Semarang 2026. Insentif tersebut berlaku…

DIY Alami Inflasi 0,26 Persen pada September 2026

BADAN Pust Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat secara month to month (m-to-m), pada September 2026, Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami inflasi sebesar 0,26 persen. Sementara itu, inflasi secara year-on-year (y-on-y) tercatat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Dramatis! Timnas Indonesia Lolos ke final FIFA ASEAN Cup 2026 usai Bantai Bangladesh 9-2

  • October 1, 2026
Dramatis! Timnas Indonesia Lolos ke final FIFA ASEAN Cup 2026 usai Bantai Bangladesh 9-2

Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Supermarket Bahan Bangunan Transhome

  • October 1, 2026
Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Supermarket Bahan Bangunan Transhome

Prof. Ridho Terpilih Sebagai Rektor UPN Veteran Yogyakarta

  • October 1, 2026
Prof. Ridho Terpilih Sebagai Rektor UPN Veteran Yogyakarta

Kasus Super Flu di Sidoarjo Melonjak, RSU Assakinah Kewalahan

  • October 1, 2026
Kasus Super Flu di Sidoarjo Melonjak, RSU Assakinah Kewalahan

GIIAS Semarang Beri Insentif BBNKB 10 Persen untuk Pembelian Mobil Baru

  • October 1, 2026
GIIAS Semarang Beri Insentif BBNKB 10 Persen untuk Pembelian Mobil Baru

DIY Alami Inflasi 0,26 Persen pada September 2026

  • October 1, 2026
DIY Alami Inflasi 0,26 Persen pada September 2026