Ironi Pola Makan tidak Sehat Masyarakat Indonesia

DI TENGAH berbagai upaya mendorong pola makan sehat di Indonesia, terbitlah sebuah studi berjudul ‘Healthy diets are affordable but often displaced by other foods in Indonesia’ yang dipublikasikan dalam jurnal Food Policy. Buku itu menghadirkan perspektif baru yang patut dicermati.

Penelitian ini menunjukkan bahwa secara ekonomi, sebagian besar masyarakat Indonesia sebenarnya mampu mengakses pola makan sehat sesuai pedoman gizi. Namun, realitas konsumsi sehari-hari justru memperlihatkan kecenderungan berbeda, di mana pilihan makanan bergeser ke arah yang kurang seimbang.

Pola makan masyarakat lebih banyak diwarnai oleh konsumsi makanan olahan, tinggi gula, garam, dan lemak.

Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada, Pratiwi Dinia Sari, S.Gz, RD menyebut pemilihan makanan pada dasarnya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi dalam kehidupan individu.

Faktor internal dan eksternal

Ia menjelaskan bahwa faktor internal seperti kondisi fisiologis, preferensi rasa, hingga kebiasaan memiliki peran penting dalam menentukan pilihan makanan.

BACA JUGA  S2P-PLTU Cilacap Dorong Edukasi Kesehatan Warga

Selain itu, faktor eksternal seperti ketersediaan pangan, interaksi sosial, serta budaya juga turut membentuk pola konsumsi seseorang. Dalam konteks saat ini, kemudahan akses terhadap berbagai jenis makanan membuat pilihan menjadi semakin beragam.

“Jadi memang ketika seseorang memilih untuk memakan atau tidak memakan suatu jenis makanan itu tidak semata soal kemampuan untuk membeli makanan tersebut,” ujar Dini, Senin.

Dalam masyarakat modern, lanjutnya faktor preferensi, kebiasaan makan, dan gaya hidup justru cenderung lebih dominan dibandingkan faktor ekonomi. Kebiasaan makan yang terbentuk sejak kecil katanya lagi akan terus terbawa hingga dewasa dan memengaruhi preferensi individu dalam memilih makanan.

Kebiasaan sejak dini

Lingkungan keluarga menjadi tempat pertama seseorang mengenal pola makan, termasuk jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Menurut Dini, ketika seseorang terbiasa mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak sejak dini, kebiasaan tersebut akan sulit diubah di kemudian hari.

“Apabila individu sejak kecil terbiasa dengan pola makan tertentu, maka preferensi itu akan terus terbentuk dan terbawa hingga dewasa,” jelasnya.

BACA JUGA  Masuk Pancaroba, Waspadai Kenaikan Influenza Tipe A

Gaya hidup yang serba praktis juga turut mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat. Banyak individu lebih memilih membeli makanan jadi atau jajan dibandingkan memasak sendiri di rumah. Pilihan makanan yang tersedia di luar rumah umumnya didominasi oleh makanan yang digoreng, tinggi gula, serta rendah serat.

Hal ini membuat konsumsi makanan sehat seperti sayur dan buah semakin terpinggirkan dalam menu harian. “Kebiasaan hidup yang praktis menjadikan opsi membeli makanan jadi lebih banyak dilakukan, sementara pilihan yang tersedia sering kali kurang sehat,” ungkap Dini.

Kurang pengetahuan

Rendahnya konsumsi buah, sayur, dan kacang-kacangan juga menjadi sorotan penting dalam persoalan gizi masyarakat. Dini menjelaskan bahwa kebiasaan ini sering kali berakar dari pola makan yang tidak dibiasakan sejak masa kanak-kanak.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan konsumsi sayur dan buah yang minim cenderung tidak menyukai makanan tersebut saat dewasa. Selain itu, kurangnya pengetahuan mengenai manfaat pangan bergizi turut memengaruhi keputusan konsumsi.

BACA JUGA  Songsong Indonesia Usia Emas, Masyarakat Harus Bugar dan Bahagia

“Pemahaman yang kurang mengenai pentingnya konsumsi buah, sayur, dan kacang-kacangan membuat pilihan makanan menjadi tidak optimal,” ujarnya.

Faktor rasa dan tekstur juga memainkan peran dalam menentukan preferensi makanan seseorang. Dini menjelaskan memang ada individu yang tidak menyukai buah karena teksturnya yang berair, atau tidak menyukai sayur karena dianggap berserat dan kurang menarik.

Preferensi ini sering kali terbentuk akibat kebiasaan konsumsi makanan olahan sejak usia dini. Paparan terhadap makanan cepat saji yang tinggi gula, garam, dan lemak turut memperkuat kecenderungan tersebut.

“Biasanya ini terjadi karena sudah terbiasa dengan makanan olahan, sehingga pilihan terhadap makanan alami menjadi lebih rendah,” kata Dini. (AGT/M-01)

Related Posts

Keris; dari Senjata Perang Hingga Menjadi Koleksi

PEMERINTAH melalui Kementerian Kebudayaan RI secara resmi  menetapkan 19 April sebagai Hari Keris Nasional sejak  2025 lalu. Langkah strategis ini menjadi penting guna memperkuat kedudukan keris sebagai salah satu dari…

Wisuda ITB Buktikan Pendidikan Inklusif

SIDANG Terbuka Wisuda Kedua Tahun Akademik 2025/2026 Institut Teknologi Bandung (ITB) yang digelar di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Jumat–Sabtu (17–18/4), menghadirkan lebih dari sekadar perayaan akademik. Di balik toga, senyum…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

PSSI Kutuk Keras Aksi Kekerasan di Ajang EPA U20

  • April 20, 2026
PSSI Kutuk Keras Aksi Kekerasan di Ajang EPA U20

Diiimbangi Dewa United, Persib Gagal Jauhi Borneo

  • April 20, 2026
Diiimbangi Dewa United, Persib Gagal Jauhi Borneo

Gempa Magnitudo 7,4 Guncang Jepang

  • April 20, 2026
Gempa Magnitudo 7,4 Guncang Jepang

Ironi Pola Makan tidak Sehat Masyarakat Indonesia

  • April 20, 2026
Ironi Pola Makan tidak Sehat Masyarakat Indonesia

Remaja Terseret Arus Parangtritis Ditemukan Meninggal

  • April 20, 2026
Remaja Terseret Arus Parangtritis Ditemukan Meninggal

Keris; dari Senjata Perang Hingga Menjadi Koleksi

  • April 20, 2026
Keris; dari Senjata Perang Hingga Menjadi Koleksi