
BARU sehari masuk usai kegiatan belajar mengajar (KBM) dihentikan akibat keracunan massal, puluhan santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam Sidoarjo, kembali dilarikan rumah sakit.
Tercatat ada 45 santri dilarikan ke rumah sakit pada Senin malam (7/9). Sebanyak 33 santri dilarikan ke RSUD Notopuro Sidoarjo dan 12 lainnya ke RS Islam Siti Hajar.
Namun sebagian besar mereka dipulangkan setelah mendapatkan perawatan, dan tinggal menyisakan dua santri yang dirawat di RSUD Notopuro.
Diduga keracunan MBG

Para santri yang dilarikan rumah sakit ini, sebelumnya juga sempat menjalani perawatan akibat dugaan keracunan MBG . Mereka rata-rata mengeluhkan gejala mual, pusing, hingga diare pada Senin malam.
Sofi,45, salah satu orang tua santri menceritakan, anaknya bernama Aisyah Nuri,12, sempat dirawat jalan dan dibawa pulang ke rumah pascainsiden dugaan keracunan pada Selasa (1/9) lalu.
Pasca insiden tersebut pihak ponpes juga meliburkan santrinya, dan mulai dibuka kembali pada Minggu pagi (6/9). Setelah kondisinya dinilai membaik, ia mengembalikan sang anak ke pesantren pada Minggu.
”Kemarin waktu kasus pekan lalu sempat rawat jalan. Hari Minggu kemarin balik ke pondok karena kelihatannya sudah mendingan. Tapi ternyata tadi malam dapat kabar kalau anaknya mual dan pusing lagi, terus dibawa ke RSUD,” kata Sofi.
Ia menambahkan, sejak kembali berada di pesantren, kondisi fisik anaknya memang masih tampak lemah sebelum akhirnya gejala mual dan pusing kembali kambuh.
Gelombang kedatangan susulan
Humas RSUD Notopuro Sidoarjo, Rizqi Maulana Hadi, membenarkan adanya gelombang kedatangan susulan dari para santri tersebut sejak Senin malam hingga Selasa pagi.
”Tadi malam ada yang datang lagi ke kita. Kedatangan berangsur mulai dari habis Isya sampai ada 33 santri. Keluhannya masih sama, yakni mual, muntah, diare, dan lemas,” kata Rizqi.
Rizqi menjelaskan bahwa sebagian besar santri telah diperbolehkan pulang setelah mendapat penanganan medis dasar. Namun, dua santri di antaranya harus menjalani rawat inap karena kondisi fisiknya masih sangat lemah.
”Sampai pagi ini tinggal dua yang dirawat inap, sedangkan 31 lainnya sudah dipulangkan. Kami berikan pengobatan standar,” jelasnya.
Pihak rumah sakit menegaskan bahwa pemicu pasti dari kambuhnya gejala tersebut masih dalam pemeriksaan medis. Kendati demikian, Rizqi memastikan para santri tidak lagi mengonsumsi makanan dari program MBG karena operasionalnya telah dihentikan sementara. (OTW/M-01)






