
RATUSAN mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa se Solo Raya demo protes efisiensi anggaran yang dilakukan oleh pemerintah di halaman Gedung DPRD Solo.
Saat aksi demo terjadi, tidak ada pimpinan legislator yang hadir untuk mendukung aksi mereka.
Mahasiswa se Solo Raya demo tergabung dalam Aliansi Penggerak Indonesia menuntut keterbukaan pemerintah, agar mampu menjelaskan pertimbangan efisiensi anggaran.
Sebab pemangkasan anggaran dengan nilai total Rp306,69 triliun dinilai memberatkan dan tidak berpihak pada rakyat.
Ketidakhadiran unsur pimpinan legislator Kota Solo membuat kecewa dan membuat kesal para demonstran.
Meski sejumlah anggota DPRD ikut menerima aspirasi, bahkan ikut menandatangani petisi yang disuarakan.
Ratusan polisi yang mengawal aksi protes berhasil meredakan emosi para pengunjuk rasa akhirnya bersedia tertib membubarkan diri usai aspirasi mereka diterima sejumlah anggota menjelang petang.
Petisi yang dibawakan oleh mahasiswa Aliansi Penggerak Indonesia yaitu mendesak Pemerintahan Prabowo Subianto mencabut Inpres Nomor 1 Tahun 2025 berisi pemotongan sejumlah sektor seperti pendidikan dan kesehatan.
Mereka juga menuntut evaluasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis secara menyeluruh, agar efektif, efisien dan tepat sasaran.
“Serta tidak.menjado proyek politik tanpa dampak signifikan bagi perbaikan gizi rakyat,” tegas koordinator aksi, Syaiful.
Mereka juga menolak RUU TNI, Polri dan Kejaksaan yang dianggap mengancam demokrasi dan hal asasi manusia( HAM ).
Para mahasiswa mendesak Presiden Prabowo mengeluarkan Perpu perampasan aset yang menjadi pijakan kuat pemberantasan korupsi. (WID/S-01)







