
Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Laboratorium Hijauan Makanan Ternak dan Pastura (HMTP) menghadirkan inovasi pakan ternak yang disesuaikan dengan kebutuhan peternak di Indonesia.
Inovasi tersebut antara lain berupa leguminosa Alfalfa Tropik (Medicago sativa cv Kacang Ratu BW) yang telah memiliki Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) nomor 929/PPVT/2021, rumput gajah (Pennisetum purpureum cv Gama Umami) dengan PVT nomor 889/PVHP/2020, serta Cikory (Cichorium intybus) yang saat ini masih dalam proses pengajuan PVT.
Inovasi pakan hijauan ini dihadirkan sebagai jawaban atas tantangan dunia peternakan nasional yang membutuhkan pakan berproduksi tinggi, bernutrisi tinggi, namun tetap terjangkau.
Peneliti Laboratorium HMTP Fapet UGM, Prof. Nafiatul Umami, menyampaikan bahwa Cikory telah melalui uji coba multilokasi dan ditanam di 10 Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
“Hasilnya cukup menggembirakan karena Cikory dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik. Ke depan, tanaman ini berpotensi menjadi alternatif pakan hijauan lokal Indonesia,” ujar Prof. Nafiatul Umami dalam acara Fapet Menyapa, Rabu (14/1).
Ia menambahkan, riset yang dikembangkan di Laboratorium HMTP tidak hanya terfokus pada ternak ruminansia. Meski mayoritas penelitian diarahkan untuk ruminansia, peluang riset untuk ternak unggas tetap dikembangkan.
“Alfalfa Tropik dan Cikory tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk ternak ruminansia, tetapi juga berpotensi digunakan sebagai pakan ternak unggas,” jelasnya.
Pakan hijauan lebih efisien
Sementara itu, Prof. Bambang Suhartanto menilai sistem produksi peternakan di Indonesia masih tergolong kurang efisien karena cenderung bersifat intensif dengan biaya pakan yang tinggi. Menurutnya, sistem produksi yang lebih efisien dapat diterapkan melalui pola penggembalaan dan integrasi ternak.
“Indonesia memang belum memiliki kebijakan dedicated land untuk penggembalaan seperti Australia. Namun, kita memiliki peluang lahan yang sangat besar melalui sistem integrasi, seperti integrasi sapi sawit dengan potensi lahan lebih dari 15 juta hektare, termasuk integrasi dengan komoditas perkebunan lain hingga ternak lebah,” kata Bambang.
Laboratorium HMTP Fapet UGM juga memiliki keahlian dalam integrasi ternak besar dengan perkebunan serta pengembangan ternak lebah, seperti Trigona dan Apis mellifera.
Tim Laboratorium HMTP menilai, pakan ternak menyumbang sekitar 50–70 persen dari total biaya produksi peternakan. Oleh karena itu, pemanfaatan pakan hijauan berkualitas tinggi dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.
Hijauan bernutrisi tinggi tersebut kini dikenal sebagai green concentrate atau konsentrat hijau. Melalui berbagai inovasi tersebut, Laboratorium HMTP Fapet UGM hadir menawarkan solusi berkelanjutan bagi pengembangan peternakan nasional. (AGT/S-01)







