
NOVEL berjudul Sekolah Terakhir karya mantan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid terbitan Buku Mojok dijadikan bahan diskusi dan refleksi kritis dunia pendidikan yang digelar Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pusat Studi Penelitian dan Pengambangan Pendidikan Islam (P3I) UII.
Kegiatan yang dihadiri langsung oleh penulis buku, Prof. Fathul Wahid itu diadakan di Laboratorium PAI Lantai 3 Gedung K.H. Wahid Hasyim kampus Jalan Kaliurang.
Fathul mengemukakan kemampuan menulis bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang dapat diasah melalui latihan yang konsisten. Ia mengibaratkan kemampuan menulis itu seperti berenang, tidak menjadi bawaan sejak lahir tetapi bisa dilatih.
“Menulis juga begitu, supaya bisa menulis ya harus menulis,” ujarnya.
Terlalu berorientasi pada kompetisi
Fathul Wahid menjelaskan bahwa novel Sekolah Terakhir lahir dari kegelisahannya terhadap berbagai praktik pendidikan yang semakin berorientasi pada kompetisi dan capaian formal.
Melalui novel tersebut, ia ingin menghadirkan alternatif cara pandang mengenai pendidikan yang lebih memanusiakan.
“Kita mungkin tidak bisa mengubah semuanya, tetapi kita bisa melakukan perlawanan-perlawanan kecil dengan menyuntikkan nilai dan membingkai ulang praktik pendidikan.”
“Saya percaya perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” ujarnya.
Bukan cuma di ruang kelas
Tokoh-tokoh dan peristiwa yang muncul dalam novel, ujarnya banyak terinspirasi dari pengalaman, pengamatan maupun dialog dengan berbagai komunitas pendidikan.
Ia menambahkan, pendidikan tidaklah semata-mata terjadi di ruang kelas namun bisa pula tumbuh melalui interaksi sosial dan pengalaman.
Neoliberalisme
Sementara Kurniawan selaku pembahas menilai Sekolah Terakhir berhasil menghadirkan kritik terhadap pendidikan modern sekaligus memperluas makna belajar.
“Novel ini merupakan kritik terhadap neoliberalisme pendidikan dan memperluas ruang pembelajaran, dari ruang kelas ke sawah, lapangan, hingga kehidupan sehari-hari.”
“Novel ini mengingatkan kita bahwa belajar tidak selalu harus berlangsung dalam ruang-ruang formal yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya tempat memperoleh pengetahuan,” ungkapnya. (AGT/A-01)








