Sekolah Terakhir; Kegelisahan Fathul Wahid pada Dunia Pendidikan

NOVEL berjudul Sekolah Terakhir karya mantan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid terbitan Buku Mojok dijadikan bahan diskusi dan refleksi kritis dunia pendidikan yang digelar Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pusat Studi Penelitian dan Pengambangan Pendidikan Islam (P3I) UII.

Kegiatan yang dihadiri langsung oleh penulis buku, Prof. Fathul Wahid itu diadakan di Laboratorium PAI Lantai 3 Gedung K.H. Wahid Hasyim kampus Jalan Kaliurang.

Fathul mengemukakan kemampuan menulis bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang dapat diasah melalui latihan yang konsisten. Ia mengibaratkan kemampuan menulis itu seperti berenang, tidak menjadi bawaan sejak lahir tetapi bisa dilatih.

“Menulis juga begitu, supaya bisa menulis ya harus menulis,” ujarnya.

BACA JUGA  182 Tahun A Christmas Carol, Warisan Sastra Charles Dickens

Terlalu berorientasi pada kompetisi

Fathul Wahid menjelaskan bahwa novel Sekolah Terakhir lahir dari kegelisahannya terhadap berbagai praktik pendidikan yang semakin berorientasi pada kompetisi dan capaian formal.

Melalui novel tersebut, ia ingin menghadirkan alternatif cara pandang mengenai pendidikan yang lebih memanusiakan.

“Kita mungkin tidak bisa mengubah semuanya, tetapi kita bisa melakukan perlawanan-perlawanan kecil dengan menyuntikkan nilai dan membingkai ulang praktik pendidikan.”

“Saya percaya perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” ujarnya.

Bukan cuma di ruang kelas

Tokoh-tokoh dan peristiwa yang muncul dalam novel, ujarnya banyak terinspirasi dari pengalaman, pengamatan maupun dialog dengan berbagai komunitas pendidikan.

Ia menambahkan, pendidikan tidaklah semata-mata terjadi di ruang kelas namun bisa pula tumbuh melalui interaksi sosial dan pengalaman.

BACA JUGA  Program Terpujilah GURU dari Sumedang Dirilis Telkomsel

Neoliberalisme

Sementara Kurniawan selaku pembahas menilai Sekolah Terakhir berhasil menghadirkan kritik terhadap pendidikan modern sekaligus memperluas makna belajar.

“Novel ini merupakan kritik terhadap neoliberalisme pendidikan dan memperluas ruang pembelajaran, dari ruang kelas ke sawah, lapangan, hingga kehidupan sehari-hari.”

“Novel ini mengingatkan kita bahwa belajar tidak selalu harus berlangsung dalam ruang-ruang formal yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya tempat memperoleh pengetahuan,” ungkapnya. (AGT/A-01)

Admin

Related Posts

Begini Cara Aman Menikmati Kecap Menurut Ahli Gizi

BEBERAPA waktu lalu Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin memposting soal kecap di akun Instagram-nya terkait dengan kecap. Dalam postingan itu, Menkes menyatakan keterkejutannya dengan tingginya kadar natrium di dalam…

Konsep Bayi Tabung Mulai Dipikirkan untuk Selamatkan Badak Kalimantan

SAAT ini populasi badak kalimantan hanya menyisakan dua individu betina. Satu berada di Suaka Badak Kelian dan satu lagi masih hidup di alam liar di Mahakam Ulu. Kondisi tersebut membuat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Belanda Juara Grup F, Jepang dan Swedia Ikut Lolos ke 32 Besar

  • June 26, 2026
Belanda Juara Grup F, Jepang dan Swedia Ikut Lolos ke 32 Besar

Sekolah Terakhir; Kegelisahan Fathul Wahid pada Dunia Pendidikan

  • June 26, 2026
Sekolah Terakhir; Kegelisahan Fathul Wahid pada Dunia Pendidikan

Jerman Juara Grup meski Kalah, Ekuador Susul Pantai Gading ke Babak 32 Besar

  • June 26, 2026
Jerman Juara Grup meski Kalah, Ekuador Susul Pantai Gading ke Babak 32 Besar

Polresta Sidoarjo Gelar Bedah Rumah Warga tak Mampu Jelang Hari Bhayangkara

  • June 26, 2026
Polresta Sidoarjo Gelar Bedah Rumah Warga tak Mampu  Jelang Hari Bhayangkara

Akui Salah Strategi, Pelatih Korsel Hong Myung-bo Hanya Bisa Sesali Diri

  • June 26, 2026
Akui Salah Strategi, Pelatih Korsel Hong Myung-bo Hanya Bisa Sesali Diri

Indonesia Siap Stop Impor Solar Setelah Mandatori B50 Bulan Depan

  • June 25, 2026
Indonesia Siap Stop Impor Solar Setelah Mandatori B50 Bulan Depan