
HEPATITIS merupakan penyakit yang sering didengar, tetapi masih kerap disalahpahami. Penyakit ini kerap dikaitkan dengan gejala kulit dan mata yang menguning. Padahal, hepatitis merupakan peradangan hati yang disebabkan oleh banyak hal.
“Paling banyak adalah disebabkan oleh infeksi virus hepatitis,” jelas dr. Fahmi Indrarti, Sp.PD-KGEH dalam podcast TropmedTalk bertajuk ‘Hepatitis: Sering Didengar, Tapi Masih Sering Disalahpahami?’ yang diselenggarakan Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM dalam rangka memperingati Hari Hepatitis Sedunia.
Meski demikian, Staf Divisi Gastroenterologi dan Hepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM itu menyatakan bahwa hepatitis juga dapat disebabkan karena konsumsi alkohol, obesitas, obat-obatan, maupun menular melalui makanan yang kurang terjaga kebersihannya.
Penularan berbeda
dr. Fahmi menjelaskan bahwa virus hepatitis terdiri atas hepatitis A, B, C, D, dan E dengan cara penularan berbeda. Hepatitis A dan E menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Adapun hepatitis B dan C menular melalui cairan tubuh, seperti paparan darah.
Sedangkan hepatitis D hanya dapat menginfeksi seseorang yang telah mengalami hepatitis B dan dapat memperberat penyakitnya. “Yang paling sering ditemukan di Indonesia adalah yang B dan C,” ungkap dr. Fahmi.
Di antara berbagai jenis hepatitis tersebut, hepatitis B dan C menjadi perhatian utama karena keduanya berpotensi berkembang menjadi infeksi kronis maupun kanker hati. “Keduanya bisa menyebabkan angka kematian yang tinggi,” lanjut dr. Fahmi.
Diperkirakan terdapat sekitar 6,7 juta penduduk Indonesia yang terinfeksi hepatitis B dan 2,5 juta penduduk yang terinfeksi hepatitis C. Dengan situasi kasus seperti ini, pencegahan sangat penting untuk dilakukan, disesuaikan dengan cara penularannya.
Dapat dicegah
Hepatitis A dan E dapat dicegah melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Sedangkan hepatitis B dan C dapat dicegah dengan menghindari penggunaan jarum suntik bersama, tidak berbagi sikat gigi, alat cukur, atau gunting kuku, serta memastikan tindakan medis, termasuk tindik dan tato dilakukan menggunakan jarum yang steril.
Hepatitis B juga dapat dicegah melalui vaksinasi, terutama pada bayi baru lahir dan kelompok dewasa yang berisiko tinggi. Vaksin hepatitis B hanya melindungi terhadap hepatitis B dan secara tidak langsung mencegah hepatitis D. Hingga saat ini, vaksin hepatitis C belum tersedia sehingga pencegahannya berfokus pada upaya menghindari paparan darah yang terinfeksi.
Terkait pengobatan, peluang kesembuhan hepatitis berbeda pada setiap jenisnya. Hepatitis A dan E umumnya dapat sembuh dengan sendirinya apabila tidak disertai kondisi yang memperberat penyakit hati. Untuk hepatitis C, dapat disembuhkan pada lebih dari 95 persen kasus melalui pengobatan, terutama jika pengobatan dimulai sejak dini.
“Sedangkan hepatitis B dan D kronis pengobatannya cukup lama,” ungkap dr. Fahmi. Pengobatan ini harus dilakukan sesuai dengan panduan dan pengawasan yang ketat.
Luruskan mitos
dr. Fahmi juga meluruskan mitos bahwa hepatitis B dan C dapat menular melalui makan bersama. “Makan bersama boleh, berpelukan juga tidak masalah,” jelas dr. Fahmi.
Orang dengan hepatitis tidak perlu dijauhi ataupun harus menghentikan seluruh aktivitasnya. Hepatitis juga tidak hanya menyerang orang dengan gaya hidup tidak sehat, tetapi dapat dialami siapa saja, termasuk bayi yang tertular dari ibunya atau seseorang yang terpapar darah dan peralatan tidak steril.
Masyarakat diimbau segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan apabila mengalami kulit dan mata menguning, urine berwarna pekat seperti teh, perut membesar, muntah darah, buang air besar berwarna hitam, atau penurunan kesadaran. Orang yang memiliki faktor risiko juga dianjurkan mempertimbangkan pemeriksaan meskipun merasa sehat dan tidak mengalami gejala.
Melalui podcast ini, PKT UGM mengajak masyarakat untuk memahami hepatitis berdasarkan fakta, melakukan pencegahan sesuai cara penularannya, serta tidak memberikan stigma kepada orang yang hidup dengan hepatitis. Deteksi dini, vaksinasi, pengobatan yang tepat, dan meningkatnya kesadaran masyarakat, upaya eliminasi hepatitis di Indonesia diharapkan dapat semakin dipercepat. (agt/M-01)








