Menurunkan Kematian Ibu dan Bayi Melalui Pendekatan Ilmu Kedokteran dan Tradisi Budaya

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan sebanyak 4000 ibu hamil dan 30 ribu bayi meninggal setiap tahunnya.

Upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi tidak cukup hanya dilakukan pada pendekatan medis semata.

Sebab, persoalan kesehatan reproduksi perlu dilihat secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai aspek dari sisi biologis, psikologis, sosial, budaya, dan religi.

“Kalau Indonesia yang terkenal dengan keragaman kulturnya tidak disentuh dengan cara yang berbeda sesuai dengan kondisinya, maka upaya ini tidak akan berhasil,” kata Ketua Pengurus Pusat Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (PP HOGSI), Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.OG., Subsp. Obginsos, MPH. saat menyampaikan hasil Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XVII Himpunan Obstetri Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI) 2026 pada 11-13 Mei lalu di Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

Sejak masa kehamilan

Dr. dr. Dwiana mengatakan persoalan stunting perlu dipahami sejak masa kehamilan. Ia menjelaskan bahwa sekitar sepertiga kasus stunting sudah terjadi ketika janin masih berada dalam kandungan yang dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ibu seperti anemia, kekurangan gizi, infeksi, atau komplikasi kehamilan.

BACA JUGA  Penampilan Jaranan, Barongan hingga Kolosal Tari Remon Meriahkan Pergantian Tahun

Sedangkan dua pertiga sisanya berkembang pada dua tahun pertama kehidupan anak yang sangat dipengaruhi oleh pemberian ASI, imunisasi, pola asuh, pencegahan infeksi, serta kualitas lingkungan tempat anak tumbuh.

Menurut dia perlu adanya kerja sama erat antara bidan, perawat, ahli gizi, psikolog, dan tenaga kesehatan lainnya agar ibu dan anak memperoleh pelayanan yang menyeluruh, mulai dari pencegahan, deteksi dini, hingga penanganan komplikasi.

Mutu pendidikan Nakes

Ia menambahkan bahwa kualitas pelayanan kesehatan sangat ditentukan oleh mutu pendidikan tenaga kesehatan.

“Kita berkomitmen mendukung peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan, workshop, dan penguatan peran dokter spesialis sebagai pengajar di fakultas kedokteran, sekolah kebidanan, dan institusi pendidikan kesehatan.”

BACA JUGA  Bupati Sleman Ajak Masyarakat Lestarikan Tradisi Luhur Ki Ageng Wonolelo

“Sehingga tercipta sumber daya manusia yang kompeten dalam menangani kesehatan ibu dan anak,” pungkasnya.

Nilai-nilai budaya

Sementara Ketua Panitia Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XVII HOGSI  sekaligus Dosen Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan FK-KMK UGM Dr.dr. Eugenius Phyowai Ganap, Sp.OG.Subsp.Obginsos., menekankan pentingnya memadukan perkembangan ilmu kedokteran dengan nilai-nilai budaya yang telah lama hidup di masyarakat dalam menjaga kesehatan ibu dan anak.

Menurutnya, tradisi seperti mitoni (upacara adat Jawa merayakan kehamilan memasuki usia tujuh bulan) dan tedak siten (perayaan saat bayi belajar melangkah)  mencerminkan kesadaran kolektif bahwa kehamilan bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh lingkungan sekitar.

“Filosofi Jawa melalui tradisi seperti mitoni dan tedak siten menunjukkan bahwa masyarakat sejak dahulu telah memiliki bentuk awareness untuk bersama-sama menjaga keselamatan ibu hamil.”

“Dengan kemajuan ilmu kedokteran, nilai-nilai tersebut kami kemas dalam pendekatan ilmiah untuk mendukung kesehatan ibu dan anak,” jelasnya.

BACA JUGA  Gowok: Kamasutra Jawa; Film Berbalut Tradisi Budaya dan Sejarah

Enam macam pelatihan

Sebelum terselenggaranya simposium utama, ia menuturkan di PIT XVII HOGSI kali ini, panitia telah menyelenggarakan enam macam pelatihan.

Pelatihan itu mencakup penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak, deteksi lesi prakanker serviks, Audit Maternal Perinatal Surveillance and Response (AMPSR), pelatihan teknik mengajar para dokter, serta pengembangan pusat pendidikan obstetri dan ginekologi.

Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan dirancang agar peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan terbaru, tetapi juga mampu menerapkannya dalam pelayanan kesehatan di wilayah masing-masing.

“Kami memberikan pelatihan agar para dokter spesialis obstetri dan ginekologi memiliki bekal ketika menjadi pengajar,” jelasnya. (AGT/M-01)

Related Posts

Komersialisasi Paten UGM Tertinggi di Indonesia

KOMERSIALISASI paten Universitas Gadjah Mada menempati posisi tertinggi di antara perguruan tinggi di Indonesia dengan jumlah 35 paten dengan nilai royalti sebesar Rp15 miliar. Di urutan berikutnya Institut Teknologi Bandung…

UGM Bantu 48 Mahasiswa NTT Terdampak Bencana

UNIVERSITAS Gadjah Mada Yogyakarta menyalurkan bantuan bagi 48 mahasiswa mereka yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak bencana gempa. Bantuan ini dimaksudkan agar mereka tetap dapat melanjutkan dan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Bawaslu DIY Catat 2,9 Juta Pemilih saat Pemutakhiran Data

  • October 3, 2026
Bawaslu DIY Catat 2,9 Juta Pemilih saat Pemutakhiran Data

Sambut Hari Kesaktian Pancasila, PLN UP3 Pematangsiantar Pastikan Keandalan Listrik

  • October 3, 2026
Sambut  Hari Kesaktian Pancasila, PLN UP3 Pematangsiantar Pastikan Keandalan Listrik

Timnas Putri U-17 Indonesia Berlaga di Singapura, Sasar Juara Grup B Kualifikasi Piala Asia U-17

  • October 3, 2026
Timnas Putri U-17 Indonesia Berlaga di Singapura, Sasar Juara Grup B Kualifikasi Piala Asia U-17

Komersialisasi Paten UGM Tertinggi di Indonesia

  • October 3, 2026
Komersialisasi Paten UGM Tertinggi di Indonesia

KAI Logistik Berkomitmen Perkuat Ekosistem Logistik Energi Nasional

  • October 3, 2026
KAI Logistik Berkomitmen Perkuat Ekosistem Logistik Energi Nasional

Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Laris Manis, Penjualan Sudah Tembus Angka 55 Ribu

  • October 3, 2026
Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Laris Manis, Penjualan Sudah Tembus Angka 55 Ribu