Wisuda ITB Buktikan Pendidikan Inklusif

SIDANG Terbuka Wisuda Kedua Tahun Akademik 2025/2026 Institut Teknologi Bandung (ITB) yang digelar di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Jumat–Sabtu (17–18/4), menghadirkan lebih dari sekadar perayaan akademik.

Di balik toga, senyum dan tepuk tangan, wisuda ini memunculkan satu pesan yang kuat, yakni pendidikan tinggi harus terbuka bagi semua dan tidak boleh meninggalkan siapa pun.

Wisuda ITB kali ini terasa istimewa bukan hanya karena menjadi penanda berakhirnya masa studi para lulusan, melainkan juga karena memperlihatkan sisi kemanusiaan yang begitu kuat.

Doa dan pengorbanan

Salah seorang wisudawan menuliskan kesan bahwa, suasana yang biasanya dibayangkan sangat teknis dan sarat pencapaian intelektual, justru diwarnai oleh kesadaran bahwa keberhasilan seorang wisudawan tidak pernah lahir dari perjuangan yang sepenuhnya individual.

Ada doa orang tua, ada pengorbanan keluarga, ada dukungan sahabat, dosen, tenaga kependidikan, serta berbagai tangan yang ikut menguatkan langkah hingga sampai ke hari bahagia itu.

Pendidikan inklusif itu tampak jelas dari kisah para wakil wisudawan, seperti disampaikan wisudawan Zulfi Akbar Harahap dari Program Studi (Prodi) Sarjana Teknik Metalurgi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan.

BACA JUGA  65 Persen dari 1.566 Wisudawan UNY Tahun ini adalah Perempuan

Penuh keterbatasan

Zulfi tumbuh dalam keterbatasan, di mana almarhum ayahnya adalah seorang kuli bangunan, sementara ibunya ibu rumah tangga. Harapan sederhana sang ayah, agar anak-anaknya dapat menjadi sarjana menjadi bahan bakar bagi Zulfi untuk terus berjuang.

“Melalui beasiswa dari CTArsa Foundation, kerja keras dan kegigihan, saya menempuh studi sambil mengajar untuk menambah biaya hidup di Bandung,” ucapnya.

Di tengah tantangan itu, Zulfi memilih untuk menjadi pribadi yang gigih, disiplin, dan tahan banting. Pada akhirnya, ia berhasil lulus, bahkan diterima bekerja di perusahaan multinasional, sembari membawa harapan untuk membantu keluarga dan meneruskan cita-cita ayahnya.

Harta yang berharga

Cerita tak kalah haru juga dituturkan Albert Lukas Pithel Hasugian dari Prodi Kewirausahaan, Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBMITB), membagikan cerita tentang perjuangannya sebagai anak seorang sopir angkot di Medan.

“Mimpi kuliah di ITB dulu terasa sangat jauh. Namun atas dorongan orang tua dan keyakinan terhadap pentingnya pendidikan, serta dukungan beasiswa KIP-K, dosen, mentor, dan teman-teman saya mampu terus melangkah hingga menuntaskan studi. Perjalanan di ITB mengajarkan bahwa seseorang tidak harus memiliki segalanya untuk memulai, cukup memiliki alasan untuk tidak berhenti,” tuturnya.

BACA JUGA  ITB Tanggapi Kebocoran Data Mahasiswa dan Alumni

Orang tua Albert selalu meyakinkan ditengah keterbatasan orangtua akan selalu berusaha, dengan memegang filosofi “Anakkon Hi Do Hamoraon di Au” yang artinya bahwa anak merupakan kekayaan atau harta yang berharga.

Kisah Zulfi dan Albert menjadi cerminan bahwa kampus adalah tempat harapan dapat bertumbuh melampaui batas latar belakang sosial dan ekonomi.

Wisuda ini menunjukan bahwa pendidikan tinggi yang bermutu tidak semestinya hanya menjadi milik mereka yang telah mapan. Justru ketika kampus membuka jalan bagi lebih banyak anak bangsa untuk belajar, di situlah ilmu menemukan maknanya yang paling nyata.

Alat membangun bangsa

Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara menyebut, hari wisuda bukan hanya milik para lulusan, tetapi juga milik para orang tua, keluarga, sahabat, dosen dan tenaga kependidikan yang telah membersamai perjalanan mereka.

“Bahwa di balik setiap toga ada cinta, doa, dan pengorbanan banyak orang. Selain itu, ilmu tidak berhenti pada gelar, tetapi harus menjadi alat untuk membangun masa depan bangsa dan memberi manfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

BACA JUGA  ITB Terima 1.740 Calon Mahasiswa Baru dari Jalur SNBT 2025

Dari sanalah kata Tata, muncul semangat bahwa pendidikan harus inklusif, memberi ruang bagi siapa pun yang memiliki tekad untuk belajar dan bertumbuh. Termasuk pula mereka yang berasal dari keluarga sederhana, seperti anak pekerja bangunan, anak sopir angkot, anak petani kecil, hingga anak pondok pesantren dan lain sebagainya. Tidak ada yang ditinggalkan.

Rektor juga mengajak para lulusan untuk tidak berhenti pada kecerdasan individu.

“Dunia membutuhkan insan-insan yang mampu bekerja sama, menjelaskan gagasan dengan sederhana, mendengar dengan rendah hati, dan menjadikan ilmu sebagai sarana menghadirkan solusi.

Kemajuan bangsa tidak lahir dari orang-orang yang hanya cemerlang secara pribadi, melainkan dari mereka yang mampu berkolaborasi dan menggunakan ilmunya bagi masyarakat,” tandasnya. (zahra/M-01)

Related Posts

Dukung Pembangunan Daerah, Telkomsel Perkuat Pemberdayaan Desa

SEBAGAI bentuk komitmen perusahaan dalam memperkuat pembangunan desa dan mendorong transformasi digital yang inklusif, Telkomsel kembali menggelar program  Baktiku Negeriku. Program tahun ini dilaksanakan pada 21–23 Mei di Desa Balegede,…

UIN Sunan Kalijaga Dukung Pendidikan Inklusif Lewat Festival Difabel

UNIVERSITAS Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu, menggelar Perayaan dan Penganugerahan Festival Difabel bertajuk Here Together, Grow Forever. Gelaran ini sekaligus dalam rangka Dies Natalis ke-19 Pusat Layanan Difabel…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Ahmad Luthfi Kunci 87 Persen Lahan Persawahan di Jateng

  • June 4, 2026
Ahmad Luthfi Kunci 87 Persen Lahan Persawahan di Jateng

Keberadaan Borobudur Diharap Mengerek Pariwisata di Daerah Sekitar

  • June 4, 2026
Keberadaan Borobudur Diharap Mengerek Pariwisata di Daerah Sekitar

Deretan Dosa Dadan Hindayana Dibeberkan Kejagung

  • June 4, 2026
Deretan Dosa Dadan Hindayana Dibeberkan Kejagung

Setubuhi Anak Kandung Hingga Hamil, Seorang Pria Ditangkap

  • June 3, 2026
Setubuhi Anak Kandung Hingga Hamil, Seorang Pria Ditangkap

Dukung Pembangunan Daerah, Telkomsel Perkuat Pemberdayaan Desa

  • June 3, 2026
Dukung Pembangunan Daerah, Telkomsel Perkuat Pemberdayaan Desa

Ungkap Peredaran Narkotika Cair, Polresta Sidoarjo Tangkap Dua Warga Malaysia

  • June 3, 2026
Ungkap Peredaran Narkotika Cair, Polresta Sidoarjo Tangkap Dua Warga Malaysia