
TIM boal voli Jakarta LavAni Livin’ Transmeda sukses merebut gelar juara putaran kedua, setelah pada laga penentuan mengalahkan Bhayangkara Presisi dengan skor 3-1 (25-20, 25-15, 18-25, 25-22) dalam lanjutan Final Four Proliga seri tiga di GOR Jatidiri Semarang, Minggu (19/4/2026).
Kesuksesan itu mereka mereka di Proliga musim ini setelah dua pekan lalu tim milik Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono itu menjuarai putaran pertama. Bukan itu saja, LaVani juga mengukuhkan status mereka sebagai satu-satunya tim yang tak terkalahkan selama babak empat besar.
Dengan menjadi juara putaran kedua ini, LavAni berhak mendapatkan hadiah uang pembinaan sebesar Rp60 juta.
Bekal menuju Grand Final

Menurut asisten pelatih LavAni, Erwin Rusni, kemenangan itu membuat mereka kepercayaan diri tinggi dalam melangkah ke partai puncak. Namun ia juga tidak memungkiri bahwa timnya belum berada di level “monster” yang diinginkan, salah satunya soal receive.
Terbukti dalam laga tersebut, dia menyebut timnya sempat kedodoran dari Alfin Danil dkk di set-set awal.
“Pemain kami masih kedodoran menerima servis pemain asing Bhayangkara. Inginnya kami, sekali terima servis, langsung balas serangan dan bola mati di pihak lawan,” tegas Erwin.
Cuaca panas Semarang

Selain faktor teknis, cuaca ekstrem Kota Semarang ternyata menjadi lawan tambahan bagi LavAni. Fisik pemain terkuras habis, membuat performa mereka dinilai belum mencapai titik optimal 100 persen.
Sementara itu, libero LavAni, Irpan menyebut kemenangan di Semarang menjadi suntikan moral luar biasa bagi mereka.
Di sisi lain, pelaih Bhayangkara, Reidel Alfonso Gonzalez Toiran menyebut meski kecewa namun kekalahan di Semarang hanyalah bagian dari proses menuju puncak performa.
Belum optimal
Toiran blak-blakan menyebut bahwa kekuatan pasukannya saat ini belum optimal, karena level performa baru menyentuh angka 60%. Dia menyebut evaluasi utama komunikasi antar-pemain dan koordinasi lapangan yang masih sering “miss”.
Optimisme serupa dilemparkan oleh Rendy Tamamilang. Bintang voli nasional ini tak gentar meski timnya baru saja kalah. Bagi Rendy, laga ini adalah bahan evaluasi untuk meminimalkan ”unforced errors” di Yogyakarta nanti. (*/N-01)






