Buah Pahit Hasil dari Liberalisasi Pendidikan di Tanah Air

PERTIKAIAN guru dengan murid semakin kerap terajdi dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya yang terjadi di sebuah SMK di Jambi yang kemudian mengundang keprihatinan.

Lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi pembinaan murid, kini justru arena kekerasan dan konflik antara pendidik dan murid. Kondisi ini kontras dengan upaya pemerintah yang menggencarkan implementasi Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, dalam praktiknya masih menghadapi tantangan yang tidak mudah untuk dilaksanakan

Ruang pendidikan di sekolah seharusnya menjadi salah satu proses sosial yang demokratis untuk berdialog. Di ruang yang sama, komunikasi dua arah tersebut tidak boleh terpisah dari tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Hubungan transaksional

Sayangnya, yang terjadi kini ialah keterpisahan antara ketiganya. Jadi, konflik ini bukan semata konflik guru dan murid saja. Ada peta besar sebab akar persoalan ini, hubungan guru, murid, dan wali menjadi transaksional.

BACA JUGA  Oknum Kepala Sekolah di Pangaribuan Diduga Jadi Calo para Guru

Kondisi pendidikan di Indonesia sekarang merupakan bagian dari cerita panjang dari dampak liberalisasi pendidikan. Sekolah kini telah dikomersialisasikan sehingga membelokkan filosofi dasar pembelajaran. Akar persoalan itu dapat ditelusuri dari sejarah panjang liberalisasi pendidikan sejak dekade 1980-an yang kini berujung pada krisis relasi pedagogis.

Neoliberalisme pendidikan, gambarannya seperti proses jual dan beli. Prosedur transaksi terjadi oleh wali murid yang membayar mahal biaya pendidikan untuk menitipkan anak dengan segala harapannya.

Di sisi wali murid tentu tidak rela merugi, sedangkan guru tidak lagi diposisikan sebagai pamong moral, namun guru sebagai sektor yang diawasi secara legalistik bahkan dapat berujung ke proses hukum.

Kesalahan sistem

Sekolah kian kehilangan wataknya sebagai paguyuban pendidikan dan berubah menjadi arena relasi ekonomi. Guru dan murid hanyalah aktor yang berhasil dimainkan oleh sistem besar liberal.

BACA JUGA  Guru Penggerak Harus Tingkatkan Kualitas Layanan di Satuan Pendidikan

Keduanya korban kesalahan sistem sehingga tidak memungkinkan memperbaiki keadaan kecuali merombak tatanan pendidikan. Jalan bahwa guru harus ada peningkatan kapasitas jelas itu, tetapi tidak cukup karena sistemnya sudah carut-marut.

Dari sudut pandang sosiologi, baik guru, murid, maupun wali sama-sama berpotensi berada pada posisi benar maupun salah. Ketakutan guru untuk menegur murid karena dibayangi risiko pelaporan oleh siswa yang berujung pada ancaman hukum.

Akibatnya, sekolah tidak lagi menjadi ruang pembentukan warga yang demokratis, melainkan bergeser menjadi arena prosedural layaknya peradilan. Sekolah bukan lagi ruang dialog kritis, melainkan menjadi ruang yang tunduk pada logika ketakutan dan kontrol pengawasan hukum seperti itu.

Harus dirombak

Karena itu perlu perombakan mendasar terhadap seluruh ekosistem pendidikan neoliberal jika negara ingin benar-benar menjadi bangsa besar. Sebab relasi transaksional yang lahir dari liberalisasi pendidikan berpotensi membahayakan semua pihak karena menciptakan ekosistem yang tidak mendukung lahirnya praktik-praktik kebaikan.

BACA JUGA  Wali Kota Semarang: Guru adalah Pertahanan Masa Depan Bangsa

Sistem semacam ini hanya akan melanggengkan konflik tanpa akhir yang kian melebar seiring viralitas di ruang publik, sehingga pola tersebut harus diputus. Berani tidak bangsa ini, negara ini, melakukan perombakan sistem secara radikal dan mengembalikannya pada Undang-Undang Dasar kita. (AGT/N-01)

Oleh:

Dr. Andreas Budi Widyanta, S.Sos., M.,A., Dosen Sosiologi Fisipol UGM

Dimitry Ramadan

Related Posts

Perguruan Tinggi Diharap Siap Hadapi Perubahan dan Inovatif

INSTITUT Teknologi Bandung (ITB) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) Angkatan 1 Tahap III Tahun 2026 yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), pada Kamis-Jumat…

Daya Beli Masyarakat Menurun Picu Fenomena Downgrading

MENURUNNYA daya beli masyarakat memicu munculnya fenomena downgrading di masyarakat Indonesia. Fenomena ini adalah peralihan pilihan konsumsi ke barang atau layanan yang lebih murah. Terjadinya fenomena downgrading tersebut dapat dilihat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

PT KAI Perkuat Konektivitas Ekonomi Antarwilayah di Sumut

  • October 9, 2026
PT KAI Perkuat Konektivitas Ekonomi Antarwilayah di Sumut

Pemkab Batu Bara Terapkan Manajemen Talenta, BKN Beri Dukungan Penuh

  • October 9, 2026
Pemkab Batu Bara Terapkan Manajemen Talenta, BKN Beri Dukungan Penuh

Kapolda DIY Siap Wujudkan Program Polisi Bersama Masyarakat

  • October 9, 2026
Kapolda DIY Siap Wujudkan Program Polisi Bersama Masyarakat

Persib Gasak Port FC, Borneo Tahan Buriram

  • October 9, 2026
Persib Gasak Port FC, Borneo Tahan Buriram

Ronaldo Sampaikan Salam Hormat untuk Messi

  • October 8, 2026
Ronaldo Sampaikan Salam Hormat untuk Messi

Pemkot Jaktim Sosialisasikan Penataan Jalan Cakung-Cilincing Sepanjang 2,8 Kilometer, 250 Warga Terdampak

  • October 8, 2026
Pemkot Jaktim Sosialisasikan Penataan Jalan Cakung-Cilincing Sepanjang 2,8 Kilometer, 250 Warga Terdampak