IPB: Modifikasi Cuaca Bukan Solusi Permanen

MENINGKATNYA  frekuensi bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Indonesia mendorong pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca sebagai salah satu langkah mitigasi. Selama ini, modifikasi cuaca kerap dipersepsikan sebagai solusi cepat untuk menekan dampak banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.

Namun, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, menegaskan bahwa modifikasi cuaca hanya bersifat jangka pendek dan tidak menyentuh akar persoalan.

Dikutip dari laman IPB University, Sonni menyatakan bahwa modifikasi cuaca dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk meminimalisasi dampak bencana hidrometeorologi. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa langkah tersebut bukan solusi permanen.

“Modifikasi cuaca itu penting sebagai salah satu usaha mitigasi, tetapi harus digarisbawahi bahwa ini bukan solusi permanen. Ia tidak menyelesaikan penyebab utama bencana hidrometeorologi,” ujarnya.

BACA JUGA  Banjir Bali-NTT Tewaskan 23 Orang, BNPB Antisipasi di Jawa

Dampak Bersifat Lokal

Menurut Sonni, efektivitas modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Teknik ini hanya dapat dilakukan apabila tersedia awan dengan karakteristik tertentu yang memungkinkan terjadinya proses presipitasi.

Ia mencontohkan, pada kondisi langit dengan banyak awan, modifikasi dilakukan dengan menggabungkan awan-awan yang berdekatan agar hujan dapat dipercepat.

“Kalau kondisi atmosfernya tidak mendukung, modifikasi cuaca otomatis menjadi tidak efektif. Jadi tidak bisa dipaksakan,” jelasnya.

Sonni juga menekankan bahwa dampak modifikasi cuaca bersifat lokal dan terbatas pada wilayah tertentu. Karena itu, penerapannya untuk area yang sangat luas dinilai kurang efektif.

“Untuk wilayah yang cukup besar, modifikasi cuaca tidak efektif. Kalau tetap dipaksakan, itu hanya akan menjadi pemborosan anggaran atau sekadar menghambur-hamburkan dana,” tegasnya.

BACA JUGA  Topan Bebinca Mendekat, Sejumlah Wilayah Tiongkok Waspada

Modifikasi Cuaca Bukan Solusi Permanen

Lebih jauh, Sonni mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada modifikasi cuaca berpotensi mengaburkan persoalan mendasar yang menjadi pemicu utama bencana hidrometeorologi. Persoalan tersebut antara lain perubahan tata guna lahan, kerusakan daerah aliran sungai (DAS), deforestasi, hingga tata kelola lingkungan yang tidak berkelanjutan.

“Selama esensi masalahnya tidak diselesaikan, modifikasi cuaca akan terus menjadi tidak efektif. Ini hanya penanganan gejala, bukan penyakitnya,” ujarnya.

Ia mendorong agar kebijakan mitigasi bencana tidak berhenti pada solusi instan, melainkan diarahkan pada pendekatan jangka panjang dan sistemik. Upaya tersebut harus berbasis pada perbaikan lingkungan, perencanaan wilayah yang matang, serta penguatan kapasitas adaptasi masyarakat.

BACA JUGA  Operasi Modifikasi Cuaca 5-8 Maret Kurangi Hujan di Jabodetabek

“Modifikasi cuaca boleh dilakukan, tetapi harus ditempatkan secara proporsional dan berbasis sains. Jangan sampai solusi cepat justru mengalihkan perhatian dari pekerjaan rumah yang jauh lebih besar,” pungkas Sonni. (*/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Gagas Sistem Transparansi MBG, Kapolresta Sidoarjo Raih Penghargaan

KAPOLRES Sidoarjo Kombes Dr Christian Tobing meraih penghargaan sebagai Tokoh Pelayanan Publik dan Kemitraan Media dalam ajang IJTI Awards 2026. Apresiasi tingkat nasional dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pusat…

Korban Keracunan Menu MBG di Batang Capai 411 Orang

KASUS keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah terus bertambah. Informasi terakhir, per Kamis (25/9/2026) sore, Dinas Kesehatan Kabupaten Batang mencatat ada 411 orang jadi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Gagas Sistem Transparansi MBG, Kapolresta Sidoarjo Raih Penghargaan

  • September 24, 2026
Gagas Sistem Transparansi MBG, Kapolresta Sidoarjo Raih Penghargaan

DJP Jatim II Serahkan Tersangka Pidana Pajak ke Kejari Sidoarjo

  • September 24, 2026
DJP Jatim II Serahkan Tersangka Pidana Pajak ke Kejari Sidoarjo

Korban Keracunan Menu MBG di Batang Capai 411 Orang

  • September 24, 2026
Korban Keracunan Menu MBG di Batang Capai  411 Orang

Bulu Tangkis Sumbang Emas Pertama untuk Indonesia

  • September 24, 2026
Bulu Tangkis Sumbang Emas Pertama untuk Indonesia

Mahasiswa UPI Sumbang Perak untuk Indonesia di Asian Games 2026

  • September 24, 2026
Mahasiswa UPI  Sumbang Perak untuk Indonesia di Asian Games 2026

Tim Mahasiswa UGM Raih Juara 1 Kategori Esai Ilmiah di IPB

  • September 24, 2026
Tim Mahasiswa UGM Raih Juara 1 Kategori Esai Ilmiah di IPB