
TUBERKULOSIS (TB) tidak hanya menyerang paru-paru. Salah satu bentuk TB di luar paru (ekstraparu) yang perlu diwaspadai adalah tuberkulosis ginjal atau renal TB seperti diidap oleh vokalis Element Lucky Widja. Kondisi ini merupakan infeksi ginjal yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Mengutip dari Kidney International, tuberkulosis ginjal diperkirakan terjadi pada sekitar 10-20 persen kasus TB ekstraparu. Penyakit ini umumnya muncul akibat penyebaran bakteri melalui aliran darah (hematogen) dari infeksi TB paru, bahkan bisa terjadi bertahun-tahun setelah infeksi awal. Dalam banyak kasus, TB ginjal baru terdiagnosis 4–5 tahun setelah infeksi primer, sehingga kerap ditemukan pada usia remaja atau dewasa muda.
Bagaimana TB Menyebar ke Ginjal?
Bakteri TB dapat menyebar melalui darah dan membentuk lesi kecil (tuberkel) di bagian ginjal, termasuk glomerulus. Infeksi ini dapat menyebabkan peradangan kronis dan kerusakan jaringan ginjal, termasuk nekrosis kaseosa (kerusakan jaringan khas TB). Jika tidak diobati, kondisi ini berisiko menyebabkan kerusakan permanen hingga gagal ginjal.
Pada beberapa kasus, dapat terbentuk massa kaseosa yang terbungkus di antara piramida dan korteks ginjal. Massa ini bisa mengalami kalsifikasi atau pecah ke rongga ginjal, membentuk kavitas yang menyerupai lubang pada TB paru. Infeksi dapat terjadi pada satu ginjal (unilateral) atau kedua ginjal (bilateral), serta menyebar ke saluran kemih bagian bawah seperti kandung kemih.
Gejala Sering Terlambat Disadari
Tuberkulosis ginjal sering kali menimbulkan gejala yang tidak khas dan berkembang perlahan. Beberapa temuan awal yang umum meliputi:
- Nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil (disuria)
- Adanya darah dalam urine (hematuria)
- Piuria “steril” (ditemukan sel darah putih dalam urine tanpa bakteri umum pada pemeriksaan rutin)
Meski gejala tersebut dapat terlihat jelas, pada banyak kasus keluhan baru muncul ketika penyakit sudah cukup lanjut. Menariknya, pada kasus TB milier maupun TB paru pada anak-anak, bakteri TB kadang sudah dapat ditemukan dalam urine meski belum ada gejala ginjal yang nyata.
Diagnosis dan Pengobatan
Pemeriksaan urine, terutama sampel urine pagi hari, menjadi salah satu cara penting untuk mendeteksi keberadaan bakteri TB. Kultur dan pemeriksaan laboratorium yang tepat umumnya mampu mengidentifikasi bakteri penyebab.
Penanganan tuberkulosis ginjal memerlukan terapi obat antituberkulosis jangka panjang, minimal enam bulan atau lebih. Dengan kemoterapi intensif yang tepat, tindakan pembedahan kini jarang diperlukan.
Karena urine penderita TB ginjal mengandung bakteri yang sangat menular, pasien terutama anak-anak perlu diisolasi hingga urine dinyatakan steril guna mencegah penularan.
Waspada pada Kelompok Berisiko
Tuberkulosis ginjal lebih sering terjadi pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah (imunosupresi). Penyakit ini juga dapat muncul akibat reaktivasi infeksi TB laten yang sebelumnya tidak menimbulkan gejala.
Kesadaran akan kemungkinan penyebaran TB ke organ selain paru sangat penting, terutama bagi pasien dengan riwayat TB paru atau gangguan imun. Deteksi dan pengobatan dini menjadi kunci untuk mencegah komplikasi serius pada ginjal. (*/S-01)







