UGM Pasang EWS Banjir di Bener Meriah

BANJIR susulan masih menjadi kekhawatiran masyarakat di sejumlah wilayah terdampak bencana di Sumatra. Bahkan di penghujung  2025, Selasa (30/12), hujan deras kembali mengguyur Kabupaten Bener Meriah, Aceh.

Aliran sungai yang masih tertutup material sisa banjir menyebabkan luapan air hingga merendam kawasan permukiman warga di Desa Lampahan Timur dan Induk, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah.

Untuk mengurangi keresahan dan kekhawatiran masyarakat, Tim Universitas Gadjah Mada memasang EWS atau sistem peringatan dini bencana banjir di wilayah Bener Meriah.

Program ini diketuai oleh dosen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM, Dr. Sc. Adhy Kurniawan, S.T., bersama Pusat Studi Energi (PSE UGM), dan Universitas Teuku Umar.

Dukungan Kemendiktisaintek

Ini didukung melalui hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisainstek) dalam skema Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tanggap Darurat Bencana.

BACA JUGA  Kurangi Banjir, Wali kota Semarang Buat 1.000 Titik Sumur Resapan

Sistem EWS yang dipasang dirancang mandiri energi dengan panel surya, dilengkapi sensor ketinggian muka air, CCTV pemantauan sungai, serta sirine peringatan yang dapat didengar warga saat potensi banjir meningkat.

“Pemilihan lokasi pemasangan EWS didasarkan pada kejadian banjir susulan akhir tahun 2025 di Desa Lampahan Timur,” ujar Adhy, Jumat (9/1).

Penuh  tantangan

Ia mengungkapkan, proses menuju lokasi tidak mudah, sebanyak 31 paket kargo peralatan dikirim bertahap dari Yogyakarta ke Aceh. Adhy menceritakan perjalanan menuju Bener Meriah pun penuh tantangan.

“Dari Banda Aceh ke Bireuen saja bisa lebih dari enam jam, lalu dilanjutkan ke Bener Meriah enam jam lagi. Akses jalan dan cuaca memang cukup berat,” jelasnya.

Adhy menjelaskan sistem EWS bekerja dengan membaca fluktuasi atau perubahan elevasi muka air sungai. Sensor akan mengirimkan data ke sistem sehingga ketika ketinggian air melewati ambang batas yang ditentukan, sirine akan otomatis berbunyi.

BACA JUGA  Banjir Menggenangi Wilayah Tangsel Sejak Selasa Dinihari

Fitur EWS, jelasnya dilengkapi dua pengeras suara yang dipasang menghadap ke arah berbeda agar peringatan terdengar di lebih dari satu kawasan permukiman.

Pemantauan visual

Selain itu, CCTV memungkinkan pemantauan visual kondisi sungai secara berkala, dengan rekaman yang dapat diakses melalui laman pemantauan.

“Harapannya, saat sirine berbunyi, warga sudah paham itu tanda muka air naik dan harus bersiap, misalnya mengamankan barang-barang penting,” jelasnya.

Sebelumnya, dua EWS telah dipasang bekerja sama dengan Universitas Teuku Umar dan Universitas Cipta Mandiri di Pulau Simeulue pada 2024 melalui program Kosabangsa, serta di wilayah Meulaboh pada 2025.

Tantangan utama pemasangan EWS biasanya terletak pada penentuan lokasi yang tepat. Namun, untuk Bener Meriah, proses berjalan relatif lancar.

BACA JUGA  Penanganan Banjir di Demak dan Grobogan Terus Dilakukan

“Alhamdulillah, lokasi bisa ditentukan dengan cepat dan penempatan alatnya lancar, peralatan utama kami bawa dari Jogja, di sini hanya beli tiang-tiang pendukung,” ujarnya.

Bersifat fleksibel

Ia menambahkan, sistem EWS bersifat fleksibel dan dapat direlokasi jika diperlukan. Adhy menjelaskan jika dalam jangka ke depan BPBD menilai perlu dipindah, tidak memungkiri alatnya mudah direlokasi.

Alat ini dilengkapi GPS yang akan otomatis menyesuaikan lokasi terkait.

“Semoga alat ini dirawat dan difungsikan dengan baik sehingga bisa memberi peringatan dini sebelum banjir terjadi. Ini kontribusi kecil kami untuk masyarakat Aceh,” katanya. (AGT/N-0)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Viral Ribuan Ikan Tembang Terdampar di Pantai Kolaka, Ini Kata BMKG

SEJUMLAH video yang memperlihatkan warga berbondong-bondong memunguti ribuan ikan tembang di bibir pantai viral di berbagai platform media sosial. Belakangan terungkap, fenomena tersebut terjadi di sepanjang Pantai Desa Ladahai-Tamborasi, Kecamatan…

Kemendikdasmen Kirim 5,5 Juta Buku ke 24.609 SD dan SMP

KEMENTERIAN Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendistribusikan 5.538.300 eksemplar buku bacaan bermutu untuk 24.609 sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) yang tersebar di 510 kabupaten/kota pada 38 provinsi.…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Viral Ribuan Ikan Tembang Terdampar di Pantai Kolaka, Ini Kata BMKG

  • July 31, 2026
Viral Ribuan Ikan Tembang Terdampar di Pantai Kolaka, Ini Kata BMKG

Kemendikdasmen Kirim 5,5 Juta Buku ke 24.609 SD dan SMP

  • July 31, 2026
Kemendikdasmen Kirim 5,5 Juta Buku ke 24.609 SD dan SMP

169 Warga di Tasikmalaya Positif HIV/AIDS Didominasi LSL dan Usia Produktif

  • July 31, 2026
169 Warga di Tasikmalaya Positif HIV/AIDS Didominasi LSL dan Usia Produktif

2.500 Hektare Lahan Pertanian di Priangan Timur Terancam Gagal Tanam

  • July 31, 2026
2.500 Hektare Lahan Pertanian di Priangan Timur Terancam Gagal Tanam

Awasi Kinerja ASN, Pemkot Tasikmalaya Kembangkan Aplikasi Si Kece Badai

  • July 31, 2026
Awasi Kinerja ASN, Pemkot Tasikmalaya Kembangkan Aplikasi Si Kece Badai

Polisi dan TNI Berjibaku Padamkan Karhutla di Perhutani Banyumas

  • July 30, 2026
Polisi dan TNI Berjibaku Padamkan Karhutla di Perhutani Banyumas