
MAHASISWA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata Mandiri (KKN-M) di Padukuhan Kedon, Kalurahan Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul memberikan pengetahuan praktis bagaimana merawat busana untuk keperluan kesenian yakni busana Reog Wayang milik warga setempat.
Busana Reog Wayang ini menjadi inventaris kelompok kesenian Reog Wayang yang hidup dan dilestarikan oleh warga.
Untuk memberikan edukasi perawatan busana yang digunakan untuk keperluan khusus dan tidak digunakan sehari-hari, para mahasiswa ini menghadirkan pula narasumber yang memiliki keahlian merawat busana kesenian, Wahyu Depa Prakarsa.
Kepada warga pelestari kesenian, Wahyu menjelaskan busana tari, khususnya pada kesenian Reog Wayang, memiliki peran penting tidak hanya sebagai pelengkap pertunjukan, tetapi juga sebagai penegas karakter, identitas, dan nilai estetika dari tarian yang dibawakan. Oleh karena itu, pemahaman dan pemeliharaan busana tari menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
Sesuai karakter tari
“Busana tari harus dirawat dengan benar agar tetap layak pakai dan tidak kehilangan nilai artistiknya,” katanya di lokasi KKN, Senin. Menurut Wahyu, pemeliharaan meliputi cara membersihkan dan menyimpan agar tetap terus terjaga serta bagaimana memperbaiki busana jika ditemukan kerusakan.
Agar tidak cepat rusak selama disimpan, kata Wahyu, harus dijaga agar tidak mengalami kelembapan tinggi, selalu dijaga dan dibersihkan dari kotoran dan perawatan pembersihan pemeriksaan kembali setelah penggunaan.
Ia juga menambahkan bahwa penerapan busana tari yang tepat harus disesuaikan dengan karakter tari dan kebutuhan penari. Busana yang nyaman dan sesuai akan mendukung pergerakan penari sekaligus memperkuat makna pertunjukan yang disajikan kepada penonton.
Beri pendampingan
Kegiatan edukasi ini disambut antusias oleh karang taruna dan pelaku seni setempat. Selain mendapatkan materi secara teoritis, peserta juga diajak berdiskusi mengenai pengalaman mereka dalam merawat busana Reog Wayang yang selama ini digunakan dalam berbagai pementasan di lingkungan masyarakat.
Mahasiswa KKNM UNY yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Ahdanisa, Tafakur Rachman Sumpeno, Maulida Arista Nur Priyani, Arvina Damayanti, Roby Syahrul Mubarok, Tedjun Cahya Kartalumasih, Khoirunisa Wulandari, dan Radika Kamila Dewi. Mereka berperan aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga pendampingan kegiatan bersama masyarakat.
Ketua KKN-M UNY Kedon, Ahdanisa, menyampaikan kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap keberlanjutan seni tradisi di desa. Menurut dia, masih banyak kelompok seni yang memiliki keterbatasan pengetahuan terkait pemeliharaan busana, padahal busana merupakan aset penting dalam setiap pertunjukan.
Kelestarian budaya lokal
“Kami melihat busana Reog Wayang sering digunakan secara rutin, namun belum semuanya dirawat dengan metode yang tepat. Melalui kegiatan ini, kami ingin membantu masyarakat agar busana tetap terjaga kualitasnya, sehingga kesenian Reog Wayang bisa terus dilestarikan dan ditampilkan secara maksimal,” ujar Ahdanisa.
Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat Kedon, khususnya dalam menjaga kelestarian seni budaya lokal. Selain itu, mahasiswa KKNM UNY juga berharap sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat terus terjalin dalam berbagai program pengabdian yang bermanfaat.
Melalui kegiatan edukasi pemeliharaan busana Reog Wayang ini, mahasiswa KKNM UNY tidak hanya berkontribusi dalam aspek pendidikan dan kebudayaan, tetapi juga turut memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya merawat warisan budaya sebagai identitas daerah yang bernilai tinggi. (AGT/N-01)







