
KETUA Majelis Pembina Daerah (Mabida) Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan HB X menegaskan, Pramuka perlu segera bertransformasi melalui tiga orientasi.
Hal ini dimaksudkan untuk menghadapi gelombang perubahan sosial, teknologi, dan budaya generasi muda, mengharuskan Pramuka kembali membaca tanda-tanda zaman, dengan kejernihan batin dan keluasan wawasan.
Usai dilantik sebagai Ketua Pengurus Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) Gerakan Pramuka DIY periode 2025-2030, oleh Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Budi Waseso di Kepatihan, Senin Sri Sultan, mengemukakan orientasi pertama adalah modernisasi paedagogi Pramuka, melalui integrasi teknologi digital, literasi lingkungan, kewargaan global, serta praktik kewirausahaan sosial.
“Modernisasi paedagogi Pramuka ini perlu, lantaran secara strategis, tantangan utama Pramuka masa kini adalah relevansi pedagogis. Pramuka harus menjadi ruang pendidikan yang inspiratif, bukan sekadar ritual administratif,” kata Sri Sultan.
Orientasi transformasi

Ketua Mabida Gerakan Pramuka DI Yogyakarta Sri Sultan HB X seusai dilantik. (Dok.Ist)
Generasi muda, katanya hidup dalam dunia yang cair, cepat, dan sarat informasi. Mereka membutuhkan ruang belajar yang tidak hanya mengasah kecakapan teknis, tetapi juga kemampuan reflektif, empatik, dan kolaboratif.
Kedua, orientasi transformasi bagi Pramuka ialah penguatan nilai kebangsaan yang inklusif, sehingga Pramuka menjadi forum pembelajaran lintas latar belakang.
Hal ini menumbuhkan budi pekerti dan semangat gotong royong, sebagai inti kepribadian Indonesia. Poin ini berkaitan erat dengan tantangan reposisi nilai yang juga dihadapi saat ini. Keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan, adalah nilai luhur yang harus tetap dijaga.
Namun nilai-nilai itu, perlu diterjemahkan dalam kerangka masyarakat demokratis, yang menjunjung kesetaraan dan kebebasan berpendapat.
“Resonansi antara tradisi dan nilai-nilai baru, dapat menjadi peluang, untuk memantapkan kembali karakter kewargaan yang kooperatif dan matang,” kata Sri Sultan.
Pembaruan tata kelola
Sedangkan orientasi ketiga adalah orientasi transformasi bagi Pramuka, yaitu pembaruan tata kelola dan kaderisasi. Hal ini, imvuhnya agar Pramuka melahirkan pemimpin muda, yang tidak hanya patuh terhadap aturan, tetapi juga peka terhadap realitas, serta mampu menimbang keputusan dengan kejernihan moral.
Sri Sultan menegaskan Pramuka tidak sekadar bertahan, tetapi ‘ngrembaka’ — tumbuh berkembang — menjadi gerakan yang relevan, adaptif, dan berdaya cipta bagi masa depan bangsa. Suatu gerakan yang tetap setia pada nilai, namun luwes membaca dinamika zaman; kokoh berakar, namun lentur menggapai cakrawala baru,” tutur Sri Sultan.
Sri Sultan juga menyebut, tantangan lain yang tidak kalah penting, adalah transformasi cara belajar dan mengambil keputusan. Penelitian lintas ilmu memperlihatkan, bahwa kemampuan seseorang berkembang lebih baik, ketika intuisi dipadukan dengan struktur pembelajaran yang terarah.
“Pramuka harus menjadi ruang yang menumbuhkan kemandirian nalar, keberanian mencoba, dan kesediaan belajar dari kegagalan. Sebab dari kegagalan yang dihayati, lahirlah kebijaksanaan,” ujar Sri Sultan. (AGT/N-01)







