Pameran Lukisan Memanfaatkan Galeri Alternatif Desa

SEBUAH event pameran lukisan , membutuhkan ruang pamer representatif jika merujuk standar galeri.

Namun tidak demikian halnya yang terjadi di pameran lukisan pada perhelatan tahunan acara Nginguk Githok, Dusun Sekararum, Desa Sekarsari, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Yakni memanfaatkan gudang tembakau sebagai ruang galeri alternatif untuk memajang pameran lukisan karya tiga perupa asal Pati.

Pameran lukisan bertajuk Gegayuhan adalah semacam harapan yang ingin dicapai, keinginan dan cita cita.

Zaenuri sebagai Bayan (perangkat desa) Sekararum memang menggandeng ketiga perupa Pati untuk menggelar pameran lukisan.

Imam Bocah , Putut Pasopati, dan Imam Tohari berpendapat ini pameran lukisan lanjutan setelah Kemaruk di Kudus tahun lalu.

Karya pameran lukisan di dominasi gambar atau drawing tentang dinamika sosial masyarakat, tempat situs kampung, dan juga spiritualitas.

Imam Bucah menghadirkan selain drawing juga karya cetak digital. Perupa yang sering juga mewarnai dunia buku dengan karya sampul.

Putut masih setia dengan gambar gambar bolpoint di kertas tentang tempat-tempat sakral warga. Tempat seperti punden, sumber mata air, dan dunia fabel.

BACA JUGA  Kadinas Pertanian Sragen Selidiki Penjualan Pupuk Bersubsidi di Medsos

Sementara Imam tohari selain gambar kertas juga menghadirkan karya kanvas tentang dehumanisme. Problematika manusia menuju era robotik.

Pembatasan warna

Kendatipun ketiga perupa punya perbedaan sudut pandang bidikan.  Namun ketiganya memiliki beberapa kesamaan tentang pembatasan warna hingar bingar, hingga yang tampak cenderung dominasi warna monokromatik.

Sejurus dengan tema gegayuhan ketiga perupa memang punya konsep mendekatkan seni pada jantung masyarakat. Interaksi pada pameran lukisan dirasa penting agar apresiasi masyarakat dapat terjalin sampai ke tingkat dusun.

“Secara konsep saya memang cocok dengan perupa Pati dengan pendekatan kulturalnya,” kata Zaenuri sebagai Bayan Dusun Sekararum.

Keunikan pemilihan ruang ini sebetulnya sudah pernah dilakukan tahun sebelumnya. Yakni dengan memanfaatkan rumah dan teras warga.

Ini bagian dari strategi memecahkan masalah ruang pamer untuk event di tingkat desa.

Pasalnya, desa tentu tidak memiliki kelengkapan ruang seperti di galeri-galeri umumnya yang terbiasa menggelar pameran lukisan.

BACA JUGA  Jateng Mampu Penuhi Target Produksi 11,8 Juta Ton Beras

SKRM bekerjasama dengan Hysteria sebagai pendamping acara tahunan Sedekah Bumi Sekararum dengan Nginguk Githok sudah sampai perhelatan tahun ketujuh.

Ruang wahana seni budaya

Memadukan tontonan tradisional dan modern. Tayub di punden desa wajib hadir. Kemudian kethoprak dan barongan, serta seni tari Gedrug dari Ungaran.

“Kami memang biasa menampilkan seni dari yang rural sampai urban di setiap event. Jika ini rutin disambungkan , harapan kami perkembangan seni dan budaya masyarakat tidak lagi terjadi ketimpangan,” kata Adin mewakili Hysteria.

Pilihan gudang tembakau sebagai ruang pamer, ada keinginan memaknai ulang ruang-ruang yang di miliki masyarakat agar punya fungsi lain sebagai wahana seni budaya.

“Ini bisa di runut kesejarahannya dengan masyarakat Sekararum yang kini sudah banyak yang menjadi petani tembakau oleh karena persoalan air di sini ,” tambah Adin menjelaskan.

Media lukis yang terjangkau

Pameran lukisan berlangsung dari tanggal 13 Mei sampai 18 Mei 2025 diharapkan merangsang gairah masyarakat tentang seni rupa, utamanya pelajar dan generasi muda. Karena karya yang hadir dengan media lukis yang mudah dijangkau seperti kertas dan bolpoint atau tinta china.

BACA JUGA  DPRD Dukung Jateng Jadi Lumbung Pangan Nasional

“Kendala pemula ketika ingin berkarya rupa itu selain teknis, rata rata kekhawatiran akan material atau bahan berkarya yang makin mahal. Jadi ini juga bagian dari solusi persoalan persoalan bagaimana mengatasi kreativitas denganevent pameran lukisan , membutuhkan ruang pamer representatif jika merujuk standar galeri. modal yang mudah dijangkau,” kata Putut Pasopati

“Tinggal di daerah dengan kondisi kesenian yang penuh perjuangan itu, harus melewati kendala yang sifatnya elementer, termasuk persoalan media, ” tandas Imam Bucah. (Put/W-01)

bowo prasetyo

Related Posts

Sekolah Terakhir; Kegelisahan Fathul Wahid pada Dunia Pendidikan

NOVEL berjudul Sekolah Terakhir karya mantan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid terbitan Buku Mojok dijadikan bahan diskusi dan refleksi kritis dunia pendidikan yang digelar Prodi Pendidikan Agama Islam…

Negara Dinilai belum Akui dan Lindungi Hak Masyarakat Adat

DPR RI secara resmi memasukkan RUU Masyarakat Adat ke dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas tahun 2026. Namun para akademisi mendesak agar pembahasan RUU Masyarakat Adat ini melibatkan pimpinan masyarakat,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Gebuk India, Timnas Voli Indonesia Melenggang ke Final AVC Cup

  • June 28, 2026
Gebuk India, Timnas Voli Indonesia Melenggang ke Final AVC Cup

AS dan Iran Kembali Saling Serang meski Sudah Berdamai

  • June 27, 2026
AS dan Iran Kembali Saling Serang meski Sudah Berdamai

TNI AL Kirim Personel ke Italia untuk Jadi Awak Kapal Induk Garibaldi

  • June 27, 2026
TNI AL Kirim Personel ke Italia untuk Jadi Awak Kapal Induk Garibaldi

Belgia dan Mesir Lolos, Iran Tunggu Antrean, Selandia Baru Nangis di Pojokan

  • June 27, 2026
Belgia dan Mesir Lolos, Iran Tunggu Antrean, Selandia Baru Nangis di Pojokan

Tanjung Verde Cetak Sejarah, Spanyol Bikin Uruguay Merana

  • June 27, 2026
Tanjung Verde Cetak Sejarah, Spanyol Bikin Uruguay Merana

Sederet Tokoh Bangsa Dapat Penghargaan HPN Awards

  • June 27, 2026
Sederet Tokoh Bangsa Dapat Penghargaan HPN Awards