
SAAT rasa suntuk melanda, banyak orang memilih minum kopi sebagai solusi cepat. Kebiasaan ini bukan sekadar tren atau sugesti semata, melainkan memiliki dasar ilmiah yang telah dibahas oleh para pakar internasional dalam berbagai buku dan penelitian.
Kopi mengandung kafein, zat stimulan yang bekerja langsung pada sistem saraf pusat. Dalam bukunya Why We Sleep, ahli saraf dan profesor neurobiologi dari University of California, Berkeley, Matthew Walker, menjelaskan bahwa kafein bekerja dengan cara menghambat adenosin, senyawa kimia di otak yang memicu rasa lelah dan kantuk.
“Ketika adenosin diblokir oleh kafein, otak menjadi lebih waspada dan rasa lelah sementara tertunda,” tulis Walker dalam bukunya.
Efek inilah yang membuat kopi terasa membantu ketika seseorang mengalami kejenuhan mental atau penurunan konsentrasi.
Meningkatkan Mood dan Motivasi
Selain meningkatkan kewaspadaan, kopi juga berpengaruh terhadap suasana hati. Dalam buku Caffeine: How Caffeine Created the Modern World, pakar psikofarmakologi asal Amerika Serikat, Michael Pollan, menyebut bahwa kafein dapat merangsang pelepasan dopamin, zat kimia otak yang berkaitan dengan rasa senang dan motivasi.
Menurut Pollan, kafein “membuat pekerjaan terasa lebih ringan dan pikiran lebih fokus,” sehingga banyak orang merasa kembali bersemangat setelah minum kopi.
Hal serupa diungkapkan oleh Dr. Alan Weinberg, pakar kedokteran dan peneliti kafein, yang dalam bukunya The Everything Guide to Caffeine menjelaskan bahwa konsumsi kafein dalam dosis moderat dapat membantu mengurangi rasa jenuh dan meningkatkan performa kognitif.
Efek Psikologis dari Ritual Minum Kopi
Tak hanya dari sisi biokimia, minum kopi juga memiliki efek psikologis. Dalam buku The Power of Habit, penulis dan jurnalis sains Charles Duhigg menjelaskan bahwa ritual sederhana—seperti membuat dan meminum kopi dapat menjadi pemicu kebiasaan positif bagi otak.
“Ritual memberi sinyal pada otak bahwa ada jeda dari tekanan, sehingga membantu proses pemulihan mental,” tulis Duhigg.
Aroma kopi juga berperan penting. Sejumlah penelitian yang dirangkum dalam buku Coffee: A Comprehensive Guide to the Bean, the Beverage, and the Industry menyebutkan bahwa aroma kopi dapat memberikan efek relaksasi ringan dan meningkatkan suasana hati bahkan sebelum diminum.
Tetap Perlu Batasan
Meski memiliki manfaat, para pakar menegaskan kopi bukan solusi utama untuk semua jenis kelelahan. Matthew Walker dalam bukunya juga mengingatkan bahwa kafein hanya menunda rasa lelah, bukan menghilangkannya.
“Kopi tidak bisa menggantikan tidur. Kurang tidur tetap akan berdampak pada kesehatan fisik dan mental,” tegasnya.
Konsumsi kopi berlebihan justru dapat memicu kecemasan, jantung berdebar, hingga gangguan tidur. Karena itu, para ahli merekomendasikan konsumsi kafein secara moderat dan tetap mengutamakan istirahat cukup serta pengelolaan stres.
Dengan demikian, kopi memang dapat membantu mengatasi rasa suntuk dalam jangka pendek, baik secara biologis maupun psikologis. Namun, manfaatnya akan optimal jika dibarengi dengan pola hidup sehat dan keseimbangan aktivitas. (*/S-01)







