Yogyakarta Jadi Kota Percontohan Penanganan Kanker Payudara

KASUS kanker payudara di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta  didominasi oleh perempuan pada rentang usia 20 hingga 54 tahun.

Saat merespons fenomena tersebut, Kota Yogyakarta secara resmi ditetapkan sebagai kota percontohan (pilot programme) nasional dalam penguatan kanker payudara.

Ketua Yayasan Kanker Indonesia Cabang Koordinator DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, menekankan bahwa penanganan kanker payudara menuntut pendekatan keperawatan yang berpusat pada manusia.

Bukan hanya fisik

Menurutnya, setiap individu memiliki perjalanan kanker yang berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang tidak hanya sebatas fisik.

“Obati orangnya, jangan hanya penyakitnya. Kebutuhan pasien berbeda-beda, tidak hanya kebutuhan fisik, tetapi juga ekologis, spiritual, dan sosial,” tegasnya saat peluncuran Yogyakarta Breast Cancer Inisiative.

Yayasan Kaker Indonesia Yogyakarta dalam rilis yang diterima www.mimbarnusantara.com, mengungkapkan faktor penting dalam keberhasilan program YBCI (Yogyakarta Breast Cancer Initiative) selain pelayanan medis adalah kehadiran pendamping yang mampu memberikan bantuan sesuai kebutuhan pasien.

BACA JUGA  Sambut Hari Bhayangkara, Alumni Akabri 1994 Gelar Baksos dan Bakkes di ISI

“Melalui pendekatan kolaborasi dengan berbagai elemen, misalnya masyarakat, dapat membantu memberikan dukungan agar pasien kanker payudara dapat tuntas melakukan pengobatan medisnya,” jelas GKR Hemas.

Berkolaborasi

Sebagai informasi, program YBCI merupakan model operasional dari Rencana Aksi Nasional Kanker Payudara yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan RI.

Dalam pelaksanaannya, Kemenkes berkolaborasi dengan City Cancer Challenge Foundation (C/Can) serta menunjuk FK-KMK UGM sebagai Lead Implementing Partner.

Ketua City Executive Committee YBCI, Dr. dr. Kartika Widayati, Sp.PD-KHOM, FINASIM, menjelaskan bahwa inisiatif ini sangat krusial untuk memetakan kondisi riil di lapangan.
.
“YBCI membantu mengidentifikasi gap sistem, memperkuat koordinasi layanan, dan menetapkan prioritas aksi yang implementatif serta dapat direplikasi di kota lain di Indonesia,” jelasnya.

Struktur tata kelola

 Dr. Kartika memaparkan lagi YBCI lahir dari program delapan bulan bertajuk City Engagement Process (CEFP). Pada tahap ini, fokus utamanya adalah pembentukan struktur tata kelola untuk memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan.

BACA JUGA  Biro Tapem DIY Siapkan Skenario Pelantikan Bupati/Walikota

Struktur tersebut mencakup City Executive Committee (CEC) sebagai badan pengarah dan pengambil keputusan strategis yang beranggotakan pemerintah daerah, rumah sakit, akademisi, masyarakat sipil, dan perwakilan pasien.

Di bawah CEC akan dibentuk Breast Cancer Working Group (BCWG) yang terdiri atas para pakar teknis.

“Kelompok kerja ini terbagi ke dalam empat pilar utama, yakni manajemen dan mutu layanan kanker, layanan diagnosis, layanan pengobatan, serta akses komunitas dan pasien,” jelasnya.

Kebutuhan nyata

Dekan Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, dalam sambutannya menyampaikan bahwa sejarah panjang institusi  FK-KMK selalu bertumpu pada keberpihakan pada kebutuhan nyata kesejahteraan masyarakat.

BACA JUGA  Hasil Kompetisi Sketsa Mainkan Garismu Dipamerkan 25 Januari

“Bagi kami, peluncuran program YBCI merupakan sebuah ikhtiar kolektif untuk memastikan kebijakan, ilmu, dan layanan kesehatan benar-benar menjawab tantangan kanker payudara di Indonesia,” ungkapnya.

Prof. Yodi menjelaskan bahwa dalam menjawab tantangan kanker payudara di Indonesia, tentu tidak bisa lepas dari persoalan sistemik yang menyangkut tata kelola, akses, literasi dan kebijakan.

Menurutnya, dengan penetapan Kota Yogyakarta sebagai Horizon City pertama di Indonesia, program YBCI dapat menjadi model operasionalisasi Rencana Aksi Nasional di tingkat kota yang kontekstual, terintegrasi, dan berkelanjutan.

“YBCI hadir sebagai model operasionalisasi rencana aksi nasional di tingkat kota yang menghubungkan antara kebijakan nasional, bukti ilmiah, dan akses layanan,” pungkasnya. (AGT/N-02)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Keluarga Korban Desak Eksekusi Dokter TNI AL Terpidana Kekerasan Seksual

KELUARGA korban kekerasan seksual mendesak Pengadilan Militer III-12 Surabaya segera mengeksekusi Raditya, oknum anggota TNI AL berpangkat perwira yang juga berprofesi sebagai dokter. Desakan itu muncul setelah putusan kasasi Mahkamah…

Dampak Cuaca Buruk Sejumlah Lokasi di Sleman Longsor

KEPALA Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Haris Martapa membenarkan terjadinya longsor di sejumlah lokasi di Sleman setelah terjadi hujan deras yang disertai angin kencang. Ia menyebutkan talud di…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Eropa Siapkan Rencana jika AS Jadi Keluar dari NATO

  • April 15, 2026
Eropa Siapkan Rencana jika AS Jadi Keluar dari NATO

KPK Bakal Geledah Ruangan Pemkab Tulungagung

  • April 15, 2026
KPK Bakal Geledah Ruangan Pemkab Tulungagung

Duel Joshua Versus Fury Direncanakan Digelar November

  • April 15, 2026
Duel Joshua Versus Fury Direncanakan Digelar November

Bekuk Kaledonia Baru, Timnas Putri Tempati Posisi Ketiga

  • April 15, 2026
Bekuk Kaledonia Baru, Timnas Putri Tempati Posisi Ketiga

Perluas Layanan Bisnis, Kalog Angkut CPO

  • April 15, 2026
Perluas Layanan Bisnis, Kalog Angkut CPO

Keluarga Korban Desak Eksekusi Dokter TNI AL Terpidana Kekerasan Seksual

  • April 15, 2026
Keluarga Korban Desak Eksekusi Dokter TNI AL Terpidana Kekerasan Seksual