
KABUPATEN Sleman melakukan berbagai langkah guna masuk dalam jejaring kota film dunia melalui UNESCO Creative Cities Network (UCCN).
Setelah dinyatakan lolos seleksi nasional tahap II pengusulan nominasi anggota UCCN 2027 bidang film, Pemkab Sleman kini memperkuat ekosistem perfilman agar mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan pariwisata bagi masyarakat.
Bupati Sleman, Harda Kiswaya menyampaikan keberhasilan lolos seleksi nasional tahap II menjadi momentum penting bagi Sleman untuk semakin memperkuat posisi sebagai daerah yang memiliki ekosistem perfilman.
Strategi pembangunan daerah
Menurutnya, film, animasi, dan video tidak hanya dipandang sebagai subsektor ekonomi kreatif, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah.
“Saya yakin film ini menjadi salah satu harapan kami untuk peningkatan perekonomian dan juga mengurangi pengangguran yang ada di Kabupaten Sleman.”
“Bagi Sleman, film, animasi, dan video adalah bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang dapat menggerakkan ekonomi, membuka lapangan kerja, meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat pariwisata, memperkaya budaya, sekaligus membangun citra dan daya saing daerah,” ujarnya, Senin.
Harda menambahkan, Pemkab Sleman berkomitmen untuk mendukung pengembangan Sleman sebagai daerah dengan ekosistem perfilman yang semakin maju dan memastikan bahwa film bukan berhenti sebagai karya, namun juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Punya modal penting
Sleman katanya memiliki target membangun ekosistem perfilman yang inklusif, berkelanjutan, kolaboratif, dan berdaya saing global.
Pemerintah daerah juga ingin Sleman tidak hanya menjadi lokasi produksi film, tetapi mampu melahirkan karya yang dapat dibawa ke tingkat internasional.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Abu Bakar menambahkan Sleman telah memiliki sejumlah modal penting, mulai dari studio animasi dan film, komunitas perfilman, perguruan tinggi dan SMK, lembaga pelatihan, lokasi produksi, hingga bioskop dan televisi lokal.
“Sleman dengan jumlah penduduk 1.190.000 jiwa, kita punya komunitas film itu 16 komunitas. Studio animasi film yang terdaftar itu sembilan lebih studio.”
“Belum lagi yang freelance ada film animasi nyuplay-nyuplay itu banyak sekali. Di daerah Depok, di daerah Condongcatur itu luar biasa banyaknya, 24 produksi film, lima gedung film,” jelasnya.
Lokasi syuting
Abu Bakar menambahkan Sleman juga telah ditetapkan sebagai Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia subsektor Film, Animasi, dan Video pada 2023 berdasarkan Keputusan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor SK/102/DI.01.00/MK/2023.
Selain itu, Sleman pernah menjadi lokasi produksi film, termasuk Beyond Skyline pada 2017, serta menjadi salah satu lokasi penting penyelenggaraan JAFF dan JAFF Market.
“Sleman dalam hal ini lima tahun belakangan ini sudah ada beberapa lokasi untuk film yaitu Breksi Skyline di 2017, Gunung Merapi, Keraton sebagai sumbu filosofi, dan yang anak-anak muda dulu di Ratu Boko sama di Plunyon itu KKN Desa Penari, AADC (Ada Apa dengan Cinta) di Sleman di Plataran Ratu Boko, habis itu di Sate Klathak, kopinya di Palagan.”
“Terus yang baru ini dari Pak Prof Suyanto filmnya, film internasional Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), ini yang terbaru,” tandas Abu.
Industri kreatif berbasis teknologi
Dari sisi pendidikan dan teknologi, Rektor Universitas AMIKOM Yogyakarta, Prof. Suyanto menyampaikan bahwa Kabupaten Sleman memiliki potensi besar dalam pengembangan industri kreatif berbasis teknologi.
Keberadaan perguruan tinggi dengan kompetensi di bidang teknologi informasi, animasi, film, dan industri kreatif menjadi salah satu kekuatan dalam membangun ekosistem perfilman di Sleman.
Menurutnya, pengusulan Sleman sebagai Kota Film dalam jejaring UNESCO Creative Cities Network (UCCN) menjadi peluang strategis karena hingga saat ini belum terdapat kota film di Indonesia maupun Asia Tenggara.
Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi keunggulan bagi Sleman dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif, khususnya perfilman.Prof. Suyanto mengatakan, potensi tersebut didukung komitmen Pemerintah Kabupaten Sleman dalam pengembangan talenta di bidang film, animasi, dan video.
Talenta muda
Ia menyebut Universitas AMIKOM Yogyakarta telah mendidik hampir 500 mahasiswa asal Sleman di bidang tersebut.
“Potensi yang kita miliki sangat besar, ditambah komitmen Bupati, Sekda, dan jajaran Pemerintah Kabupaten Sleman untuk mengembangkan talenta di bidang film. Pertama, Sleman sudah berkomitmen untuk mengasah talenta yang luar biasa, dan yang diasah anak orang miskin.”
“Ini luar biasa, hampir 500 anak yang sekolah di Amikom khususnya untuk bidang film, animasi, dan video,” ujarnya.
Produksi film animasi
Ia menambahkan, pengembangan ekosistem perfilman Sleman juga didukung produksi film animasi melalui MSV Studio. Salah satunya film Ajisaka: The King, The Flower of Life yang disebut akan segera diluncurkan.
Menurut Suyanto, pengembangan film di Sleman memiliki orientasi pasar yang lebih luas karena diarahkan untuk menembus pasar internasional, termasuk Hollywood.
“Indonesia biasanya membuat film untuk pasar Indonesia, dibawa ke Singapura, baru ke Asia Tenggara. Sleman bagaimana? Sleman dibawa ke Hollywood, disebarkan ke seluruh dunia, itu yang membedakan. Nah, karena kita sudah terkait, berhubungan dengan orang-orang Hollywood. Sebentar lagi Ajisaka akan launching. Insya Allah dalam bulan ini Ajisaka akan selesai,” jelas Suyanto.
Pengembangan industri film internasional tersebut berpotensi memberikan dampak ekonomi yang besar, baik melalui ekspor produk kreatif maupun investasi perfilman.
Buka lapangan kerja
Selain Ajisaka, sejumlah proyek film seperti Golden Snail (Keong Emas) dan Princess of Borobudur juga disebut memiliki peluang untuk menarik minat investor dan mitra industri film internasional.
Menurutnya, semakin berkembangnya industri perfilman akan meningkatkan kebutuhan terhadap talenta lokal. Kondisi tersebut diharapkan dapat menjadikan Sleman sebagai salah satu pusat pengembangan film dan animasi di Indonesia sekaligus membuka lapangan kerja bagi generasi muda.
“Jadi intinya adalah dengan kita bisa ekspor film, kita ada investasi dari Hollywood, maka saya yakin anak-anak di Sleman itu semakin banyak yang kita butuhkan. Maka Sleman akan menjadi lembah film animasi Indonesia, yang jelas akan meningkatkan PDRB. Itulah sesuatu yang sangat luar biasa bagi kita,” tuturnya.
Apresiasi komitmen Pemkab Sleman
Pada kesempatan itu, Suyanto pun mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Sleman dalam mendorong pengembangan sektor perfilman sebagai bagian dari upaya menuju Jejaring Kota Kreatif UNESCO (UCCN).
“Saya mengucapkan terima kasih atas komitmen Bapak Bupati dan Pak Sekda beserta jajarannya untuk film ini kita bisa menuju untuk film sebagai jaringan UNESCO (UCCN),” tandasnya. (AGT/M-01)








