
“PARING Dalem minggah Pangkat sarta Kalenggahan puniki katetepake dhumateng Pakenira sedaya ing dinten puniki kanthi pangajab, mugi Pakenira sedaya minangka Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat saged nindakake sedaya ayahan ingkang sampun katetepake wenten salebete serat kekancingan sewahu kanthi tumemen,” ungkap pesan Kanjeng Wiro dalam atur wewarah yang disampaikan dengan Bahasa Bagongan — bahasa khas yang hanya berlaku di lingkungan Kraton Yogyakarta.
Artinya: “Anugerah Sri Sultan berupa kenaikan pangkat dan kedudukan yang diberikan kepada anda semua pada hari ini diharapkan anda semua sebagai Abdi Dalem Kraton Yogyakarta dapat menjalankan semua kewajiban yang telah ditetapkan melalui surat keputusan tadi dengan penuh tanggungjawab.”
Hal itu disampaikan Penghageng Parentah Hageng KPH Wironegoro pada upacara kenaikan pangkat Abdi Dalem yang diadakan di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan pada Selasa Wage (07/04) atau 11 Sawal Dal 1959.
216 abdi dalem
Sebanyak 216 Abdi Dalem, yang terdiri dari unsur Punakawan (tenaga operasional yang menjalankan tugas keseharian di dalam keraton) dan Kaprajan (mereka yang berasal dari TNI, Polri, dan Pegawai Negeri Sipil yang diterima dan diangkat sebagai Abdi Dalem), menerima Serat Kekancingan atau surat keputusan kenaikan pangkat (minggah pangkat) serta pengangkatan jabatan (kalenggahan).
Pada Wisudan Sawal kali ini, jumlah Abdi Dalem yang menjalani wisuda sebanyak 216 Abdi Dalem yang terdiri 122 Abdi Dalem Reh Punakawan dan 94 Abdi Dalem Reh Kaprajan.
Reh Punakawan meliputi 2 Sipat Bupati Anom, 3 Riya Bupati Anom, 9 Wedana, 23 Penewu, 22 Lurah, 21 Bekel Tuwa, 27 Bekel Anom, dan 15 Jajar. Sementara dari Reh Kaprajan sebanyak 6 Sipat Bupati, 12 Riya Bupati Anom, 36 Wedana, 4 Penewu, 7 Lurah, 20 Bekel Tuwa, dan 9 Bekel Anom.
Kanjeng Wiro — KPH Wironegoro — mengingatkan agar setiap Abdi Dalem mampu menjaga perilaku dan tidak melanggar aturan negara maupun paugeran (adat) Keraton Yogyakarta. (RO/agt/M-01)






