
WARGA Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta mengikuti kegiatan edukasi keuangan yang diselenggarakan di Amphitarium Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan mengusung tema Penguatan Literasi dan Implementasi Keuangan Syariah Menuju Kemandirian Ekonomi Warga Muhammadiyah.
Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama Yogyakarta dan merupakan hasil kerjasama antara UAD dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.
Tujuannnya adalah meningkatkan literasi serta penerapan prinsip keuangan syariah dalam kehidupan sehari-hari guna mendorong kemandirian ekonomi warga Muhammadiyah.
Fondasi utama
Rektor UAD, Prof. Dr. Muchlas, M.T., menegaskan pentingnya literasi keuangan syariah sebagai fondasi utama. “Saya kira literasi keuangan ini sangat penting bagi umat Muhammadiyah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kemandirian ekonomi tidak akan tercapai tanpa pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan berbasis syariah.
“Kemandirian tidak akan terwujud kalau tidak ada pemahaman yang baik tentang pengelolaan keuangan yang sesuai prinsip syariah,” jelasnya.
Langkah strategis
Ketua PWM (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) DIY, Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, menyebut literasi keuangan syariah sebagai bagian dari upaya mencapai kesejahteraan hidup.
“Literasi keuangan syariah penting bagi kita, jalan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat,” ujarnya.
Ia juga menilai kebijakan penggunaan sistem keuangan syariah di lingkungan Muhammadiyah sebagai langkah strategis.
“Ini merupakan langkah strategis agar dunia keuangan syariah bisa lebih bergairah,” tambahnya.
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, H. Singgih Januratmoko, S.H., M.M., menekankan peran keuangan syariah dalam menciptakan keadilan ekonomi.
“Keuangan syariah bukan lagi bicara halal dan haram, tetapi instrumen membangun ekonomi yang berkeadilan,” ujarnya.
Kesenjangan konvensional dengan syariah
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dr. Ferry Irawan, S.E., M.S.E., menyoroti masih adanya kesenjangan antara keuangan konvensional dan syariah.
“Konvensional sudah sekitar 93 persen, sedangkan syariah baru 13,4 persen,” jelasnya, seraya menegaskan perlunya peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah.Kegiatan ini diharapkan mendorong warga Muhammadiyah menjadi pelaku aktif dalam penguatan ekonomi berbasis syariah. (AGT/M-01)







