
BERDASAR perhitungan kalender Jawa Sultanagungan, tahun 1959 AJ ini merupakan tahun kelima dalam hitungan windu dan disebut dengan Tahun Dal. Itu sebabnya, banyak kegiatan tradisi Kraton Yogyakarta yang digelar secara khusus berkaitan dengan tahun Dal.
Misalnya, pada peringatan Maulud Nabi — rangkaian sekaten — ada tradisi bethak (menanak nasi), pisowanan garebeg Mulud, jejak bata, dan mBusanani Pusaka atau memberikan busana kepada sejumlah usaka utama.
Salah satu kegiatan yang menarik adalah upacara tradisi bethak atau menanak nasi. Kegiatan ini diselenggarakan sehari sebelum upacara Garebeg Mulud tahun Dal yang pada tahun ini tepat pada Kamis (4/9). Kegiatannya dilakukan pada malam hari.
Lingkungan Keputren

Tradisi ini diselenggarakan di Kagungan Dalem Bangsal Sekar Kedhaton yang berada di lingkungan Keputren. Acara diawali dengan Sri Sultan menyerahkan periuk pusaka Kangjeng Nyai Mrica, lumpang dan alu (antan) kepada permaisuri, GKR Hemas. Periuk Kangjeng Nyai Mrica ini sebelum diserahkan, diambil oleh GKR Mangkubumi dari tempat penyimpanannya.
GKR Mangkubumi kemudian juga turut mengeluarkan Kanjeng Kiai Blawong (sebanyak empat buah) bersama dengan Putri Dalem yang lain dari dalam Gedhong Prabayeksa.
Tepat pada pukul 20.00 WIB, GKR Hemas kemudian memimpin jalannya prosesi, menanak nasi (bethak) dengan menggunakan kendhil Kanjeng Nyai Mrica bersama dengan GKR Condrokirono, GKR Maduretno, dan GKR Hayu.
Sentana Dalem Putri (kerabat perempuan dari sultan) lainnya juga yang turut hadir dalam prosesi ini antara lain GBRAy Riya Kusuma (kakak kandung Sri Sultan HB Ka 10), GBRAy Nuraida Joyokusumo, juga kurang lebih dua puluhan Sentana Dalem Putri dari sultan-sultan yang bertakhta sebelumnya.
Akan dibagikan
Sebanyak 10 kilogram beras yang kemudian dimasak oleh GKR Hemas bersama kerabat putri dengan menggunakan 2 periuk putran (replika/duplikat) Kangjeng Nyai Mrica. Namun ukurannya lebih besar ketimbang Kangjeng Nyai Mrica yang asli.
Setelah selesai, nasi kemudian didinginkan dan dibentuk bulat-bulat seperti bola yang dalam bahasa Jawa disebut sekul atau sega golong nasi yang ditanak kemudian “Kami membuat 1200 butir sekul golong,” kata salah satu putri Sri Sultan, GKR Condrokirono.
Keesokan harinya, GKR Mangkubumi melanjutkan kembali prosesi bethak dengan peralatan yang sama. Nasi-nasi tersebut akan dibagikan pada saat Pisowanan Ageng Garebeg Mulud. (AGT/N-01)









