
WAUTA dyan Puntodewa arsa nyamudana minangka Begawan. Mangkana arsa ngrasuk busana Resi Tandhakangka. Waudya dyan Harjuna arsa memba pemucal beksa, asesilih Wrahatnolo, mangkona solahira. Wondene Nakula lan Sadewa, hameba warni dados Sratining kuda lan lembu. Mangkana arsa salin warni dados Grantika lan Tantripala. Lahing riku Raden Werkudara arsa hasantun lampah minangka jagal lan jagoning adon adon. Hamemba Jagal Abilawa. Mangkana pra kadang Pandhawa arsa hamiwiti lampah samudana, daya daya tumuju alun alun Wiratha tindakira enggal enggalan.
(Dikisahkan Raden Puntadewa (putra tertua Pandhawa yang disebut juga Yudhistira) menyamar dengan berganti pakaian dan mengubah nama menjadi Resi Tandhakangka. Sedangkan Raden Harjuna menyamar sebagai pelatih tari bernama Wrahatnala. Raden Nakula-Sadewa menyamar sebagai perawat kuda dan lembu.
Mereka mengubah penampilannya dan berganti nama Grantika dan Tantripala. Bima menyamar menjadi seorang jagal dan petarung, bernama Jagal Abilawa. Demikianlah, setelah mulai menyamar, mereka segera menuju Alun-Alun Kerajaan Wiratha).
Lima pria

Itulah inti dari cerita Beksan Pandhawa Kurda yang dituangkan dalam Uyon-uyon Hadiluhung pada Senin (4/8) malam yang digelar di Kraton Yogyakarta dan disiarkan langsung melalui youtube.
Sebagaimana namanya, beksan ini mengambil kisah para Pandawa ketika menjalani masa pembuangan selama 12 tahun setelah kalah dalam permainan dadu. Dengan nama Pandawa, beksan ini ditarikan oleh lima orang pria yang memerankan lima ksatria Pandawa.
Cerita ini diambil dari epos Mahabharata, pewaris sah tahta Hastinapura yang kalah dalam permainan dadu melawan saudaranya putra-putra Prabu Drestarata yang iri dengan kekuasaan dan kehormatan para Pandawa.
Masa pembuangan
Akibat kalah dalam permainan dadu, para Pandawa harus menjalani pembuangan selama 12 tahun dan ditambah selama masa pembuangan satu tahun yang tidak boleh diketahui keberadaannya oleh Kurawa.
Ketika menjalani pembuangan tahun ke-13, Pandawa menyamar di Kerajaan Wiratha. Yudhistira menjadi pendeta, Bima menjadi juru masak, Arjuna menjadi guru tari putri (Brinjalena/Wrihanala), dan Nakula serta Sadewa mengurus kuda dan ternak. Sementara, Drupadi menjadi dayang ratu.
Beksan Pandhawa Kurda tercatat memiliki hal yang tidak dimuliki poleh karya tari lainnya yang salah satunya adalah konsep baru koreografi dengan lima penari yang disebut gangsalan atau panca matayan.
Aspek nanosimetris
Konsep ini mengandung aspek nonasimetris yang secara filosofis menggambarkan manusia sebagai makhluk yang tidak sempurna, tetapi dinamis dan demokratis.
Hal lainnya, kelima penari itu memiliki karakter yang berbeda-beda sesuai dengan tokoh yang diperankan dan karakter itu berubah ketika memasuki adegan menyamar. Tokoh Yudhistira, Arjuna, Nakula, dan Sadewa yang pada awalnya memiliki karakter impur alus berubah menjadi impur gagah.
Sedangkan Bima yang berkarakter kambeng menjadi kinantang gagah. Bagian penyamaran dan perubahan karakter ini juga dijelaskan di Serat Kandha.
Laku Bedhana
Namun secara umum, Beksan Pandhawa Kurda juga mengambil adopsi tata laku bedhaya yang ditandai dengan kapang-kapang maju, seleh sembahan dan tata rakit.
Tata eakit ini dalam beberapa gerakannya menyimbolkan kehidupan manusia, ckra manggilingan dan pola gerak asimetris yang menyimbolkan sifat baik dan buruk manusia.
Sebagai tarian yang diciptakan Sri Sultan, Beksan Pandhawa Kurda ini tetap menerapkan gaya Yogyakarta di antaranya dewa dan impur dewa yang ditampilkan sewaktu adegan Sang Hyang Darma memberi petunjuk kepada para Pandawa.
Terdapat pula ragam atrap jamang, tawing ngundhuh sekar, usap trawis, ningseti udhet, ulap-ulap dan ukel tawing yang menyimbolkan kewaspadaan agar keberadaan para Pandawa tidak diketahui oleh siapa pun.
Slendro pathet
Sedangkan gendhing yang digunakan untuk mengiringi adalah gendhing berlarah slendro pathet sanga, dibuka dengan Lagon Wetah dilanjutkan dengan Kawin Sekar Asmarandana Gagatan, Gendhing Lungit.
Ada, Playon, Kalaganjur Dhawah Ayam Sepinang, Ladrang Gandasuli, Kalaganjur, Lagon Tlutur Jugag, Gendhing Kemanakan Pandhawa Kurda (kawiwiti Bawa Swara utawi Buka Celuk), Lancaran Pekapalan, Carabalen, Kalaganjur, Playon, Gangsaran, Ladrang Janti, adan akhirnya ditutup dengan Lagon Jugag.
Pembaruan
Hal ini mengacu gendhing klasik gaya Yogyakarta dan terdapat pula pembaruan salah satunya pada Gendhing Lancaran Pekapalan. Gendhing ini mengiringi Nakula dan Sadewa yang seakan-akan menaiki kuda saat menyamar menjadi srati.
Pada pergelaran Uyon-Uyon Hadiluhung kali ini, para penari Beksan Pandhawa Kurda mengenakan busana gladhen (busana latihan) yaitu nyamping corak Kawung Seling Klithik, celana panji hitam, sondher pethak, udheng cemeng kemada abrit, lonthong/sabuk abrit, dan kamus untu walang.
Busana hitam dan putih menyiratkan bahwa pada saat itu Pandawa hanya mengenakan kain yang melekat pada badan saat menghadapi cobaan hidup. (AGT/N-01)









