
YAYASAN Ekosistem Sampah Indonesia (Eksis) akan menggelar Kongres Sampah Indonesia di Kalurahan Wedomartani, Ngemplak, Sleman 20-22 November mendatang.
Kongres yang mengusung tema ‘Praktik Baik Pengolahan Sampah Menuju Sistem Pengelolaan Sampah Mandiri dan Berkelanjutan’ itu akan mempertemukan pemerintah, dunia usaha, akademisi, praktisi pengolahan sampah, organisasi masyarakat sipil, komunitas lingkungan, media, dan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.
“Kongres Sampah Indonesia diselenggarakan sebagai respons terhadap persoalan sampah nasional yang semakin kompleks dan membutuhkan pendekatan baru yang lebih kolaboratif, terintegrasi, serta berpijak pada pengalaman nyata masyarakat.”
“Persoalan sampah di Indonesia tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai masalah kebersihan dan lingkungan. Sampah telah menjadi persoalan sosial, ekonomi, kesehatan, tata kelola, teknologi, hingga keberlanjutan kehidupan masyarakat,” kata Ketua Panitia Kongres Sampah Indonesia, A’ak Abdullah Al-Kudus, Senin.
Tantangan penanganan sampah

Melalui rilis tertulis yang diterima www.mimbarnusantara.com di Yogyakarta, A’ak menjelaskan di tengah berbagai tantangan penanganan sampah, sesungguhnya telah tumbuh beragam inisiatif dan praktik baik pengolahan sampah di berbagai daerah.
“Mulai dari pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, bank sampah, TPS3R, teknologi pengolahan sampah, hingga usaha daur ulang yang menghasilkan nilai ekonomi,” katanya.
Ia menjelaskan sebenarnya sudah banyak inisiatif yang tumbuh dan berkembang di masyarakat untuk mengolah sampah. Namun, lanjutnya berbagai inisiatif tersebut masih berjalan secara terpisah, belum terkonsolidasi, dan belum sepenuhnya berkembang menjadi sistem pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan.
“Di sinilah Kongres Sampah Indonesia menjadi penting untuk diselenggarakan” tegas A’ak.
Berbagi pengalaman dan pengetahuan
Dari Persoalan Sampah Menuju Gerakan Solusi Kongres Sampah Indonesia hadir untuk mempertemukan berbagai pengalaman, pengetahuan, teknologi, dan praktik baik tersebut dalam sebuah forum nasional yang berorientasi pada solusi.
Kongres ini tidak hanya dirancang sebagai forum diskusi, tetapi juga sebagai ruang konsolidasi, kolaborasi, edukasi, dan aksi bersama untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dari hulu, tengah, hingga hilir.
Salah satu gagasan utama yang akan didorong adalah pengembangan sistem pengelolaan sampah mandiri berbasis masyarakat, mulai dari tingkat RT, padukuhan, desa atau kelurahan, sekolah, pesantren, hingga kawasan perkotaan.
Pendekatan ini ujarnya diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir (TPA), memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengolah sampah di sumbernya, serta menciptakan manfaat ekonomi melalui pengembangan ekonomi sirkular.
Tanggung jawab produsen
Kongres juga akan membahas pentingnya tanggung jawab produsen, penguatan regulasi, pemanfaatan teknologi tepat guna, pengembangan usaha pengolahan sampah, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Melalui kongres ini, Yayasan Ekosistem Sampah Indonesia mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengambil bagian dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih bersih, sehat, mandiri, dan berkelanjutan. (AGT/M-01)






