
FAKULTAS Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta meresmikan Smart Veterinary Teaching Farn (SVTF) di Dengok, Playen, Gunungkidul.
Fasilitas peternakan edukatif pendidikan kedokteran hewan yang berbasis teknologi cerdas itu dikembangkan sebagai wahana pembelajaran, penelitian berbasis pengalaman langsung, dan pengabdian kepada masyarakat.
Koordinator SVTF FKH UGM, Dr. drh. Dinar Arifianto, M.Sc., Sabtu menjelaskan pengembangan SVTF dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai mitra, hingga saat ini mengelola sekitar 8.500 ekor yang terdiri dari sapi perah dan sapi potong, kambing, domba, kuda, burung unta, serta beragam jenis unggas.
“Populasinya saat ini kurang lebih 8.500 ekor, terdiri dari sapi perah, sapi potong, kambing, domba, kuda, dan burung unta,” kata Dinar.
Pengolahan hasil ternak
Di lokasi tersebut, kata dia, juga dikembangkan fasilitas produksi pakan dan hijauan serta pengolahan hasil peternakan. Berbagai kegiatan tersebut, dikatakan oleh Dinar, dirancang untuk mendukung tiga fungsi utama SVTF, yakni sebagai wadah pendidikan, penelitian, dan juga pengabdian kepada masyarakat.
Dekan FKH UGM, Prof. drh. Teguh Budipitojo, M.P., Ph.D., mengatakan keberadaan teaching farm ini merupakan bagian penting dalam pendidikan kedokteran hewan.
Hal tersebut, kata Teguh, sejalan dengan rekomendasi dari World Organisation for Animal Health (WOAH) agar institusi pendidikan kedokteran hewan memiliki fasilitas yang memungkinkan mahasiswa berinteraksi langsung dengan hewan.
“Pendidikan kedokteran hewan itu membutuhkan wahana untuk para mahasiswa melakukan hands-on kepada hewan-hewan produksi di masyarakat,” jelas Teguh.
Belajar secara langsung
Bagi Teguh, melalui fasilitas tersebut mahasiswa dapat mempelajari secara langsung bagaimana aspek produksi, kesehatan, kesejahteraan hewan, hingga pengelolaan peternakan.
Dikatakan SVTF tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang yang menghubungkan perguruan tinggi dengan industri, pemerintah, dan masyarakat.
Salah satu bentuknya diwujudkan melalui kerja sama dengan pihak swasta dalam pengembangan sapi Brahman Cross.
Hilirisasi pendidikan
Sementara Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Dr. dr. Rustamadji, M.Kes., mengapresiasi sebesar-besarnya pengembangan SVTF sebagai bentuk pendidikan kedokteran hewan yang lebih aplikatif.
Menurutnya, keberadaan living lab seperti SVTF dapat memperkuat hilirisasi pendidikan dan penelitian sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat di dalamnya.
“Dedikasi dari Fakultas Kedokteran Hewan untuk mendidik dan menyelenggarakan pendidikan kedokteran hewan dalam bentuk yang lebih applied, hands-on, ini suatu hal yang luar biasa,” tuturnya.
Pengembangan peternakan
Staf Ahli Bupati Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Wibawanti Wulandari, menilai kehadiran SVTF tidak hanya memberikan manfaat bagi UGM, tetapi juga bagi pengembangan peternakan masyarakat Gunungkidul.
Ia menyebut bahwa fasilitas pembelajaran miliki FKH UGM ini merupakan jembatan antara pengetahuan akademik dan kebutuhan peternak di lapangan.
“Kehadiran fasilitas SVTF di Kalurahan Dengok pada hari ini adalah kado terindah, tidak hanya bagi UGM tetapi juga bagi kemajuan peternakan di daerah Gunungkidul,” pungkasnya.
Wibawanti berharap keberadaan SVTF dapat dimanfaatkan para peternak di Kalurahan Dengok dan wilayah Gunungkidul untuk meningkatkan keterampilan serta pengetahuan di bidang peternakan dan kesehatan hewan demi menunjang roda ekonomi masyarakat sekitar.
“Kami berharap agar para peternak di Kalurahan Dengok dan seluruh Gunungkidul dapat belajar meningkatkan keterampilan serta memanfaatkan keahlian kedokteran hewan modern untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka,” harapnya.
Dies Natalies FKH UGM
Peresmian SVTF menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-80 atau Lustrum ke-16 FKH UGM. Prosesi peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Dekan FKH UGM, Prof. Teguh Budipitojo, serta penyerahan secara simbolis empat ekor sapi dan empat ekor kambing kepada delapan warga sekitar melalui program gaduhan.
Tak hanya itu, rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penanaman pohon oleh jajaran dekanat FKH UGM, perwakilan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, serta Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM. (AGT/M-01)








