
UNTUK menutup rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM 2026, Tim Bentangan Bawean menghadirkan inovasi berupa alat pembakaran sampah sederhana berbasis rocket stove di dua titik, di Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Program ini menjadi salah satu program kerja unggulan sekaligus terakhir yang dilaksanakan tim KKN-PPM UGM Bentangan Bawean sebagai bagian dari upaya mendukung pengelolaan sampah di wilayah Desa Tanjungori dan Desa Telukjatidawang.
Dua unit rocket stove ditempatkan berdasarkan subunit masing-masing. Unit pertama berada di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Desa Tanjungori dengan dengan pembangunan yang dipimpin Dimaz Adam Prasetyo dari Prodi Teknik Infrastruktur Lingkungan UGM.
Sementara itu, unit kedua ditempatkan di Dusun Dedawang, Desa Telukjatidawang, yang pembangunannya dipimpin Kalleh Nur Subekti dari Prodi Teknik Sipil UGM.
Proses pembakaran

Rocket stove adalah alat pembakaran sampah sederhana yang dirancang untuk membantu proses pengurangan sampah melalui pembakaran dengan kapasitas sekitar 5–10 kilogram per jam dalam sekali pengoperasian.
Kehadiran alat ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pendukung pengelolaan sampah, khususnya terhadap sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali melalui proses pemilahan dan pengolahan.
Dimaz sebagai penanggung jawab pembuatan rocket stove di Desa Tanjungori, menjelaskan pembuatan alat tersebut mempertimbangkan kebutuhan pengelolaan sampah yang ada di tingkat desa.
“Pembuatan rocket stove ini kami sesuaikan dengan kebutuhan di lapangan, terutama untuk membantu mengurangi timbulan sampah yang sudah tidak dapat dimanfaatkan kembali. Harapannya, alat ini tidak hanya digunakan selama kegiatan KKN berlangsung, tetapi juga dapat dimanfaatkan dan dikelola oleh masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Dimaz, Jumat (14/8) di Yogyakarta.
Sampah residu
Penempatan alat di TPS Desa Tanjungori menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap sistem pengelolaan sampah yang telah berjalan di desa.
Sebelumnya, masyarakat bersama pengelola sampah telah melakukan berbagai upaya untuk menangani sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari.
Dengan adanya rocket stove, proses pengelolaan diharapkan dapat semakin terbantu, terutama untuk sampah residu yang tersisa setelah proses pemilahan.
Ketua pengelola sampah Desa Tanjungori, Sukasih, menyambut baik keberadaan alat tersebut. Menurutnya, fasilitas tambahan seperti rocket stove dapat membantu masyarakat dan pengelola dalam menangani sampah yang selama ini masih menjadi tantangan.
“Adanya alat ini sangat membantu pengelolaan sampah di desa. Selama ini kami sudah berusaha memilah dan mengelola sampah yang ada, tetapi masih ada sampah yang tidak bisa dimanfaatkan. Dengan adanya rocket stove ini, mudah-mudahan pengelolaan sampah di sini bisa lebih terbantu dan masyarakat juga semakin sadar untuk menjaga kebersihan lingkungan,” tutur Sukasih.
Penutup rangkaian program
Program penyediaan rocket stove menjadi bagian dari rangkaian upaya KKN-PPM UGM Bentangan Bawean dalam mendorong pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Selain menghadirkan fasilitas, mahasiswa juga memberikan pengetahuan mengenai pemanfaatan alat kepada masyarakat agar keberlanjutan program dapat dilanjutkan secara mandiri setelah masa KKN berakhir.
Penempatan dua unit rocket stove di Desa Tanjungori dan Desa Telukjatidawang menjadi penutup rangkaian program kerja Tim KKN-PPM UGM Bentangan Bawean.
Melalui program tersebut, Tim KKN-PPM UGM Bentangan Bawean berharap hasil kegiatan tidak berhenti setelah berakhirnya masa pengabdian, tetapi dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pengelolaan sampah di masing-masing wilayah. (AGT/M-01)







