
REKTOR Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D. menyampaikan bahwa kelulusan pascasarjana perlu menjadi awal bagi para lulusan untuk mengembangkan pengetahuan dan menghasilkan kontribusi bagi masyarakat.
Hal itu diungkapkan Ova dalam acara wisuda Program Pascasarjana periode I tahun akademik 2026/2027 di kampus setempat, Rabu. Acara yang diikuti 2.524 lulusan dari 9 fakultas itu digelar selama dua hari itu. Pada hari pertama wisuda diikuti 1.339 lulusan dan hari kedua diikuti 1.185 lulusan.
UGM, kata Ova terus mengembangkan kurikulum pascasarjana agar relevan dengan perubahan ekosistem pendidikan nasional dan global, sekaligus memperkuat riset yang berorientasi pada pemanfaatan di masyarakat. Para lulusan diharapkan mampu berpikir kritis, menghasilkan inovasi, serta berperan dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.
“Saya yakin lulusan pascasarjana yang diwisuda pada hari ini memiliki kapasitas dan kapabilitas sebagai pelopor inovasi, memiliki kemampuan berpikir kritis dalam memproduksi pengetahuan, berkontribusi bagi pembangunan serta menjadi subjek yang berdampak dalam memecahkan permasalahan masyarakat,” ungkap Ova.
Reputasi akademik
Sejumlah capaian terbaru turut menunjukkan penguatan reputasi akademik dan ekosistem inovasi UGM. Pada Oktober 2026, UGM kembali mempertahankan predikat Five Star Plus dalam Healthy University Rating System yang diselenggarakan ASEAN University Network Health Promotion Network.
Dalam pemeringkatan Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2027, UGM juga meningkat ke kelompok peringkat 801–1.000 dari sebelumnya berada pada kelompok 1.201–1.500. Di bidang hilirisasi riset, UGM menempati peringkat pertama perguruan tinggi di Indonesia dengan jumlah komersialisasi paten tertinggi, yakni sebanyak 35 paten.
Ova menambahkan penguatan riset juga dilakukan melalui penyelenggaraan Global Innovation & Future Technology Summit (GIFTS) yang mempertemukan inovasi karya mahasiswa dan sivitas akademika dengan peluang pengembangan lebih lanjut.
Selain itu, sebanyak 17 dosen UGM masuk dalam daftar World Top 2% Scientists 2026 yang disusun melalui kolaborasi Stanford University dan Elsevier.
Pemanfaatan hasil penelitian
Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya universitas mendorong pemanfaatan hasil penelitian sekaligus meningkatkan kontribusi ilmu pengetahuan bagi masyarakat.
“UGM berharap para lulusan dapat melanjutkan semangat inovasi dan integritas yang dikembangkan selama menempuh pendidikan di UGM,” tuturnya.
Wakil Sekretaris Jenderal VII Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama), Rahman Hidayat, mengingatkan para lulusan agar menjadikan gelar akademik sebagai bekal untuk terus belajar dan berkontribusi.
Perubahan teknologi dan kompleksitas persoalan masyarakat menuntut lulusan untuk terus memperbarui wawasan serta memastikan pengetahuan yang dimiliki dapat diterapkan secara tepat. Ia juga menekankan pentingnya kajian berbasis data, pelaksanaan yang tertib, dan evaluasi yang terbuka dalam menyelesaikan persoalan publik.
“Gelar magister, doktor, spesialis atau subspesialis menunjukkan bahwa saudara telah mencapai tingkat pendidikan tertentu. Namun, gelar bukan tanda bahwa proses belajar telah selesai. Justru setelah lulus tantangan sesungguhnya dimulai,” kata Rahman.
Ruang kolaborasi
Rahman juga menekankan pentingnya integritas dan persaudaraan sebagai bagian dari nilai yang perlu dibawa para lulusan setelah meninggalkan kampus. Menurutnya, gelar akademik perlu diiringi tanggung jawab untuk memperbaiki cara berpikir, mengambil keputusan, dan menyelesaikan persoalan bangsa.
Kagama diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi para alumni untuk membangun jejaring dan memperluas kontribusi di berbagai bidang. “Gelar adalah pencapaian pribadi. Manfaat ilmu adalah tanggung jawab sosial, dan integritas adalah ukuran yang membuat keduanya bermakna,” ujarnya.
Mewakili wisudawan, Aghnan Yarits Anggara dari Program Magister Manajemen UGM membagikan pengalamannya dalam mewujudkan mimpi melanjutkan pendidikan di UGM. Ia mengenang cita-cita untuk menempuh pendidikan sarjana di UGM yang belum terwujud ketika lulus sekolah menengah atas.
Sembilan tahun kemudian, kesempatan tersebut hadir melalui pendidikan magister dan memberinya pengalaman belajar yang memperkaya perspektif, baik dalam kehidupan profesional maupun personal.
“Barangkali kehadiran kita sebagai wisudawan pada hari ini adalah buah dari mimpi-mimpi yang pernah kita lupakan atau kita tinggalkan,” ungkapnya.
Memandang keberagaman
Pengalaman belajar di kelas juga mengajarkan Aghnan untuk memahami keberagaman cara pandang dalam menghadapi suatu persoalan. Melalui diskusi dan studi kasus, ia dan rekan-rekannya belajar bahwa satu persoalan dapat menghasilkan berbagai jawaban, bergantung pada pengalaman dan perspektif masing-masing.
Proses tersebut melatih kemampuan mendengarkan, mempertimbangkan pendapat orang lain, dan mengambil keputusan dengan tujuan yang lebih luas. Ia menyampaikan apresiasi kepada dosen, tenaga kependidikan, keluarga, dan seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan pendidikan para wisudawan.
“Perbedaan itulah yang mengajarkan kami sebuah seni untuk mendengarkan sebelum memutuskan,” katanya.
Aghnan mengajak para wisudawan untuk menjadikan kelulusan sebagai awal dalam membangun mimpi baru dan membagikan ilmu yang telah diperoleh. Ia berharap nilai-nilai yang ditanamkan selama menempuh pendidikan di UGM tetap menjadi bekal dalam berkarya dan memberikan manfaat bagi sesama.
Wisuda menandai berakhirnya perjalanan di ruang kelas, tetapi tanggung jawab untuk mengamalkan ilmu akan terus berlanjut di berbagai lingkungan profesi dan pengabdian. “Sebab mimpi dan ilmu memiliki satu kesamaan. Keduanya tidak akan pernah habis untuk dibagikan,” pungkasnya. (AGT/N-01)








