
RATUSAN siswa dan guru SMP dan MTs di sekitar Candi Prambanan bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) dan InJourney Holding dan Injourney Destination Management (IDM) menggelar puncak peringatan Hari Anak Nasional ke-42 di Lapangan Garuda Mandala, Kompleks Candi Prambanan bertema ‘Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan.’
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa berpesan agar anak-anak di wilayah setempat terus mencintai budaya dan merawat sejarah warisan leluhur bangsa.
Menurut Danang, generasi muda harus terus belajar dan tidak kehilangan pemahaman atas akar sejarah bangsa.
Ironi generasi muda

Ia mengungkapkan generasi muda saat ini banyak yang enggan diajak mendalami sejarah, namun sangat antusias ketika membahas budaya populer seperti drama Korea.
Hal semacam ini menurut Danang perlu terus benahi bersama. Karena jika ingin mewariskan keagungan budaya bangsa, kita harus lebih sering membagikan kisah-kisah sejarah.
Pada kesempatan itu Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko di InJourney Destination Management Joel Siahaan menyatakan komitmen IDM untuk menjadikan Candi Prambanan sebagai living heritage, warisan budaya yang terus hidup, relevan, serta membawa manfaat nyata bagi masyarakat sekitar tanpa mengorbankan nilai autentisitasnya.
Dikatakan ragam program edukasi seperti Heritage Class, Junior Wonder, Sanggar Lestari Cagar Budaya, kegiatan kepramukaan, hingga pelatihan mitigasi bencana gempa bumi terus dihadirkan agar generasi muda memiliki kedekatan emosional dengan cagar budaya bangsa.
Penyerahan bantuan
Puncak peringatan HAN ke-42 ini diwarnai penyerahan bantuan peralatan sekolah secara simbolis kepada anak-anak dari kelompok rentan serta anak-anak penyandang disabilitas demi mewujudkan Sleman sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) yang inklusif.
Menurut dia, pengelolaan kawasan Candi Prambanan difokuskan pada keseimbangan tiga pilar utama, pelestarian cagar budaya, pengelolaan yang bertanggungjawab dan pemberdayaana masyarakat lokal.
Ia menambahkan ada sejumlah program edukasi yang dijalankan antara lain Heritage Class, Junior Wonder, Sanggar Lestari Cagar Budaya, kegiatan kepramukaan, hingga pelatihan mitigasi bencana gempa bumi.
Pada puncak peringatan HAN ke-42 ini diwarnai penyerahan bantuan peralatan sekolah secara simbolis kepada anak-anak dari kelompok rentan serta anak-anak penyandang disabilitas demi mewujudkan Sleman sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) yang inklusif.
Lestarikan budaya
Menyinggung legenda Bandung Bondowoso – Roro Jonggrang yang berkaitan dengan Candi Prambanan, ia mengungkapkan, hal itu lebih dari sekadar legenda.
Candi ini, ujarnya menyimpan nilai-nilai yang terpahat pada setiap reliefnya. “Tugas kita bersama adalah berkolaborasi melakukan pelestarian agar kisah-kisah dan nilai tersebut tetap dapat dinikmati generasi mendatang,” jelasnya. (AGT/M-01)







