
SEBANYAK 26 peserta dari 11 negara terpilih untuk mengikuti program The 1st Gadjah Mada Veterinary Medicine International Summer Course 2026 di Yogyakarta pada 12–15 Juli 2026.
Para peserta ini berasal dari Filipina, Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Hong Kong, Sri Lanka, dan Britania Raya.
Mereka mewakili beragam latar belakang akademik dan profesi, mulai dari mahasiswa sarjana, magister, doktor, peneliti, hingga profesional yang berasal dari bidang kedokteran hewan, biologi, zoologi, ilmu lingkungan, serta disiplin ilmu lainnya.
Keberagaman tersebut menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif, multidisipliner, dan multikultural. Hal ini sejalan dengan semangat kolaborasi global yang menjadi fondasi utama program ini.
Dorong kolaborasi

Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyambut baik pelaksanaan summer course yang melibatkan peserta dari berbagai negara.
Menurutnya, UGM mendorong kolaborasi internasional untuk menjawab berbagai tantangan global yang semakin kompleks, termasuk konservasi keanekaragaman hayati, perubahan iklim, kesehatan satwa liar, dan ancaman penyakit zoonosis.
“Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun jejaring internasional, menghasilkan inovasi berbasis ilmu pengetahuan, serta menyiapkan sumber daya manusia yang mampu memberikan solusi bagi berbagai persoalan global,” tegasnya, Rabu.
Penurunan populasi
Ketua Pelaksana Program, Dr. drh. Berlin Pandapotan Pardede, M.Si., menjelaskan tema “Guardians of Forest Wildlife” sepanjang pelaksanaan summer course dipilih sebagai respons terhadap meningkatnya tantangan konservasi satwa liar di tingkat global.
Deforestasi, fragmentasi habitat, perubahan iklim, peningkatan konflik manusia dan satwa liar, serta ancaman penyakit infeksi baru yang telah menyebabkan penurunan populasi berbagai spesies di berbagai belahan dunia.
Kondisi tersebut menuntut hadirnya pendekatan konservasi yang lebih inovatif, kolaboratif, dan berbasis ilmu pengetahuan.
Saat ini, ujarnya banyak spesies mengalami penurunan populasi secara drastis akibat hilangnya habitat, perubahan iklim, dan berbagai tekanan antropogenik lainnya.
Perlu bioteknologi
Oleh karena itu, konservasi tidak lagi dapat mengandalkan pendekatan konvensional semata.
“Kita membutuhkan inovasi melalui bioteknologi reproduksi, seperti assisted reproductive technologies (ART), biobanking, preservasi sel, teknologi stem cell, serta berbagai pendekatan ilmiah lainnya untuk mendukung peningkatan populasi satwa liar yang terancam punah.”
“Namun, kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan kolaborasi internasional yang kuat, karena tantangan konservasi merupakan tanggung jawab bersama masyarakat global,” ujar Berlin.
Ia kemudian menambahkan bahwa program yang didukung oleh LPDP melalui Hibah Inovasi merupakan bagian dari upaya FKH UGM untuk memperkuat internasionalisasi akademik melalui pendidikan yang berkualitas, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi lintas disiplin.
Jejaring ilmiah
Program ini diharapkan mampu menjadi ruang bagi lahirnya jejaring ilmiah internasional yang mempertemukan generasi muda, akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk bersama-sama menghasilkan inovasi dalam bidang konservasi satwa liar, kesehatan, dan kesejahteraan satwa.
“Kami percaya bahwa masa depan konservasi turut ditentukan oleh kemampuan kita membangun kolaborasi global. Melalui program ini, kami ingin melahirkan generasi baru Guardians of Forest Wildlife yang memiliki perspektif internasional, kompetensi ilmiah yang kuat, serta komitmen untuk menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati dunia,” jelasnya. (AGT/A-01)







