Lindi TPA Berisiko Cemari Air dan Tanah

KEBERADAAN Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau yang kini dikenal sebagai Tempat Pemrosesan Akhir masih menjadi tantangan serius dalam pengelolaan sampah di Indonesia. Banyak TPA yang belum dilengkapi instalasi pengolahan lindi secara memadai, padahal cairan tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan.

Lindi atau leachate merupakan cairan yang terbentuk ketika air meresap melalui tumpukan sampah dan melarutkan berbagai material organik maupun anorganik berbahaya. Cairan ini umumnya berwarna gelap, berbau menyengat, serta mengandung logam berat, pestisida, dan bahan kimia berbahaya lainnya.

Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Eko Siswoyo, dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Rekayasa Pengolahan Limbah dan Air, menjelaskan bahwa sebagian besar TPA di Indonesia masih beroperasi dengan sistem open dumping atau controlled landfill, yang hanya sebagian kecil dilengkapi pengolahan lindi.

BACA JUGA  Jurnalis dan Akademisi Membawa Misi Kepentingan Publik

Menurut Eko, lindi memiliki kandungan pencemar yang sangat kompleks, antara lain nilai BOD (Biological Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) yang tinggi dan sulit terurai, serta keberadaan logam berat yang berpotensi mencemari air tanah.

Hasil penelitiannya di TPA Wukirsari, Baleharjo, Gunungkidul, menunjukkan peningkatan konsentrasi logam berat seperti timbal (Pb) dalam air lindi. Kondisi tersebut dinilai mengancam ekosistem perairan, kualitas air tanah, serta mengganggu siklus biogeokimia alami.

Keberadaan TPA juga berdampak pada kenyamanan hidup masyarakat yang bermukim dalam radius kurang dari 500 meter dari lokasi TPA,” ujar Eko.

Ia menambahkan, permasalahan serupa juga terjadi di berbagai negara. Di sejumlah landfill di dunia, pencemaran logam berat seperti cadmium (Cd) dilaporkan melebihi ambang baku mutu yang diizinkan.

BACA JUGA  Pemkot Bandung Jadikan TPST Baksil Pusat Wisata Edukasi Pengelolaan Sampah

Lindi TPA mengandung logam berat

Sebagai contoh, di Provinsi Zhejiang, China, konsentrasi logam berat Cd di tiga lokasi landfill tercatat paling tinggi dibandingkan logam berat lainnya seperti Pb, Cu, Zn, dan Cr, serta memiliki tingkat bahaya paling besar. Sementara itu, di area landfill Durban, Afrika Selatan, konsentrasi Cd dan Pb dalam air tercatat mencapai 0,12 mg/L.

Konsentrasi logam berat di tanah umumnya lebih tinggi dibandingkan di air, yang menandakan terjadinya proses adsorpsi oleh tanah. Penelitian di landfill open dumping di Thailand Tengah juga menunjukkan risiko kanker akibat paparan logam berat Cu, Cd, Pb, Zn, dan Cr yang perlu mendapat perhatian serius,” jelasnya.

BACA JUGA  DLH Kota Bandung Siapkan Layanan Angkut Sampah Besar Gratis

Dalam kesempatan tersebut, Eko juga mengungkapkan temuan solusi potensial dari hasil penelitiannya. Lumpur dari Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dinilai memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap logam berat seperti cadmium dan timbal dari air.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa keberadaan asam humat, gugus fungsi hidroksil, serta besi hidroksida dalam lumpur IPAM berperan penting dalam proses penyerapan logam berat. “Mekanisme adsorpsi yang paling mungkin antara ion Cd²dengan oksida besi adalah melalui model pertukaran ion,” pungkasnya. (AGT/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Persib dan Jubelo Kelola 65,4 Ton Sampah Sepanjang Musim 2025/2026

STADION Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) kembali membuktikan bahwa sepak bola dapat menghadirkan dampak positif tidak hanya di atas lapangan, tetapi juga bagi lingkungan. Melalui implementasi program Zero Waste to…

Sempat Galau, Made Sarmita Selesaikan Program Doktor dengan IPK 4.00

SATU dari 90 wisudawan lulusan Program Doktor Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada memiliki Indeks Prestasi 4,00 setelah menjalani kuliah pascasarjana selama 2 tahun 10 bulan. Wisudawan yang meraih IPK sempurna…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Kendalikan Inflasi, BI Tasikmalaya Luncurkan Aplikasi Sindang Priatim

  • July 30, 2026
Kendalikan Inflasi, BI Tasikmalaya Luncurkan Aplikasi Sindang Priatim

Persib dan Jubelo Kelola 65,4 Ton Sampah Sepanjang Musim 2025/2026

  • July 30, 2026
Persib dan Jubelo Kelola 65,4 Ton Sampah Sepanjang Musim  2025/2026

Sempat Galau, Made Sarmita Selesaikan Program Doktor dengan IPK 4.00

  • July 30, 2026
Sempat Galau, Made Sarmita Selesaikan Program Doktor  dengan IPK 4.00

Puspenerbal Sulap Lahan 400m2 Jadi Kebun Melon Hidroponik

  • July 30, 2026
Puspenerbal Sulap Lahan 400m2 Jadi Kebun Melon Hidroponik

Bekuk PSMS, Persebaya Rebut Tiket ke Semifinal

  • July 29, 2026
Bekuk PSMS, Persebaya Rebut Tiket ke Semifinal

Persija Bermain Imbang dengan Port FC, STY Puas

  • July 29, 2026
Persija Bermain Imbang dengan Port FC, STY Puas