
KEPALA Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyoroti penurunan peringkat Indonesia dalam Global Innovation Index (GII) 2025, dari posisi 54 menjadi 55 dunia. Padahal, dalam 3-4 tahun sebelumnya, Indonesia sempat naik signifikan dari peringkat 60-an ke 54.
“Salah satu faktor yang mendorong kenaikan saat itu adalah adanya matching fund antara program kementerian dengan perguruan tinggi, sehingga akselerasi inovasi bisa dimanfaatkan industri dan masyarakat,” kata Arif saat menjadi pembicara utama dalam Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi 2025 di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Kamis (20/11).
Dalam paparannya berjudul Riset Berdampak dan Peran Kampus dalam Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), Arif menekankan pentingnya ekosistem kolaboratif antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat, yang ditopang empat pilar riset: infrastruktur, SDM, pendanaan, dan agenda riset.
Inovasi dengan tema SDGs diperkuat
Arif menjelaskan ada tiga kontribusi utama yang harus dilakukan BRIN dan perguruan tinggi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui riset dan inovasi:
- Meningkatkan produktivitas dan daya saing UMKM, koperasi Merah Putih, kampung nelayan, serta berbagai program pemerintah yang membutuhkan dukungan riset.
- Mengembangkan riset dan inovasi yang bisa dimanfaatkan industri besar.
- Memfasilitasi co-development teknologi maju dari luar negeri agar transfer teknologi berjalan lebih cepat.
Ia mencontohkan sejumlah fasilitas riset unggulan BRIN seperti towing tank di Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) dan Genomic Laboratory di Cibinong yang disebutnya sebagai yang tercanggih di Asia Tenggara.
Arif menegaskan BRIN tidak bisa bekerja sendiri. Tema-tema SDGs dianggap penting untuk menghasilkan inovasi, termasuk pengembangan varietas unggul berbasis genomik untuk meningkatkan produktivitas pangan.
“Kita harus hadir dengan terobosan dan teknik kekinian untuk menyelesaikan persoalan pangan,” ujarnya.
Ia juga menekankan perlunya konsolidasi riset secara horizontal maupun vertikal. Konsolidasi horizontal dilakukan antara BRIN dan perguruan tinggi agar hilirisasi inovasi semakin kuat bagi kebutuhan kebijakan dan industri. Sementara konsolidasi vertikal dilakukan melalui BRIDA untuk mendorong pertumbuhan riset di daerah.
“Saya mengajak perguruan tinggi di setiap provinsi berkolaborasi dengan BRIDA agar science technopark dan hilirisasi inovasi semakin produktif,” pungkas Arif. (*/S-01)








