
MUSTOFA Hilmi berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Peternakan di Fakultas Peternakan UGM melalui disertasinya berjudul “Biosintesis Nanopartikel Perak (AgNPs) Menggunakan Ekstrak Daun Mengkudu (Morinda citrifolia Linn) sebagai Feed Additive Ayam Broiler”.
Hasil serangkaian penelitian yang dilakukannya membuktikan nanopartikel perak hasil ekstraksi daun mengkudu berpotensi menjadi alternatif pengganti antibiotik pada ayam broiler.
Penelitian ini menjawab tantangan global terhadap pelarangan penggunaan antibiotik sintetik dalam pakan ternak akibat isu resistensi antimikroba.
Hasil tiga tahap penelitian, yakni mulai dari biosintesis, uji antimikroba secara in vitro, hingga aplikasi in vivo, Mustofa berhasil menyodorkan nanopartikel perak berukuran rata-rata 84,78 nm yang stabil selama tujuh minggu penyimpanan.
Hasil uji menunjukkan bahwa AgNPs mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Escherichia coli dan Salmonella typhimurium tanpa mengganggu keberadaan bakteri baik (Lactobacillus spp.) dalam saluran pencernaan ayam.
Pemberian AgNPs dosis 6 ppm dalam air minum ayam broiler meningkatkan populasi bakteri menguntungkan, memperbaiki kesehatan usus, serta meningkatkan pertambahan bobot badan dan efisiensi pakan.
“Konsentrasi 6 ppm merupakan dosis optimal yang dapat meningkatkan performa pertumbuhan ayam tanpa menimbulkan residu berbahaya,” jelas Mustofa dalam ujian disertasi, Rabu (5/11).
Meski demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa residu perak dalam daging dan hati ayam melebihi batas maksimum jika belum melalui masa henti konsumsi (withdrawal time) minimal lima hari.
Dengan temuan ini, Mustofa menyimpulkan bahwa nanopartikel perak berbasis ekstrak daun mengkudu dapat menjadi alternatif alami pengganti antibiotik dalam industri perunggasan, asalkan diterapkan dengan dosis tepat dan memperhatikan waktu henti aman sebelum panen. (AGT/S-01)







