Gapura Gading, Gerbang Terakhir Raja Mataram

GERBANG-gerbang selatan di kompleks kraton Jawa, baik di Surakarta maupun Yogyakarta, memiliki nama yang serupa, sama-sama memakai kata “Gading”.

Di Kasunanan Surakarta disebut Gapura Gading, sementara di Kasultanan Yogyakarta dikenal sebagai Plengkung Gading. Dalam bahasa Jawa, “gading” memang memiliki makna simbolis sebagai arah selatan.

Kini, Gapura Gading di Surakarta dan Plengkung Gading di Yogyakarta menjadi kawasan ramai lalu lintas kendaraan. Namun sejatinya, gerbang selatan bukanlah akses biasa.

Dalam filosofi Jawa Sangkan Paraning Dumadi, gerbang ini melambangkan kembalinya manusia kepada asal muasalnya, yakni Tuhan Sang Pencipta.

Dari laman Ullen Sentalu, makna sakral itu pula yang menjadikan gerbang selatan kraton sebagai bagian penting dalam prosesi pemakaman raja.

BACA JUGA  Pakubuwono XIII Dimakamkan di Pemakaman Pajimatan Imogiri

Sejak masa Sultan Agung pada abad ke-17, jenazah raja-raja Mataram selalu diantarkan menuju Astana Imogiri, kompleks makam raja-raja Mataram melalui gerbang selatan istana. Raja Surakarta melewati Gapura Gading, sedangkan Sultan Yogyakarta melewati Plengkung Gading.

Tradisi ini turut diabadikan dalam sebuah lukisan besar di Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta, yang menggambarkan prosesi pemakaman Susuhunan Pakubuwana X pada tahun 1939 saat kereta jenazahnya melewati Gapura Gading.

Karena makna simboliknya yang sakral, raja yang masih hidup pantang melewati gerbang selatan istananya. Seorang Susuhunan atau Sultan hanya akan melewati pintu itu setelah wafat.

Dan pada Rabu (5/11), jenazah Sinuhun Pakubuwono XIII dibawa keluar dari Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan kereta kuda, melewati jalur yang sama seperti para leluhurnya.

BACA JUGA  Kraton Yogyakarta Rilis Tutorial Kendhangan Gaya

Perjalanan dimulai dari Kori Kamandungan Kidul, berlanjut ke Kori Brajanala Kidul, melintasi Alun-alun Kidul, dan berakhir di Gapura Gading, gerbang terakhir menuju keabadian. Dari sana, jenazah diberangkatkan ke Astana Imogiri, tempat peristirahatan terakhir raja-raja Mataram. (*/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Turnamen Mini Soccer Cendrawasih Karsa Media Cup 2026, Perkuat Tradisi Kompetisi Antarmedia

PSSI Pers kembali menggelar turnamen mini soccer antarmedia bertajuk Cendrawasih Karsa Media Cup 2026 yang diikuti 16 tim dari berbagai media nasional. Memasuki edisi kelima, turnamen ini menjadi salah satu…

The Longest Wait, Film Kisah di Balik Perjalanan Timnas Indonesia Resmi Tayang

Film dokumenter Timnas Indonesia, The Longest Wait tayang secara eksklusif terbatas di sejumlah bioskop pilihan pada 28 Oktober 2026. Kemudian kisah Timnas Indonesia itu hadir lebih luas di jaringan bioskop…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Polda Jateng Utamakan Edukasi dalam Operasi Patuh Candi 2026

  • October 28, 2026
Polda Jateng Utamakan Edukasi dalam Operasi Patuh Candi 2026

Turnamen Mini Soccer Cendrawasih Karsa Media Cup 2026, Perkuat Tradisi Kompetisi Antarmedia

  • October 27, 2026
Turnamen Mini Soccer Cendrawasih Karsa Media Cup 2026, Perkuat Tradisi Kompetisi Antarmedia

Sri Sultan Persilakan Demo Asal tidak Merusak

  • October 27, 2026
Sri Sultan Persilakan Demo Asal tidak Merusak

The Longest Wait, Film Kisah di Balik Perjalanan Timnas Indonesia Resmi Tayang

  • October 27, 2026
The Longest Wait, Film Kisah di Balik Perjalanan Timnas Indonesia Resmi Tayang

OJK Perketat Pengawasan Pasar Modal

  • October 27, 2026
OJK Perketat Pengawasan Pasar Modal

Polda Jateng Ajak Masyarakat Jaga Persatuan meski Berbeda Pandangan

  • October 27, 2026
Polda Jateng Ajak Masyarakat Jaga Persatuan meski Berbeda Pandangan