Indonesia Pimpin Perlawanan Global Terhadap AMR

WAKIL Menteri Kesehatan (Wamenkes) Prof. Dante Saksono Harbuwono menegaskan, Indonesia kini memegang peran penting sebagai pemimpin kawasan dalam upaya global melawan resistensi antimikroba (AMR).

“Masalah antimikroba adalah komitmen besar saya. Pada 2019, tercatat 1,27 juta kematian di dunia akibat AMR,” ujar Prof. Dante saat membuka International Conference on AMR di Jakarta, Jumat (12/9).

AMR disebut bukan hanya ancaman kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dunia. Data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) 2021 mencatat, di Indonesia terdapat sekitar 36.500 kematian yang dapat diatribusikan pada AMR dan 147.000 kematian yang terkait dengan AMR.

“AMR juga membawa dampak ekonomi yang sangat besar, diperkirakan mencapai 3,4 triliun dolar pada 2030,” tambahnya.

BACA JUGA  Kemenkes: Influenza A(H3N2) Subclade K di RI Terkendali

Pemerintah bersama WHO dan ASEAN berkomitmen memperkuat layanan kesehatan primer, meningkatkan akses obat yang efektif, serta memperluas kemitraan lintas sektor.

Direktur ReAct Asia Pacific, Dr. S.S. Lal, menilai Indonesia telah menunjukkan kepemimpinan kuat di kawasan, meski masih menghadapi tantangan penggunaan antibiotik yang tidak tepat. “Konferensi ini menjadi wadah penting untuk memperkuat aksi bersama,” katanya.

Hal senada disampaikan Direktur ReAct Eropa, Anna Sjöblom. Ia menilai komitmen Indonesia dalam isu AMR bisa menjadi inspirasi bagi dunia. “Pengalaman Indonesia dalam mencegah resistensi antimikroba adalah contoh baik bagi kawasan maupun global,” ucapnya.

Prof. Dante menegaskan, melalui konferensi ini Indonesia menunjukkan diri bukan hanya sebagai negara terdampak, melainkan juga sebagai penggerak solusi global. Dengan dukungan WHO, ASEAN, dan jejaring internasional ReAct, diharapkan laju resistensi antimikroba dapat ditekan sehingga generasi mendatang terlindungi dari ancaman kesehatan global.

BACA JUGA  Ada 356 Pengaduan Perundungan Dokter di RS Vertikal Kemenkes

Sebagai informasi, ReAct merupakan jaringan independen internasional pertama yang fokus pada kompleksitas resistensi antibiotik serta faktor pemicunya.

Sejak awal, ReAct berperan sebagai katalis global dengan mendorong keterlibatan berbagai organisasi, individu, dan pemangku kepentingan dalam menghadapi isu ini. (*/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Hardiknas: Kampus Menjadi Dapur Umum, Kesejahteraan Dosen Masuk Liang Lahat

HARI Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 mestinya menjadi perayaan insan akademis dan para pencerdas anak bangsa. Namun tahun ini, Serikat Pekerja Kampus (SPK) mencatat, negara makin jauh dari…

BMKG Prediksi Sebagian Wilayah RI Diguyur Hujan Hari Ini

POTENSI hujan ringan hingga lebat diprediksi terjadi di sejumlah wilayah di Tanah Air. Hal itu karena adanya kombinasi dinamika atmosfer. Demikian diungkapkan prakirawan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Hardiknas: Kampus Menjadi Dapur Umum, Kesejahteraan Dosen Masuk Liang Lahat

  • May 2, 2026
Hardiknas: Kampus Menjadi Dapur Umum, Kesejahteraan Dosen Masuk Liang Lahat

Iran Siap Kembali Berunding jika AS Setujui Proposal Baru

  • May 2, 2026
Iran Siap Kembali Berunding jika AS Setujui Proposal Baru

BPJPH Ajak LPPOM dan MUI Selalu Bersinergi

  • May 1, 2026
BPJPH Ajak LPPOM dan MUI Selalu Bersinergi

LPPOM Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Festival Syawal

  • May 1, 2026
LPPOM Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Festival Syawal

Menteri UMKM Dorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pulau Rinca

  • May 1, 2026
Menteri UMKM Dorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pulau Rinca

Empat Orang Meninggal dalam Kecelakaan Kereta di Grobogan

  • May 1, 2026
Empat Orang Meninggal dalam Kecelakaan Kereta di Grobogan