Normalisasi Melanggengkan Kekerasan di Lingkungan Kampus

HINGGA saat ini masih banyak terjadi kekerasan di lingkungan kampus, baik yang dilaporkan maupun tidak dilaporkan. Untuk mewujudkan lingkungan akademik yang aman dan inklusif tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga kesadaran, kepedulian, serta partisipasi seluruh sivitas akademika.

Kemendiktisaintek RI mencatat, hingga 2 juni 2026, sebanyak 787 aduan kekerasan baik seksual maupun perundungan di lingkungan perguruan tinggi sepanjang tahun 2026 yang diterima oleh Satuan Tugas Pencegahan dan penanganan kekerasan di Perguruan Tinggi.

Pengajar Fakultas Hukum UGM sekaligus Koordinator Pokja Zero Tolerance Pelecehan, Kekerasan, Perundungan, dan Pelanggaran Lalu Lintas UGM, Sri Wiyanti Eddyono, S.H., LL.M.(HR)., Ph.D., menjelaskan bahwa relasi kuasa, budaya normalisasi, dan ketiadaan akses pelaporan untuk kelanjutan perbuatan menjadi faktor yang sangat berpengaruh di lingkungan kampus yang membuat banyak korban ragu untuk melapor.

BACA JUGA  Wapres Gibran Kecam Kekerasan Seksual di Ponpes Pati

“Kekerasan akan selalu ada di mana ada hierarki di dalamnya. Tanpa disadari, hierarki akan meletakkan seseorang memiliki posisi kuasa yang lebih tinggi dan menggunakannya tanpa niat lebih jauh,” tuturnya dalam talkshow yang bertajuk “Kampus Aman, Inklusif, da Tanpa kekerasan” pada Senin.

Nonfisik berbasis elektronik

Sri Wiyati Eddyono yang akrab disapa Iyi mengemukakan kekerasan tidak hanya bentuk fisik yang terlihat tetapi juga non-fisik berbasis elektronik. Berdasarkan Permendikbudristek No. 55 Tahun 2024, bahkan bentuk kekerasan sudah diperluas yang mencakup kekerasan fisik, psikis, ekonomi, diskriminasi, hingga intoleransi beragama.

Oleh karena itu, kekerasan tidak hanya yang berbentuk fisik saja dan hal ini harus dipahami oleh setiap individu sekaligus dengan setiap sanksinya. Menurutnya, UGM telah mengikuti prosedur tersebut sejak lama dan sudah banyak yang diselesaikan sesuai dengan sanksi yang ditetapkan. “Di UGM tekanannya dalam hal mendidik agar orang tersebut tidak melakukan pelanggaran lagi,” ujarnya.

BACA JUGA  Pemkot Bandung Berkomitmen Entaskan Kasus Kekerasan Seksual

Upaya untuk mencegah kekerasan terjadi di lingkungan kampus dalam individu perlu dipahami batasan perbuatan, berbagi informasi dengan perbuatan yang mungkin berdampak untuk individu lain.

“Institusi atau lembaga dapat menyebarluaskan informasi dalam skala yang lebih besar sehingga masyarakat lebih peduli dengan perbuatan dan konsekuensinya,” ungkapnya.

Kurang memahami batas kekerasan seksual

Sekretaris Health Promoting University (HPU) UGM, Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes., menambahkan berdasarkan survei yang telah dilakukan pihaknya, masih terdapat civitas akademik yang kurang memahami batasan kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Ia mengharapkan sivitas bisa lebih mempelajari, memahami, dan berusaha mewujudkan ruang interaksi yang lebih aman, nyaman, dan inklusif di lingkungan kampus.

BACA JUGA  Polresta Surakarta Tangkap Pelaku Kekerasan Seksual Anak

“Melalui partisipasi aktif dari seluruh civitas UGM dapat menjadikan lingkungan kampus yang nyaman, aman, dan inklusif,” ungkapnya. (AGT/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Memeras WNA

MANTAN Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Wamen Imipas) Silmy Karim didakwa menerima uang senilai Rp1,2 miliar terkait kasus dugaan pemerasan pengurusan izin tinggal warga negara asing (WNA) periode 2021-2026. Jaksa…

Beri Bonus untuk Atlet dan Pelatih, Presiden Ucapkan Terima kasih

PRESIDEN Prabowo Subianto menyerahkan bonus senilai total Rp158,3 miliar kepada para atlet dan pelatih peraih medali Asian Games dan Asian Para-Games Aichi-Nagoya 2026 di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis. Dalam kesempatan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Memeras WNA

  • October 29, 2026
Silmy Karim Didakwa  Terima Rp1,2 Miliar dari Memeras WNA

Beri Bonus untuk Atlet dan Pelatih, Presiden Ucapkan Terima kasih

  • October 29, 2026
Beri Bonus untuk Atlet dan Pelatih, Presiden Ucapkan Terima kasih

Cegah Tabrak Belakang, Polda Jateng Tempeli Truk Stiker Reflektif

  • October 29, 2026
Cegah Tabrak Belakang, Polda Jateng Tempeli Truk Stiker Reflektif

Dilema Pers di Mata KDM; antara Biaya Produksi dan Kebebasan Tanpa Etika

  • October 29, 2026
Dilema Pers di Mata KDM; antara Biaya Produksi dan Kebebasan Tanpa Etika

Kembangkan AI, Indosat Andalkan Kekuatan Bisnis Telekomunikasi

  • October 29, 2026
Kembangkan AI, Indosat Andalkan Kekuatan Bisnis Telekomunikasi

Luncurkan Proyek SHIELD, UGM Kaji Wolbachia dalam Pengendalian Dengue

  • October 29, 2026
Luncurkan Proyek SHIELD, UGM Kaji Wolbachia dalam Pengendalian Dengue