
SEJUMLAH negara mediator regional seperti Qatar, Mesir, dan Pakistan mengajukan proposal gencatan senjata selama 10 hari kepada Amerika Serikat dan Iran.
Menurut sejumlah kabar AS, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat ini sedang mengkaji proposal tersebut. Washington juga meminta Israel untuk menghindari langkah-langkah yang dapat menutup peluang bagi penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Meski demikian, Amerika Serikat secara bersamaan tetap mempersiapkan berbagai langkah antisipasi apabila perundingan tersebut tidak membuahkan hasil.
Di sisi lain, militer Israel dilaporkan telah meningkatkan status kesiagaan dan bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi konflik menjadi kampanye militer berskala penuh dalam beberapa hari ke depan.
Proposal gencatan senjata yang baru itu disebut mencakup penghentian sementara permusuhan, pembukaan kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, serta memberikan kesempatan bagi Washington dan Teheran untuk menyelamatkan nota kesepahaman yang sebelumnya telah disepakati.
Saling serang
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengaku telah menyerang pusat data milik raksasa perdagangan AS, Amazon, di Bahrain sebagai tanggapan atas serangan Amerika Serikat terhadap lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Darkhovin.
“Sebagai balasan atas serangan AS kemarin terhadap fasilitas yang sedang dibangun dan kawasan sipil di wilayah Darkhovin, IRGC telah meluncurkan beberapa rudal jelajah ke infrastruktur pusat data utama milik perusahaan AS Amazon di Bahrain, sehingga mengakibatkan kerusakan yang signifikan,” kata IRGC dalam pernyataan pers pada Selasa.
Sebelumnya pada Minggu (19/7), media melaporkan bahwa militer AS menyerang lokasi pembangunan PLTN di Kota Darkhovin, Iran. Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa mereka tengah menyelidiki laporan tersebut.
Menurut IAEA, mereka kurang meyakini serangan tersebut menimbulkan risiko radiologis. (*/N-01)








