
JUMLAH korban tewas dalam kebakaran terburuk Hong Kong dalam beberapa dekade bertambah menjadi 159 orang setelah seluruh blok hunian yang terdampak selesai diperiksa, Rabu (3/12). Polisi menyebut angka tersebut masih dapat berubah, karena penyidik menemukan “dugaan fragmen tulang manusia” yang masih harus diuji forensik.
Kebakaran dahsyat yang terjadi pekan lalu melalap kompleks Wang Fuk Court di Distrik Tai Po, Hong Kong bagian utara. Peristiwa ini menjadi kebakaran hunian paling mematikan di dunia sejak 1980.
Ratusan warga terus berdatangan ke taman kecil dekat gedung yang hangus tersebut. Mereka meletakkan bunga dan pesan belasungkawa bagi para korban mulai dari bayi berusia 1 tahun hingga warga lanjut usia berumur 97 tahun.
Sejumlah area di taman dihiasi deretan burung bangau kertas berwarna-warni, sementara relawan membagikan kertas dan pena bagi warga yang ingin menulis pesan duka. Warga di menara apartemen yang tidak terdampak diizinkan kembali ke rumah mereka pada Rabu untuk mengambil barang-barang penting.
159 orang meninggal, material renovasi tidak standar
Pihak berwenang sebelumnya mengatakan kebakaran membesar dengan cepat karena gedung yang tengah direnovasi itu menggunakan jaring pelindung yang tidak sesuai standar ketahanan api. Api dengan cepat merambat pada permukaan gedung yang dibalut perancah bambu, jaring pelindung, dan papan busa.
Sekretaris Pengembangan Hong Kong, Bernadette Linn, memerintahkan seluruh bangunan yang sedang menjalani renovasi besar untuk melepas jaring pelindung mereka paling lambat Sabtu ini.
Polisi telah menangkap 15 orang, termasuk pimpinan perusahaan konstruksi, atas dugaan tindak pidana pembunuhan (manslaughter). Enam orang lainnya juga ditangkap terkait alarm kebakaran yang tidak berfungsi saat insiden terjadi.
Seruan Akuntabilitas dan Peringatan dari Pejabat Hong Kong
Dilansir CNA, di tengah duka yang meluas, muncul desakan publik untuk penegakan akuntabilitas dan reformasi sistem keselamatan bangunan.
Pemimpin Hong Kong, John Lee, memperingatkan agar tidak ada pihak yang “memanfaatkan tragedi” untuk melakukan tindakan kriminal.
Badan keamanan nasional yang berada di bawah pemerintah pusat Beijing turut mengecam adanya “kekuatan eksternal” yang dianggap mencoba memanfaatkan bencana ini untuk memicu kekacauan.
“Semua tindakan yang bertujuan mengacaukan Hong Kong akan dicatat dan dikejar sepanjang hidup,” tulis Office for Safeguarding National Security dalam pernyataannya. (*/S-01)









