Penguatan Hutan Adat Jadi Fokus Indonesia di COP30

INDONESIA kembali menegaskan komitmennya memperkuat peran masyarakat hukum adat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan dan aksi iklim global. Pernyataan ini disampaikan dalam forum Local Communities and Indigenous Peoples Platform (LCIPP) di rangkaian perhelatan COP30 UNFCCC di Belém, Brasil.

Delegasi Indonesia menekankan bahwa hutan adat bukan hanya elemen penting dalam menjaga kelestarian ekosistem, tetapi juga ruang hidup masyarakat yang telah merawat kawasan hutan secara turun-temurun. Hutan adat disebut sebagai fondasi kehidupan masyarakat, penjaga ekosistem, pelindung kearifan lokal, sekaligus strategi penyelesaian konflik di kawasan hutan.

Indonesia juga menyoroti peran penting pengetahuan tradisional masyarakat adat, seperti agroforestri, reboisasi, serta pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal, yang berkontribusi besar terhadap ketahanan iklim, keanekaragaman hayati, dan penyerapan karbon. Karena itu, praktik lokal dinilai perlu diterjemahkan ke dalam kebijakan publik agar mendapatkan pengakuan dan perlindungan negara.

BACA JUGA  Parlemen Italia Resmi Dukung Hibah Kapal Induk Garibaldi untuk Indonesia

Delegasi mencontohkan konsep hutan suci seperti larangan harangan, wana ngkiki, hingga kawasan keramat, yang kini diterjemahkan menjadi hutan lindung dalam regulasi nasional.

Pemerintah juga menegaskan komitmen memperluas pengakuan hutan adat melalui Program Perhutanan Sosial. Pada COP30, Menteri Kehutanan mengumumkan target pengakuan 1,4 juta hektare hutan adat dalam empat tahun ke depan. Hingga saat ini, total 70.688 hektare telah ditetapkan secara resmi.

Komitmen tersebut diperkuat hasil studi empiris yang menunjukkan bahwa hutan yang dikelola masyarakat dapat menurunkan laju deforestasi hingga 30–50 persen. Pemerintah juga telah membentuk Satuan Tugas Percepatan Pengakuan Hutan Adat pada Maret 2025 untuk mempercepat implementasi di lapangan.

Selain itu, Indonesia mendorong pengembangan basis data global yang memuat praktik pengelolaan lokal dan kearifan masyarakat adat dari berbagai negara untuk mendukung aksi iklim berbasis pengetahuan tradisional.

BACA JUGA  Saatnya Indonesia Memproduksi Serum Antibisa Ular

Indonesia menyatakan kesiapan terus mendukung platform LCIPP melalui kerja sama pemerintah dan perwakilan masyarakat adat sebagai bagian dari kontribusi terhadap aksi iklim global. (*/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Presiden Prabowo Terima Menlu Singapura di Hambalang

PRESIDEN Prabowo Subianto berkenan menerima Menteri Luar Negeri (Menlu) Singapura Vivian Balakrishnan. Dalam pertemuan yang berlangsung tertutup, Presiden Prabowo menerima Vivian di Hambalang, Jawa Barat pada Rabu. Pertemuan tersebut dilakukan…

Turnamen Mini Soccer Cendrawasih Karsa Media Cup 2026, Perkuat Tradisi Kompetisi Antarmedia

PSSI Pers kembali menggelar turnamen mini soccer antarmedia bertajuk Cendrawasih Karsa Media Cup 2026 yang diikuti 16 tim dari berbagai media nasional. Memasuki edisi kelima, turnamen ini menjadi salah satu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Bekuk Melbourne Victory, Persib Kukuh di Puncak Klasemen ACL 2

  • October 28, 2026
Bekuk Melbourne Victory, Persib Kukuh di Puncak Klasemen ACL 2

Presiden Prabowo Terima Menlu Singapura di Hambalang

  • October 28, 2026
Presiden Prabowo Terima Menlu Singapura di Hambalang

Demi Keadilan, Jumlah Pemain Asiang di League Cup Dibatasi

  • October 28, 2026
Demi Keadilan, Jumlah Pemain Asiang di League Cup Dibatasi

Lulusan S2 UGM Diharap Bisa Berkontribusi Bagi Masyarakat

  • October 28, 2026
Lulusan S2 UGM Diharap Bisa Berkontribusi Bagi Masyarakat

Polda Jateng Utamakan Edukasi dalam Operasi Patuh Candi 2026

  • October 28, 2026
Polda Jateng Utamakan Edukasi dalam Operasi Patuh Candi 2026

Turnamen Mini Soccer Cendrawasih Karsa Media Cup 2026, Perkuat Tradisi Kompetisi Antarmedia

  • October 27, 2026
Turnamen Mini Soccer Cendrawasih Karsa Media Cup 2026, Perkuat Tradisi Kompetisi Antarmedia