
MENTERI Pertanian Andi Amran Sulaiman memborong sejumlah inovasi teknologi pertanian karya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya di lahan kampus ITS, Desa Buncitan, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo.
Langkah itu dilakukan sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap hasil riset kampus untuk mempercepat swasembada pangan nasional.
Dalam kunjungan tersebut, Kementan memborong benih jagung unggul ITS senilai Rp10 miliar untuk dialokasikan pada lahan seluas 13 ribu hektar.
Dibagikan gratis ke petani

Benih tersebut memiliki tingkat produktivitas unggul hingga 10 ton per hektar, melampaui rata-rata nasional. Nantinya, seluruh benih jagung ini akan dibagikan secara gratis kepada para petani.
Selain benih jagung, Mentan Amran juga memesan alat pemanjat kelapa bermesin serta traktor amfibi yang dirancang untuk dapat beroperasi di lahan kering (upland) maupun lahan basah (sawah).
”Hari ini kita langsung beli benih jagung senilai Rp10 miliar untuk 13 ribu hektar. Nanti bibit ini kita bagikan gratis ke petani. Kami bangga pada Pak Rektor ITS, luar biasa karya anak bangsa,” ujar Mentan Amran di lokasi, Rabu (22/7).
Amran menambahkan bahwa pengadaan ini merupakan arahan langsung Presiden untuk memprioritaskan hasil riset perguruan tinggi dalam negeri.
ITS dukung swasembada pangan

Langkah serupa sebelumnya juga telah dilakukan Kementan bersama kampus lain, seperti IPB University untuk benih padi senilai Rp250 miliar, UGM untuk kedelai senilai Rp40 miliar, serta Universitas Hasanuddin untuk pengembangan ayam dan drone pertanian.
Menanggapi hal tersebut, Rektor ITS Prof Dr Bambang Pramujati menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Kementan dan menegaskan komitmen ITS dalam mendukung program swasembada pangan pemerintah.
”Kami insyaallah komit untuk selalu bersama pemerintah mensukseskan program swasembada pangan melalui temuan-temuan inovasi, baik mekanisasi pertanian maupun benih unggul,” kata Bambang.
Gandeng industri manufaktur

Untuk merespons rencana pengadaan dalam skala yang lebih besar di tahun depan, Bambang menyatakan bahwa ITS siap menggandeng pihak industri manufaktur guna memproduksi alat-alat pertanian tersebut secara massal.
”Kampus tidak mungkin bekerja sendiri untuk membangun industri. Begitu ada sinyal positif dari Kementan, kami pasti akan menggandeng industri untuk memproduksi secara massal. Untuk lokasi pabrik nanti melihat seberapa besar kebutuhannya, namun kalau lahan insyaallah kita siap,” jelas Bambang.
Mentan Amran menekankan pentingnya sinergi Triple Helix—kolaborasi antara pemerintah sebagai regulator, akademisi sebagai inovator, dan industri sebagai pengembang—guna memastikan teknologi pertanian dapat diterapkan secara optimal dari hulu ke hilir. (OTW/M-01)






