Ironi Bank Syariah di Negara Berpenduduk Muslim Terbesar di Dunia

PADA 2016 silam perbankan syariah diprediksi mampu menembus pangsa pasar 10%. Namun faktanya prediksi itu gagal.

Meski hidup dan tumbuh di negara dengan jumlah umat Muslim yang terbanyak di dunia, namun mereka masih berkutat pada pangsa pasar di bawah 10%. Kondisi itu menunjukkan meski mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam namun perbankan Islam masih belum menjadi pilihan utama.

Karena itu perlu usaha super ekstra bagi manajemen bank syariah dan pemerintah untuk memajukan perbankan syariah. Di sisi perbankan syariah juga menunjukkan kepatuhan bank syariah terhadap maqashid syariah juga masih rendah.

Hasil penelitian kami menunjukkan masih sangat minim kepatuhan bank syariah terhadap maqashid syariah. Bank syariah lebih mengutamakan kinerja keuangan dibanding kinerja maqashid syariah

Penyebabnya karena kinerja maqashid syariah hanya sebagai imbauan, bukan sebagai kewajiban sehingga kinerja maqashid syariah tidak berpengaruh pada kinerja bank syariah. Bahkan hasil penelitian menunjukkan indek maqasid syariah berhubungan negatif dengan kinerja keuangan.

Sampai saat ini, jumlah perbankan syariah sebanyak 14 bank umum syariah, 20 unit usaha syariah, dan 164 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Berdasarkan Statistik Perbankan Syariah Juni 2024, jumlah aktiva bank syariah pada tahun 2023 sebesar Rp816,4 triliun meningkat 4,38% dari tahun 2022. Dana pihak ketiga tahun 2023 sebesar Rp669,3 triliun meningkat 10% dari tahun sebelumnya dan total pembiayaan tahun 2023 sebanyak Rp560,6 triliun meningkat 11,2% dari tahun sebelumnya.

BACA JUGA  Sekda Jateng Minta TPAKD Perluas Akses Keuangan untuk Masyarakat

Bebas riba

Sejatinya kehadiran bank syariah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan bank yang betul-betul terbebas dari riba. Namun dalam perjalanannya ada beberapa masalah yang menyebabkan bank syariah tidak bisa berkembang sesuai dengan yang diharapkan.

Permasalahan itu di antaranya, pembiayaan murabahah yang menjadi pilihan utama bagi bank syariah sehingga porsinya jauh lebih tinggi dibanding dengan jenis pembiayaan lainnya. Hal ini disebabkan pembiayaan ini sangat sederhana dan mudah dipahami, mempunyai kepastian harga, risiko sangat rendah, namun memenuhi ketentuan syariah karena menggunakan prinsip perdagangan.

Contohnya jika nasabah butuh mobil seharga Rp100 juta, bank akan membeli mobil tersebut kemudian menjualnya kepada nasabah dengan menambah marjin laba misalnya 10% per tahun.

BACA JUGA  Bank Jateng Diminta Genjot Penyaluran Kredit Perumahan Subsidi

Jika nasabah akan mengangsur selama 2 tahun maka angsuran per bulan adalah = {100.000.000 + (2 x 10% x 100.000.000)}/24 = Rp5.000.000,-. Skema ini sama persis dengan konsep bunga pada bank konvensional. Perbedaan utama pada akadnya, jika bank konvensional berupa pinjaman dengan bunga 10% per tahun sementara bank syariah dengan marjin laba.

Mendapat kritik

Skema pembiayaan ini banyak mendapatkan kritik, karena kemiripan dengan konsep bunga pada bank syariah, sehingga hal ini menyebabkan bank syariah dianggap tidak syariah. Namun ada juga yang menganggap pembiayaan murabahah merupakan islamisasi dari produk kredit bank konvensional.

Rata-rata profitabilitas bank umum syariah (BUS) yang diukur dengan return on assets (ROA) sebesar 0,21%, dan BPRS sebesar 1,91% yang menunjukkan profitabilitas bank masih sangat rendah.

Sedangkan permodalan bank yang diukur dengan capital adequacy ratio (CAR) BUS rata-rata 26,38% dan BPRS sebesar 12,71%. Hal ini menunjukkan BUS kurang mampu memanfaatkan modalnya untuk untuk disalurkan, karena permodalan minimum ditetapkan pemerintah hanya sebesar 8%. Hal ini terjadi dikarenakan manajemen BUS kesulitan megatasi kelebihan likuiditas.

BACA JUGA  OJK Jateng Cabut Izin Usaha PT BPRS

Sementara, jika dilihat dari pembiayaan yag diberikan yang dukur dengan financing to deposit ratio (FDR) sudah cukup ideal yakni rata-rata BUS 80,54% dan BPRS 93,69% masih dibawah 100%.

Kredit macet

Kredit macet yag diukur dengan non-performing financing (NPF) untuk BUS cukup baik karena dibawah ketentuan maksimum 5% sementara BPRS risiko pembiayaannya sangat tinggi rata-rata sebesar 7,63% jauh diatas batas maksimum.

Sedangkan tingkat efisiensi yang diukur dengan perbandingan antara biaya operasi dengan pendapatan operasi (BOPO) menunjukkan BUS rata-rata 104,42%, artinya biaya operasinya melebihi pendpatan operasi, dan ini yang menyebabkan profitabilitas BUS sangat kecil, sedangkan BPRS masih ideal.  (AGT/N-01)

Prof. Sutrisno, Guru Besar Ilmu Manajemen Keuangan Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia.

Dimitry Ramadan

Related Posts

Kalog Kirim 1.425 Motor dari Yogyakarta selama Libur Panjang

KAI Logistik (Kalog) berhasil meningkatkan kebutuhan pengiriman sepeda motor di wilayah Yogyakarta selama masa libur panjang pendidikan. Meningkatnya mobilitas mahasiswa dan masyarakat menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan permintaan layanan.…

Prof. Amin Abdullah: Pancasila Harus Hadir Sebagai Etika Keilmuan

GURU Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Dr. M. Amin Abdullah menegaskan pendidikan Pancasila dituntut bertransformasi dan tidak lagi cukup diajarkan sebagai mata kuliah yang berorientasi hafalan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Persib dan Jubelo Kelola 65,4 Ton Sampah Sepanjang Musim 2025/2026

  • July 30, 2026
Persib dan Jubelo Kelola 65,4 Ton Sampah Sepanjang Musim  2025/2026

Sempat Galau, Made Sarmita Selesaikan Program Doktor dengan IPK 4.00

  • July 30, 2026
Sempat Galau, Made Sarmita Selesaikan Program Doktor  dengan IPK 4.00

Puspenerbal Sulap Lahan 400m2 Jadi Kebun Melon Hidroponik

  • July 30, 2026
Puspenerbal Sulap Lahan 400m2 Jadi Kebun Melon Hidroponik

Bekuk PSMS, Persebaya Rebut Tiket ke Semifinal

  • July 29, 2026
Bekuk PSMS, Persebaya Rebut Tiket ke Semifinal

Persija Bermain Imbang dengan Port FC, STY Puas

  • July 29, 2026
Persija Bermain Imbang dengan Port FC, STY Puas

Guru Besar ITB Masuk Bursa Balon Rektor UPN Veteran Yogyakarta

  • July 29, 2026
Guru Besar ITB Masuk Bursa Balon Rektor UPN Veteran Yogyakarta