
INTEGRASI-INTERKONEKSI keilmuan telah lama menjadi identitas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Namun, di tengah perubahan teknologi dan tantangan masyarakat yang semakin kompleks, identitas itu perlu bekerja lebih jauh. Ilmu harus bertemu dengan persoalan nyata, riset digunakan untuk mencari solusi, dan inovasi diarahkan oleh nilai kemanusiaan.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan, dalam Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-75, Senin (28/9/2026), di Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga mengingatkan selama puluhan tahun UIN Sunan Kalijaga membangun tradisi yang mempertemukan ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu sosial, humaniora, sains, teknologi, dan bidang pengetahuan lain.
Pertemuan itu berangkat dari pandangan bahwa ilmu tidak dapat berkembang dalam ruang yang terpisah dari ilmu lain maupun dari kehidupan masyarakat.
Menurut dia, perubahan yang dibawa kecerdasan buatan justru mempertegas relevansi tradisi tersebut.
Bukan pilihan

Masa depan pendidikan tinggi tidak perlu dipandang sebagai pilihan antara humaniora dan teknologi, agama dan sains, ataupun pendidikan yang memperluas cara berpikir dan pendidikan yang menyiapkan keterampilan kerja.
“Kita membutuhkan teknologi, tetapi teknologi yang dibimbing oleh nilai. Kita membutuhkan kompetensi profesional, tetapi kompetensi yang dibangun di atas kemampuan berpikir kritis. Kita membutuhkan inovasi, tetapi inovasi yang mempertimbangkan keadilan dan keberlanjutan. Kita membutuhkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga siap memikirkan kembali dunia kerja dan masyarakat yang mereka masuki,”ujarnya.
Dari pemikiran tersebut, Prof. Noorhaidi menawarkan gagasan intelligent professionalism: profesionalisme yang ditopang pengetahuan luas, kemampuan berpikir mendalam, keterampilan teknologi, kreativitas, dan kesadaran etis.
Seorang guru misalnya, dapat menggunakan AI untuk membuat materi, tetapi tetap harus memahami bagaimana peserta didik belajar, tumbuh, dan membangun karakter.
Contoh serupa berlaku bagi ekonom yang perlu melihat dampak keputusan terhadap kesejahteraan dan keadilan sosial; ahli agama yang membawa nilai-nilai agama untuk menjawab persoalan masyarakat; serta pemimpin yang mempertimbangkan tanggung jawab etis di balik setiap keputusan.
Profesi dan pengabdian
Bagi Prof. Noorhaidi, di situlah pendidikan Integrasi–Interkoneksi menemukan wujudnya dalam profesi dan pengabdian.
Dalam kesempatan yang sama, Rektor juga menyampaikan bagaimana pengetahuan yang dikembangkan universitas dapat bergerak menuju manfaat. Rantai yang ditawarkannya ialah from knowledge to innovation, from innovation to application, from application to impact.
Rektor juga menambahkan satu tujuan yang menurutnya menentukan, yakni from impact to human flourishing, dampak yang membantu manusia dan kehidupannya berkembang.
Karena itu, Prof. Noorhaidi mengajak UIN Sunan Kalijaga menilai keberhasilan dari perubahan yang lahir melalui kehadirannya. Publikasi, peringkat, dan jumlah lulusan tetap menjadi bagian dari capaian akademik. Namun, universitas juga perlu melihat siapa yang memperoleh manfaat dari pengetahuannya, persoalan apa yang berhasil dibantu penyelesaiannya, dan masa depan seperti apa yang ikut dibangun.
Knowledge hub
Dalam pandangannya, UIN Sunan Kalijaga dapat berkembang menjadi knowledge hub yang mempertemukan agama, sains, teknologi, masyarakat, industri, kebijakan publik, dan dunia internasional. Kampus dapat mengembangkan AI sembari memikirkan etika AI; menghasilkan teknologi sambil memperhatikan keadilan sosial; serta memajukan ekonomi dengan kesadaran terhadap keberlanjutan lingkungan.
“Inilah relevansi Integrasi–Interkoneksi Keilmuan pada abad ke-21. Integrasi–Interkoneksi tidak boleh berhenti sebagai paradigma akademik. Ia harus menjadi paradigma transformatif,” ujarnya.
Pada usia ke-75, UIN Sunan Kalijaga telah memiliki sejarah, tradisi keilmuan, sumber daya manusia, jejaring, dan pengakuan global yang menjadi bekal bagi tahap berikutnya.
“Sejarah memberi kita legitimasi. Tradisi memberi kita identitas. Keunggulan akademik memberi kita kredibilitas. Yang harus kita bangun berikutnya adalah dampak. Karena itu, saya ingin mengajak seluruh sivitas akademika UIN Sunan Kalijaga untuk membayangkan sebuah tahap baru perjalanan universitas kita, From Academic Excellence to Global Impact,” ujarnya.
Ilmu hadir dalam kehidupan
Melalui orasi itu, Rektor menempatkan Integrasi–Interkoneksi sebagai jawaban UIN Sunan Kalijaga atas pertanyaan besar pendidikan tinggi. Pada akhirnya, arah menuju dampak global berangkat dari kekuatan yang telah dibangun UIN Sunan Kalijaga.
Keunggulan akademik menjadi fondasi agar ilmu semakin hadir dalam kehidupan. Teknologi dikembangkan dengan perhatian pada kemanusiaan, etika, dan kemaslahatan. Dengan identitas keilmuannya sendiri, UIN Sunan Kalijaga melangkah membawa kontribusi yang manfaatnya dapat dirasakan jauh melampaui kampus. (AGT/M-01)








