
KADAR kolesterol tinggi atau sering disebut disiplidemia dalam darah dapat memicu terjadinya kerusakan pembuluh darah yang menyebabkan penyakit jantung, stroke dan gangguan pada organ hati.
Namun, masyarakat juga harus memahami adanya tiga jenis kolesterol, yakni LDL (Low Density Lipoprotein) atau yang sering disebut kolesterol jahat, HDL (High Density Lipoprotein) atau kolesterol “baik”, dan Trigliserida sebagai jenis lemak yang berasal dari sisa kalori.
Kolesterol, kata Dokter Rumah Sakit Akademik UGM, dr. Gibran Ilham Setiawan, Sp.PD, sebenarnya dibutuhkan tubuh untuk sejumlah fungsi, namun kadar yang berlebihan dan paparan dalam waktu lama dapat berkontribusi terhadap pembentukan plak pada pembuluh darah.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke.
Dibutuhkan tubuh

“Sebenarnya kolesterol itu tetap dibutuhkan tubuh. Kayak bumbu gitu, asal jangan kebanyakan,” papar Gibran dalam edukasi mengenai kolesterol, Senin, di Gedung Pusat UGM.
Dikatakan, tingginya kolesterol tidak selalu berkaitan dengan pola makan atau kurangnya aktivitas fisik. Faktor usia, riwayat keluarga, kondisi kesehatan, dan berbagai faktor risiko lain dapat memengaruhi kadar kolesterol seseorang.
“Bila sudah berupaya memperbaiki gaya hidup namun masih memiliki kadar kolesterol tinggi perlu berkonsultasi untuk mengetahui kondisi yang mendasarinya,” katanya.
Kebiasaan baru
Untuk menghindari kadar kolesterol tinggi, ia menganjurkan membangun kebiasaan baru dengan memantau pola makan, aktivitas fisik, tidur, serta kebiasaan membatasi gorengan, lemak jenuh, dan minuman manis selama 30 hari.
Dokter Gibran mengingatkan obat bukan pengganti perubahan gaya hidup. Penggunaan obat penurun kolesterol perlu mempertimbangkan hasil pemeriksaan dan kondisi setiap pasien, sedangkan kebiasaan sehat tetap menjadi bagian penting dalam pengendalian risiko kesehatan.
“Obat itu bukan pengganti gaya hidup,” tegasnya.
Pemeriksaan kesehatan rutin
Sementara Kepala Biro Pelayanan Kesehatan Terpadu (BPKT) UGM, Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., mengatakan UGM mendorong para sivitas untuk lebih aktif menjaga kadar kolesterol melalui pemeriksaan kesehatan rutin dan perubahan gaya hidup.
Upaya tersebut disampaikan dalam kegiatan edukasi mengenai kolesterol yang digelar bagi staf pendidikan UGM yang memiliki riwayat kadar kolesterol tinggi berdasarkan pemeriksaan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) pada Agustus 2026.
Hasil pemeriksaan Posbindu, ujarnya perlu menjadi pijakan untuk melakukan tindak lanjut, bukan sekadar menjadi catatan kesehatan. Pemeriksaan secara berkala membantu mengenali perubahan kondisi kesehatan sehingga langkah penanganan dapat dilakukan lebih awal.
“Kami ingin mendorong dosen dan tenaga kependidikan melakukan screening rutin,” ujarnya.
Terapkan kebiasaan sehat
Andreasta menjelaskan BPKT UGM mengoordinasikan berbagai layanan kesehatan yang dapat dimanfaatkan sivitas akademika, mulai dari Rumah Sakit Akademik UGM, Gadjah Mada Medical Center (GMC), Klinik Korpagama, hingga layanan promotif dan preventif seperti Posbindu.
Setelah kondisi kesehatan diketahui melalui pemeriksaan, peserta memiliki tanggung jawab untuk menerapkan kebiasaan yang mendukung kesehatan, termasuk mengatur pola makan, aktivitas fisik, pengelolaan stres, dan beban kerja.
“Kita mengajak peserta menerapkan gaya hidup sehat. Ya, pola makan, aktivitas fisik, pengelolaan stres, beban kerja,” kata Andreasta.
Konsultasi gizi
Dokter GMC (Gadjah Mada Medical Center) UGM, dr. Yuniantika, M.P.H., turut menjelaskan layanan yang dapat dimanfaatkan peserta untuk menindaklanjuti hasil pemeriksaan.
Konsultasi gizi di GMC dilakukan secara personal dengan melihat kebiasaan makan, jumlah porsi, kondisi kesehatan, serta penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes.
Dari konsultasi tersebut, peserta dapat memperoleh rencana menu yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan melakukan evaluasi kembali setelah beberapa minggu atau satu bulan.
Fasilitas kesehatan primer
Kepala Klinik Korpagama UGM, dr. Wahyudi Istiono, M.Kes., Sp.KKLP, memperkenalkan layanan klinik sebagai fasilitas kesehatan primer yang dapat menjadi pintu pertama bagi sivitas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Korpagama beroperasi selama 24 jam tanpa hari libur dan menyediakan layanan dokter keluarga, psikologi, skrining kesehatan, serta layanan yang terintegrasi dengan Rumah Sakit Akademik UGM ketika pasien membutuhkan penanganan spesialis.
“Kita sudah melayani Bapak Ibu sekalian mulai dari tahun yang lalu, yaitu 24 jam, tiada hari libur, nonstop,” ujar Wahyudi. (AGT/M-01)








