
DALAM rangka memperingati 20 tahun bencana gempa bumi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, digelar apel kesiapsiagaan di halaman Candi Prambanan, Yogyakarta. Apel ini diikuti oleh unsur BNPB, BPBD, TNI, Polri, serta para relawan kebencanaan.
Peringatan ini menjadi pengingat bahwa Yogyakarta dan Jawa Tengah pernah dilanda gempa besar berkekuatan 5,9 skala Richter yang menyebabkan lebih dari 5.700 orang meninggal dunia. Sekitar 200 ribu rumah dan bangunan mengalami kerusakan, dengan total kerugian mencapai Rp59 triliun.
Dalam kesempatan tersebut turut hadir Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Sementara itu, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam amanat tertulisnya yang dibacakan Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menegaskan bahwa pascabencana, proses rekonstruksi harus dilaksanakan dengan lebih baik, lebih aman, dan lebih inklusif dengan menerapkan prinsip build back better.
Selain itu, kesiapsiagaan bencana harus menjadi bagian dari budaya hidup sehari-hari masyarakat.
Tingkatkan kewaspadaan
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, dalam sambutan tertulis yang dibacakan Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial, Lilik Kurniawan, menyebut apel ini bukan sekadar memperingati dua dekade gempa Jogja–Jateng, namun juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana, termasuk dampak El Nino. (*/M-01)






